Akurat Logo

IHSG Berpotensi Uji Level 5.700, Pasar Nantikan Tiga Data Ekonomi Pekan Ini

Esha Tri Wahyuni | 29 Juni 2026, 07:30 WIB
IHSG Berpotensi Uji Level 5.700, Pasar Nantikan Tiga Data Ekonomi Pekan Ini
ilustrasi IHSG

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada awal perdagangan Senin (29/6/2026) dengan peluang menguji area 5.700-5.800.

Setelah terkoreksi 1,72% ke level 5.896,1 pada penutupan Jumat (26/6/2026), perhatian pelaku pasar kini tidak lagi hanya tertuju pada sentimen global, tetapi juga pada tiga indikator ekonomi domestik yang akan dirilis pekan ini, yakni PMI Manufaktur Indonesia, inflasi Juni, dan neraca perdagangan.

Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya menyebut secara teknikal IHSG telah ditutup di bawah rata-rata pergerakan lima hari (MA5), 10 hari (MA10), dan 20 hari (MA20).

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Sideways usai Rebound, Level 6.000 Jadi Ujian

Sementara itu, histogram MACD mulai melemah dan indikator Stochastic RSI bergerak memasuki area pivot. Berdasarkan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan berpeluang menguji rentang 5.700-5.800 pada perdagangan pekan depan.

Senada, MNC Sekuritas memperkirakan tekanan jual masih berpotensi berlanjut dengan area pengujian berada pada kisaran 5.723-5.784. Adapun jika terjadi rebound jangka pendek, ruang penguatan diperkirakan terbatas di area 5.912 hingga 5.937. Untuk strategi perdagangan, MNC Sekuritas merekomendasikan saham BULL, CUAN, JSMR, dan WIIM sebagai pilihan trading pekan depan.

Tekanan terhadap IHSG pada perdagangan Jumat dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Bursa saham Asia dan Eropa melemah setelah aksi jual pada saham-saham teknologi meningkat di tengah kekhawatiran investor terhadap melonjaknya biaya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Koreksi sektor teknologi kemudian menekan harga logam dunia sehingga menyeret saham-saham berbasis komoditas.

Data perdagangan menunjukkan sektor barang baku menjadi penyumbang koreksi terbesar dengan penurunan sekitar 5%. Sebaliknya, sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis sebesar 0,03%.

Baca Juga: IHSG Anjlok 3,5 Persen ke 5.883, Sentimen MSCI Tekan Pasa

Di tengah tekanan pasar saham, nilai tukar rupiah justru mencatat penguatan sebesar 0,04% ke posisi Rp17.918 per USD pada Jumat.

Penguatan tersebut didorong oleh operasi moneter Bank Indonesia melalui lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang membantu menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.