Menara Syariah PIK2 Angkat Peran AI untuk Keuangan Syariah yang Berkelanjutan

AKURAT.CO Perkembangan Artificial Intelligence atau AI terus memunculkan pertanyaan baru bagi industri keuangan.
Teknologi tidak lagi hanya dipandang sebagai alat untuk mempercepat layanan, tetapi juga perlu diarahkan agar mampu menciptakan sistem yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan.
Isu tersebut menjadi perhatian dalam International Symposium on Islamic Finance 2026 yang digelar Menara Syariah bersama Universiti Islam Sultan Sharif Ali atau UNISSA di Menara Syariah PIK2.
Mengusung tema Sustainability, Artificial Intelligence, and Maqasid al-Syariah in Finance, simposium itu mempertemukan akademisi, cendekiawan, praktisi, hingga pelaku industri keuangan syariah.
Forum tersebut membahas bagaimana perkembangan AI dapat berjalan searah dengan prinsip Maqasid al-Syariah atau tujuan-tujuan utama syariat dalam kehidupan manusia.
Tema itu tetap relevan setelah kegiatan berlangsung. Pasalnya, penggunaan teknologi digital terus berkembang di berbagai sektor, termasuk layanan keuangan.
Kondisi tersebut membuat pembahasan mengenai etika, keadilan, dan keberlanjutan menjadi semakin penting.
AI diharapkan tidak hanya menjadi alat pendukung dalam sistem keuangan, tetapi juga mampu mendorong lahirnya inovasi yang tetap berpihak pada nilai kemaslahatan.
Baca Juga: Benarkah Indonesia Sedang Mengalami "Ekonomi Mahal"?
Assistant Professor Universiti Islam Sultan Sharif Ali, Dr. Kamarussalam Yusof, menilai, simposium seperti ini perlu terus digelar karena memberi ruang bagi mahasiswa dan praktisi untuk memahami isu keuangan syariah dari sudut pandang yang lebih luas.
“Simposium hari ini sangat bermakna. Ini pertama kali kami diundang oleh pihak berotoritas di Menara Syariah Indonesia dari Brunei untuk menyampaikan pandangan,” ujar Kamarussalam.
Menurut dia, forum akademik dan industri dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan, terutama saat keuangan syariah menghadapi perubahan teknologi yang bergerak cepat.
“Simposium seperti ini perlu selalu diadakan karena sangat bermanfaat untuk membuka pemikiran para pelajar dan praktisi di bidang keuangan agar pandangan mereka lebih terbuka terhadap isu-isu syariah,” katanya.
Kamarussalam menilai perkembangan teknologi perlu direspons dengan kesiapan pengetahuan yang memadai.
Mahasiswa, praktisi, dan pelaku industri perlu memahami bahwa inovasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan sistem, tetapi juga dampaknya bagi masyarakat.
Melalui simposium ini, pembahasan AI tidak ditempatkan sebagai isu teknologi semata.
AI dipandang sebagai bagian dari perubahan yang perlu diarahkan agar tetap sejalan dengan prinsip keadilan, keberlanjutan, dan nilai-nilai syariah.
Baca Juga: OJK Apresiasi Dukungan Bank Jakarta dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







