Akurat Logo

Gen Z Sulit Mengelola Keuangan? FOMO, Flash Sale, dan Paylater Jadi Penyebab Utamanya

Idham Nur Indrajaya | 25 Juni 2026, 19:24 WIB
Gen Z Sulit Mengelola Keuangan? FOMO, Flash Sale, dan Paylater Jadi Penyebab Utamanya
Gen Z sulit mengelola keuangan? Simak pengaruh FOMO, flash sale, dan paylater terhadap kondisi finansial anak muda Indonesia. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Pernah merasa uang bulanan habis lebih cepat dari yang direncanakan? Atau tiba-tiba membeli barang karena takut kehabisan promo meski sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan? Fenomena seperti ini semakin sering terjadi di kalangan generasi muda yang hidup di tengah kemudahan teknologi digital.

Di satu sisi, berbagai layanan keuangan digital membuat transaksi menjadi lebih cepat dan praktis. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Tidak sedikit anak muda yang mengalami kesulitan mengelola keuangan akibat kombinasi antara FOMO (fear of missing out), godaan flash sale, hingga penggunaan paylater yang kurang bijak.

Fenomena ini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk PT Plus Ultra Abadi (UATAS), yang baru-baru ini mengangkat isu tersebut dalam program Pindar Mengajar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) di Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Islam Malang (UNISMA), Rabu, 24 Juni 2026.

Mengapa Gen Z Semakin Sulit Mengelola Keuangan?

Secara sederhana, Gen Z sering kesulitan mengelola keuangan bukan hanya karena pendapatan yang terbatas. Tantangan utama justru datang dari perubahan perilaku konsumsi yang dipengaruhi media sosial, kemudahan transaksi digital, budaya instan, dan tekanan sosial untuk selalu mengikuti tren.

Beberapa faktor yang paling sering memengaruhi kondisi finansial generasi muda antara lain:

  • FOMO terhadap tren terbaru.

  • Kebiasaan belanja impulsif.

  • Kemudahan pembayaran digital.

  • Penggunaan paylater tanpa perencanaan.

  • Kurangnya kebiasaan membuat anggaran.

  • Rendahnya evaluasi pengeluaran secara berkala.

Masalahnya, banyak anak muda tidak merasa sedang mengeluarkan uang ketika bertransaksi secara digital. Berbeda dengan pembayaran tunai yang membuat seseorang melihat langsung uangnya berkurang, transaksi digital sering kali terasa lebih "tidak terlihat" sehingga pengeluaran menjadi lebih sulit dikontrol.

Bagaimana FOMO Membentuk Kebiasaan Konsumtif Anak Muda?

FOMO atau fear of missing out sebenarnya bukan fenomena baru. Namun kehadiran media sosial membuat dampaknya semakin besar.

Setiap hari, pengguna media sosial disuguhi berbagai konten yang menampilkan gaya hidup, produk terbaru, tempat nongkrong populer, hingga tren fashion yang sedang viral. Tanpa disadari, hal tersebut menciptakan tekanan sosial untuk ikut memiliki atau mencoba hal yang sama.

Dalam kegiatan Pindar Mengajar di UNISMA, Direktur Pengembangan Bisnis UATAS Shintya Maulida menyoroti persoalan ini sebagai salah satu tantangan utama generasi muda saat ini.

“Di tengah kemudahan digitalisasi sekarang, nyatanya juga memberi tantangan pada generasi muda kaitannya dalam pengelolaan keuangan. Salah satunya sikap gengsi dan FOMO (fear of missing out), lalu kemudahan akses transaksi digital dan impulse buying termasuk di dalamnya tren flash sale dan paylater pun turut menjadi penyebab utama masyarakat kurang bijaksana dalam menggunakan uangnya,” kata Shintya melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Kamis, 25 Juni 2026.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa persoalan keuangan anak muda saat ini tidak semata-mata terkait kemampuan menghasilkan uang. Tantangan yang lebih besar justru terletak pada kemampuan mengendalikan dorongan konsumsi yang terus dipicu oleh lingkungan digital.

Flash Sale dan Diskon Besar, Benarkah Membantu Berhemat?

Banyak orang menganggap diskon identik dengan penghematan. Padahal dalam praktiknya, tidak selalu demikian.

Strategi flash sale dirancang untuk menciptakan rasa urgensi. Konsumen diberi waktu terbatas sehingga terdorong mengambil keputusan dengan cepat tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya.

Misalnya, seseorang melihat sepatu yang semula dijual Rp600 ribu kemudian didiskon menjadi Rp350 ribu. Secara psikologis, ia merasa "hemat" Rp250 ribu.

Padahal jika sepatu tersebut tidak dibutuhkan, maka yang terjadi sebenarnya adalah pengeluaran tambahan sebesar Rp350 ribu.

Inilah paradoks yang sering terjadi dalam perilaku konsumsi digital. Banyak orang merasa sedang menghemat uang ketika sebenarnya sedang menambah pengeluaran.

Fenomena ini semakin relevan bagi Gen Z yang tumbuh bersama e-commerce, notifikasi promo, dan algoritma yang terus menampilkan produk sesuai minat pengguna.

Baca Juga: Usung Tata Kelola Kuat, AFTECH Siap Cetak Tech Champions Baru di Sektor Fintech Indonesia

Baca Juga: Aduan Fintech di Jogja Melonjak, OJK dan Samir Gencarkan Edukasi Bahaya Pinjol Ilegal

Apakah Paylater Penyebab Utama Masalah Keuangan?

Paylater sering menjadi pihak yang paling disalahkan ketika muncul masalah keuangan. Namun kenyataannya, persoalan tersebut lebih kompleks.

Paylater pada dasarnya hanyalah alat pembayaran. Sama seperti kartu kredit atau pinjaman lainnya, manfaat maupun risikonya bergantung pada cara penggunaannya.

Sudut pandang yang sering terlewat adalah bahwa masalah utama bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada perilaku penggunanya.

Jika digunakan untuk kebutuhan produktif dan disesuaikan dengan kemampuan membayar, paylater dapat menjadi instrumen keuangan yang membantu. Sebaliknya, jika digunakan untuk memenuhi keinginan sesaat, risiko masalah keuangan akan meningkat.

Shintya menegaskan bahwa keputusan mengambil pinjaman harus didasarkan pada kebutuhan yang jelas dan kemampuan membayar.

Menurutnya, penggunaan dana pinjaman untuk kebutuhan produktif juga perlu disesuaikan dengan tenor dan target pemasukan yang realistis.

Pandangan ini penting karena menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan mengetahui produk keuangan, tetapi juga memahami kapan dan bagaimana produk tersebut digunakan secara tepat.

Mengapa Literasi Keuangan Belum Mampu Mengejar Pertumbuhan Keuangan Digital?

Salah satu fakta menarik yang muncul dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 adalah adanya jarak antara tingkat literasi dan tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia.

Data OJK dan BPS menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat mencapai 66,46%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 80,51%.

Sekilas angka tersebut terlihat positif. Namun jika ditelaah lebih dalam, terdapat paradoks yang perlu menjadi perhatian.

Artinya, akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan berkembang lebih cepat dibanding kemampuan mereka memahami cara menggunakannya secara optimal.

Dengan kata lain, semakin banyak orang yang bisa menggunakan layanan keuangan digital, tetapi belum tentu memahami risiko, manfaat, dan konsekuensi dari keputusan finansial yang mereka ambil.

Bagi Indonesia yang memiliki sekitar 75 juta Gen Z atau hampir 28% dari total populasi menurut data BPS 2025, kondisi ini menjadi tantangan besar sekaligus peluang.

Perilaku keuangan generasi muda hari ini akan sangat menentukan kualitas kesehatan finansial nasional pada masa mendatang.

Simulasi: Bagaimana Impulse Buying Menggerus Uang Bulanan Mahasiswa?

Bayangkan seorang mahasiswa memiliki uang bulanan sebesar Rp2,5 juta.

Pengeluaran rutin:

  • Kos: Rp800 ribu

  • Makan: Rp900 ribu

  • Transportasi: Rp300 ribu

Sisa dana yang tersedia sekitar Rp500 ribu.

Kemudian dalam satu bulan ia melakukan beberapa transaksi:

  • Headset diskon flash sale: Rp150 ribu

  • Nongkrong tambahan karena ajakan teman: Rp100 ribu

  • Merchandise tren media sosial: Rp150 ribu

  • Aksesori gadget melalui paylater: Rp200 ribu

Total pengeluaran tambahan mencapai Rp600 ribu.

Awalnya transaksi tersebut terasa ringan karena sebagian dibayar menggunakan paylater. Namun ketika tagihan datang pada bulan berikutnya, anggaran yang tersedia semakin berkurang.

Inilah pola yang sering terjadi di lapangan. Bukan satu transaksi besar yang menyebabkan masalah, melainkan akumulasi banyak pengeluaran kecil yang dianggap sepele.

Tips Mengendalikan FOMO dan Belanja Impulsif Menurut UATAS

Dalam kegiatan edukasi di UNISMA, UATAS memberikan sejumlah tips praktis yang dapat diterapkan generasi muda untuk menjaga kesehatan keuangan.

Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:

1. Membuat anggaran bulanan

Anggaran membantu seseorang mengetahui batas pengeluaran yang aman setiap bulan.

2. Menentukan batas belanja

Tidak semua promo harus dimanfaatkan. Menetapkan batas pengeluaran dapat mengurangi risiko pembelian impulsif.

3. Menghindari belanja saat emosional

Banyak keputusan pembelian terjadi ketika seseorang sedang stres, sedih, atau justru terlalu bersemangat.

4. Melakukan evaluasi rutin

Mengecek kembali pengeluaran setiap bulan membantu mengidentifikasi kebocoran anggaran yang sering tidak disadari.

Shintya menjelaskan pentingnya membangun kebiasaan finansial sehat sejak usia muda.

“Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, mahasiswa memiliki peluang besar untuk memanfaatkan berbagai layanan digital secara produktif. Namun di saat yang sama, mereka juga perlu memahami risiko yang menyertainya agar dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Apa Dampaknya Jika Kebiasaan Ini Dibiarkan?

Kesulitan mengelola keuangan pada usia muda tidak hanya berdampak pada kondisi saat ini.

Dalam jangka panjang, kebiasaan konsumtif dapat menghambat berbagai tujuan finansial penting, seperti:

  • Membentuk dana darurat.

  • Mulai berinvestasi.

  • Menyiapkan biaya pendidikan lanjutan.

  • Membeli rumah.

  • Membangun usaha.

  • Mencapai financial wellness.

Menariknya, financial wellness tidak selalu ditentukan oleh besarnya penghasilan.

“Kebebasan finansial atau financial wellness tidak hanya diukur dari besarnya penghasilan yang dimiliki seseorang, tetapi juga dari kemampuan mengatur pendapatan, mengelola pengeluaran, menyusun prioritas, serta mempersiapkan kebutuhan di masa depan,” ujar Shintya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan finansial lebih banyak ditentukan oleh kebiasaan dibanding jumlah pendapatan semata.

Kesimpulan

FOMO, flash sale, dan paylater bukanlah musuh utama generasi muda. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengelola ketiga faktor tersebut secara bijak di tengah derasnya arus digitalisasi.

Data menunjukkan akses terhadap layanan keuangan terus meningkat. Namun tanpa literasi yang memadai, kemudahan tersebut justru dapat memicu perilaku konsumtif yang merugikan dalam jangka panjang.

Karena itu, edukasi seperti yang dilakukan UATAS melalui program Pindar Mengajar menjadi semakin relevan. Bukan hanya untuk memperkenalkan produk keuangan, tetapi juga membangun kesadaran bahwa keputusan finansial terbaik sering kali bukan tentang menghasilkan lebih banyak uang, melainkan tentang mengelola uang yang sudah dimiliki dengan lebih cerdas.

Baca Juga: Pendanaan Pindar Kini Didominasi Bank, Apa Dampaknya bagi UMKM dan Masa Depan Kredit Digital Indonesia?

Baca Juga: TWP90 Fintech Lending Naik, 19 Pinjol Catat Kredit Macet di Atas 5 Persen

FAQ

Mengapa Gen Z sulit menabung?

Gen Z sering menghadapi tekanan konsumsi dari media sosial, tren digital, dan kemudahan transaksi online. Kombinasi faktor tersebut membuat pengeluaran lebih sulit dikendalikan sehingga kemampuan menabung menjadi berkurang.

Apakah paylater selalu berdampak buruk?

Tidak. Paylater dapat membantu jika digunakan sesuai kebutuhan dan kemampuan membayar. Risiko muncul ketika digunakan secara berlebihan untuk kebutuhan konsumtif tanpa perencanaan keuangan yang matang.

Bagaimana cara menghindari impulse buying?

Beberapa cara efektif adalah membuat daftar belanja, menunggu 24 jam sebelum membeli barang non-prioritas, menetapkan anggaran bulanan, dan menghindari keputusan belanja saat emosional.

Apa hubungan FOMO dengan kondisi keuangan?

FOMO mendorong seseorang membeli barang atau mengikuti tren karena takut tertinggal dari lingkungan sosialnya. Akibatnya, keputusan finansial sering didasarkan pada emosi, bukan kebutuhan.

Mengapa literasi keuangan penting bagi mahasiswa?

Literasi keuangan membantu mahasiswa memahami cara mengelola pendapatan, mengatur pengeluaran, menghindari utang berlebihan, dan mempersiapkan masa depan finansial sejak dini.

Apa yang dimaksud dengan financial wellness?

Financial wellness adalah kondisi ketika seseorang mampu mengelola keuangan dengan baik, memenuhi kebutuhan saat ini, dan tetap memiliki kesiapan untuk menghadapi kebutuhan masa depan tanpa tekanan finansial berlebihan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.