Harga Emas Dekati Rekor Historis, Sinyal Pasar Kian Kritis

AKURAT.CO Harga emas global berada di ambang kenaikan bulanan kedelapan berturut-turut, sebuah capaian yang berpotensi menjadi rekor terpanjang sepanjang sejarah perdagangan logam mulia tersebut.
Namun, sejumlah indikator makroekonomi dan pasar keuangan menunjukkan reli ini mulai memasuki fase kritis.
Data pasar menunjukkan harga emas spot (XAU) telah mencatat tujuh bulan berturut-turut di zona hijau. Proyeksi dari platform prediksi Kalshi memperkirakan peluang berlanjutnya tren positif hingga bulan kedelapan tetap terbuka.
Baca Juga: Harga Emas di Pegadaian Terbaru, 6 Februari 2026: Galeri24 dan UBS Turun harga
Dikutip dari BeinCrypto, Senin (23/2/2026) Kepala Ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, memperingatkan bahwa risiko pasar global sedang meningkat.
“Valuasi sangat tinggi… para investor pada dasarnya hanya berinvestasi dengan keyakinan bahwa harga akan naik dengan cepat di masa mendatang karena memang baru-baru ini juga demikian,” kata Zandi.
Data Makro Jadi Sorotan
Secara fundamental, kondisi ekonomi Amerika Serikat menunjukkan sinyal campuran. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil AS tercatat sedikit di atas 2%, masih di bawah estimasi potensi ekonomi sekitar 2,5%.
Sementara itu, inflasi yang diukur melalui deflator Personal Consumption Expenditures (PCE)—indikator pilihan The Federal Reserve bertahan di kisaran 3%, di atas target bank sentral sebesar 2%.
Tingkat pengangguran juga dilaporkan mulai merangkak naik, menambah tekanan terhadap prospek ekonomi.
Baca Juga: Harga Emas Global Menuju USD3.950 Karena 7 Faktor Berikut
Zandi menilai kombinasi perlambatan pertumbuhan, inflasi tinggi, serta tekanan geopolitik dapat memicu volatilitas lintas aset.
“Tidak sulit membayangkan mereka akan berbondong-bondong keluar secara bersamaan, sehingga suku bunga melonjak,” ujarnya, merujuk pada potensi aksi keluar hedge fund dari pasar obligasi AS.
Jika reli delapan bulan tercapai, itu akan menjadi yang terpanjang dalam sejarah modern emas. Sepanjang dekade terakhir, tren kenaikan beruntun umumnya berlangsung lebih pendek akibat fluktuasi suku bunga global.
Data cadangan internasional juga menunjukkan perubahan signifikan. Untuk pertama kalinya sejak 1996, bank sentral global kini menyimpan emas lebih banyak dibandingkan obligasi pemerintah AS (US Treasury) dalam cadangan devisa mereka.
Langkah ini dinilai sebagai strategi lindung nilai terhadap risiko mata uang fiat dan ketidakpastian geopolitik, termasuk ketegangan tarif dagang serta konflik di Timur Tengah.
Analis Bank of America, Michael Hartnett, bahkan menyarankan investor untuk tetap memiliki emas sebagai proteksi jangka panjang.
Risiko dari Sisi Pasokan dan Teknikal
Di sisi pasokan, laporan pasar menyebutkan terjadi kelangkaan emas batangan di China pasca libur Tahun Baru Imlek. Sejumlah toko emas menghentikan penjualan akibat keterbatasan stok.
Sentimen ini sempat mendorong spekulasi ekstrem, termasuk proyeksi harga menuju USD10.000 per ons dalam skenario krisis pasokan. Namun, analis teknikal mengingatkan adanya level resistance di kisaran USD5.160 serta gap harga di sekitar USD5.100 yang berpotensi memicu tekanan jual jika ditembus ke bawah.
Bagi investor, reli panjang emas memperkuat posisinya sebagai safe haven di tengah ketidakpastian global. Namun, valuasi yang tinggi dan meningkatnya risiko sistemik membuat potensi koreksi jangka pendek tetap terbuka.
Pasar saham dan obligasi korporasi dinilai lebih rentan terhadap aksi jual besar, tetapi emas dan aset kripto juga tidak sepenuhnya imun dari volatilitas jika terjadi tekanan likuiditas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










