Akurat Logo

Nasabah Bank Jago Bertambah Hampir 3 Juta Hanya dalam Setahun, Apa Rahasia Pertumbuhannya?

Idham Nur Indrajaya | 23 Juli 2026, 11:27 WIB
Nasabah Bank Jago Bertambah Hampir 3 Juta Hanya dalam Setahun, Apa Rahasia Pertumbuhannya?
Nasabah Bank Jago mencapai 20,1 juta per Juni 2026. Simak strategi yang mendorong pertumbuhan hampir 3 juta pengguna dalam setahun. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Di tengah persaingan bank digital yang semakin ketat, menarik perhatian masyarakat untuk membuka rekening baru bukan lagi perkara mudah. Banyak pemain berlomba menawarkan bunga tinggi, bebas biaya transfer, hingga promo cashback. Namun, mempertahankan pertumbuhan pengguna secara konsisten membutuhkan lebih dari sekadar promosi. Dibutuhkan layanan yang benar-benar menyatu dengan aktivitas finansial sehari-hari.

Hal itulah yang tercermin dari pertumbuhan nasabah Bank Jago. Hingga akhir Juni 2026, bank berbasis teknologi ini telah melayani 20,1 juta nasabah, bertambah hampir 3 juta pengguna dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 17,2 juta nasabah. Peningkatan tersebut tidak hanya menunjukkan semakin besarnya basis pengguna, tetapi juga memperlihatkan bagaimana strategi membangun ekosistem digital mulai memberikan hasil nyata.

Berdasarkan keterangan resmi Bank Jago yang dirilis pada 23 Juli 2026, lonjakan jumlah nasabah tersebut turut mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), penyaluran kredit, hingga laba bersih perusahaan. Dengan kata lain, pertambahan pengguna bukan sekadar angka statistik, melainkan menjadi fondasi bagi pertumbuhan bisnis secara keseluruhan.

Jumlah Nasabah Bank Jago per Juni 2026

Bagi Anda yang ingin mengetahui perkembangan terbaru Bank Jago, berikut ringkasan kinerjanya pada semester I-2026.

  • Jumlah nasabah: 20,1 juta

  • Pengguna Aplikasi Jago: 14,7 juta

  • Pertumbuhan nasabah: hampir 3 juta dalam setahun

  • Dana Pihak Ketiga (DPK): Rp27,6 triliun, naik 23% yoy

  • Penyaluran kredit: Rp26,6 triliun, meningkat 24% yoy

  • Laba bersih setelah pajak (NPAT): Rp189 miliar, tumbuh 49% yoy

  • Aset: Rp41,4 triliun, meningkat 28% yoy

  • NPL gross: 0,8%

  • CAR: 28,4%

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan Bank Jago berlangsung secara menyeluruh. Penambahan nasabah diikuti peningkatan dana yang dihimpun, ekspansi kredit, hingga profitabilitas, sehingga memperkuat fundamental perusahaan.

Mengapa Nasabah Bank Jago Bertambah Hampir 3 Juta dalam Setahun?

Bertambahnya hampir 3 juta nasabah dalam waktu satu tahun bukanlah pencapaian yang bisa dilepaskan dari perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan layanan keuangan digital.

Jika beberapa tahun lalu bank digital lebih dikenal karena menawarkan rekening tanpa biaya administrasi atau promo pembukaan rekening, kini pengguna cenderung mencari layanan yang mampu mengintegrasikan berbagai kebutuhan finansial dalam satu ekosistem. Mulai dari menabung, bertransaksi, hingga berinvestasi, semuanya diharapkan dapat dilakukan dengan cepat dan tanpa harus berpindah aplikasi.

Di sinilah strategi Bank Jago terlihat berbeda. Pertumbuhan jumlah pengguna tidak semata-mata didorong oleh ekspansi produk perbankan konvensional, tetapi juga melalui kolaborasi dengan berbagai mitra ekosistem digital yang telah memiliki basis pengguna besar.

Direktur Utama Bank Jago, Arief Harris, mengatakan bahwa inovasi produk dan kolaborasi menjadi fondasi utama pertumbuhan perusahaan.

"Sebagai bank berbasis teknologi, pertumbuhan bisnis ini tidak lepas dari inovasi produk dan layanan kami serta kolaborasi kuat dengan mitra ekosistem strategis. Dengan begitu kami mampu menghadirkan solusi keuangan yang relevan bagi berbagai segmen nasabah, sekaligus membangun fundamental yang solid untuk pertumbuhan di masa depan," ujar Arief Harris melalui catatan tertulis yang diterima awak media, Kamis, 23 Juli 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa strategi Bank Jago tidak hanya berfokus mengejar jumlah rekening baru. Yang lebih penting adalah membangun layanan yang tetap digunakan oleh nasabah dalam aktivitas finansial sehari-hari.

Pertumbuhan Nasabah Bukan Sekadar Angka

Salah satu kesalahan yang sering muncul ketika membaca laporan keuangan perbankan adalah melihat jumlah nasabah hanya sebagai indikator popularitas sebuah bank. Padahal, dalam industri perbankan digital, pertumbuhan pengguna memiliki implikasi yang jauh lebih luas.

Semakin banyak nasabah yang aktif menggunakan layanan, semakin besar pula potensi dana yang masuk ke dalam sistem perbankan. Dana tersebut kemudian dapat dikelola menjadi sumber pembiayaan baru, sehingga menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan.

Fenomena ini terlihat pada kinerja Bank Jago selama semester I-2026. Seiring bertambahnya jumlah nasabah, total dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun meningkat menjadi Rp27,6 triliun atau naik 23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menariknya lagi, lebih dari separuh DPK berasal dari current account and savings account (CASA) yang mencapai Rp14,6 triliun atau sekitar 53% dari total dana pihak ketiga. Komposisi dana murah seperti ini umumnya menjadi indikator positif karena memberikan ruang bagi bank untuk menjaga efisiensi biaya pendanaan sekaligus mendukung ekspansi bisnis.

Di sisi lain, peningkatan jumlah nasabah juga diikuti pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 24% menjadi Rp26,6 triliun. Meski agresif menyalurkan pembiayaan, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) gross sebesar 0,8%, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan nasional.

Interpretasi data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pengguna Bank Jago tidak hanya menghasilkan lebih banyak rekening, tetapi juga memperbesar aktivitas ekonomi di dalam ekosistemnya. Semakin banyak nasabah yang menyimpan dana, bertransaksi, hingga mengakses pembiayaan, semakin kuat pula fondasi bisnis yang dibangun perusahaan.

Berbeda dengan fase awal perkembangan bank digital yang banyak mengandalkan promosi untuk menarik pengguna baru, pertumbuhan Bank Jago kini mulai menunjukkan karakter yang lebih matang. Basis nasabah yang terus bertambah dibarengi dengan peningkatan dana, kredit, dan laba, sehingga mencerminkan bahwa pengguna tidak hanya datang untuk mencoba aplikasi, tetapi juga memanfaatkannya sebagai bagian dari aktivitas finansial mereka.

Baca Juga: KPK Periksa Dua Saksi dari Internal Bank BJB di Kasus Korupsi Pengadaan Iklan

Baca Juga: Perkuat Layanan BNPL, Indodana Finance Kantongi Pendanaan Rp1,5 Triliun dari Bank BCA

Bagaimana Ekosistem Digital Menjadi Mesin Pertumbuhan Bank Jago?

Salah satu faktor yang membedakan Bank Jago dengan banyak bank lain adalah pendekatan bisnisnya. Jika bank konvensional selama bertahun-tahun mengandalkan perluasan jaringan kantor cabang untuk menjangkau lebih banyak nasabah, Bank Jago justru membangun pertumbuhan melalui kolaborasi dengan berbagai platform digital yang sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Strategi ini membuat layanan perbankan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan hadir sebagai bagian dari aktivitas pengguna ketika menabung, berinvestasi, atau mengajukan pembiayaan. Dengan kata lain, bank tidak menunggu nasabah datang, tetapi hadir di dalam ekosistem yang telah digunakan nasabah.

Salah satu kolaborasi yang paling menonjol adalah integrasi dengan platform investasi Bibit dan Stockbit. Hingga akhir Juni 2026, lebih dari 3,6 juta nasabah Aplikasi Jago telah terhubung dengan kedua platform tersebut.

Melalui integrasi ini, pengguna dapat menghubungkan rekening Bank Jago secara langsung untuk membeli reksa dana, obligasi, maupun saham tanpa harus melalui proses transfer yang berulang. Pengalaman yang lebih praktis inilah yang menjadi nilai tambah dibandingkan layanan perbankan yang masih mengharuskan pengguna berpindah aplikasi untuk menyelesaikan transaksi investasi.

Mengapa Integrasi Ekosistem Penting?

Dalam beberapa tahun terakhir, perilaku masyarakat dalam mengelola keuangan mengalami perubahan. Banyak pengguna tidak lagi memisahkan aktivitas menabung, bertransaksi, dan berinvestasi dalam platform yang berbeda.

Sebagai ilustrasi, seorang pekerja muda yang menerima gaji melalui rekening Bank Jago dapat langsung mengalokasikan dana ke dalam "kantong" (pockets) sesuai kebutuhan, membayar tagihan bulanan, lalu menginvestasikan sebagian penghasilannya ke reksa dana atau saham melalui Bibit maupun Stockbit yang sudah terhubung dengan rekening tersebut.

Proses yang lebih ringkas ini mengurangi hambatan dalam bertransaksi. Semakin sering pengguna memanfaatkan layanan dalam satu ekosistem, semakin tinggi pula kemungkinan mereka tetap menggunakan aplikasi tersebut dalam jangka panjang.

Inilah yang menjadi salah satu pembeda penting di era perbankan digital. Pertumbuhan pengguna tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan membuka rekening baru, tetapi juga oleh kemampuan bank menciptakan pengalaman yang membuat nasabah terus kembali menggunakan layanannya.

Kolaborasi Pembiayaan Turut Menggerakkan Pertumbuhan Kredit

Selain membangun ekosistem investasi, Bank Jago juga memperluas kerja sama dalam penyaluran kredit melalui berbagai mitra, termasuk platform digital dan perusahaan pembiayaan seperti BFI Finance.

Model ini memungkinkan proses penyaluran pembiayaan dilakukan secara lebih cepat dan terukur karena bank memanfaatkan jaringan mitra yang telah memiliki basis pelanggan sendiri.

Menurut Arief Harris, kolaborasi tersebut akan tetap menjadi bagian penting dari strategi bisnis perusahaan.

"Kami berkomitmen terus menjalankan kolaborasi bisnis dan penyaluran kredit yang telah terbangun baik selama lima tahun terakhir. Pada saat yang sama kami juga mengembangkan penyaluran kredit secara langsung kepada nasabah melalui konsep pembiayaan yang bertanggung jawab untuk menjangkau segmen nasabah yang lebih luas," jelas Arief.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Bank Jago tidak hanya mengandalkan satu sumber pertumbuhan. Di satu sisi, perusahaan mempertahankan kerja sama dengan berbagai mitra yang telah terbukti mampu mendorong ekspansi kredit. Di sisi lain, perusahaan mulai memperluas pembiayaan langsung kepada nasabah sebagai langkah untuk memperbesar peluang bisnis di masa depan.

Rapor Kredit, Upaya Mendorong Pembiayaan yang Lebih Bertanggung Jawab

Pertumbuhan kredit yang sehat tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pinjaman yang disalurkan, tetapi juga oleh kualitas debitur. Karena itu, Bank Jago memperkenalkan fitur Rapor Kredit pada Aplikasi Jago.

Melalui fitur ini, pengguna dapat melihat informasi mengenai kesehatan kredit mereka secara langsung dari aplikasi. Akses terhadap informasi tersebut diharapkan membantu nasabah memahami kapasitas finansial sebelum mengajukan pinjaman baru.

Langkah ini menarik karena menunjukkan perubahan pendekatan dalam industri perbankan digital. Jika sebelumnya layanan pinjaman lebih banyak menonjolkan kemudahan akses, kini aspek edukasi dan transparansi mulai mendapat perhatian yang lebih besar.

Bagi pengguna, informasi mengenai riwayat dan kondisi kredit dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menghindari utang yang melebihi kemampuan membayar. Sementara bagi bank, nasabah yang lebih memahami kondisi keuangannya berpotensi memiliki kualitas kredit yang lebih baik.

Pendekatan seperti ini sejalan dengan capaian rasio NPL gross sebesar 0,8%, yang menunjukkan kualitas pembiayaan Bank Jago tetap terjaga meski penyaluran kredit tumbuh dua digit.

Apa Arti 20,1 Juta Nasabah bagi Masa Depan Bank Digital?

Angka 20,1 juta nasabah tentu menjadi pencapaian penting. Namun, maknanya tidak berhenti pada besarnya basis pengguna.

Dalam industri digital, jumlah pengguna hanya menjadi langkah awal. Nilai yang lebih besar justru muncul ketika pengguna aktif memanfaatkan berbagai layanan yang tersedia di dalam ekosistem.

Semakin banyak aktivitas yang dilakukan nasabah—mulai dari menyimpan dana, bertransaksi, berinvestasi, hingga mengakses pembiayaan—semakin besar pula peluang bank memperoleh pendapatan dari berbagai lini bisnis.

Artinya, pertumbuhan nasabah memiliki efek berantai terhadap berbagai indikator keuangan. Hal ini tercermin pada kinerja Bank Jago selama semester I-2026.

Selain jumlah pengguna yang meningkat, aset perusahaan juga tumbuh menjadi Rp41,4 triliun, naik 28% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada saat yang sama, laba bersih setelah pajak (NPAT) melonjak 49% menjadi Rp189 miliar.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pengguna berhasil diikuti oleh peningkatan aktivitas bisnis, bukan sekadar bertambahnya rekening yang tidak aktif.

Pertumbuhan Nasabah Tidak Bisa Dilihat dari Angka Saja

Ada satu pelajaran penting dari perkembangan Bank Jago. Selama ini, keberhasilan sebuah bank sering kali diukur dari jumlah kantor cabang atau luasnya jaringan ATM. Namun, di era digital, indikator tersebut mulai bergeser.

Yang semakin menentukan adalah seberapa besar sebuah bank mampu menjadi bagian dari aktivitas keuangan sehari-hari.

Nasabah yang rutin menggunakan rekening untuk menerima gaji, membayar tagihan, berbelanja, berinvestasi, hingga mengakses pembiayaan memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan rekening yang hanya aktif saat pertama kali dibuka.

Karena itu, pertumbuhan hampir 3 juta nasabah Bank Jago layak dilihat sebagai indikator meningkatnya adopsi layanan keuangan digital, bukan sekadar keberhasilan menambah jumlah pengguna.

Tantangan Berikutnya: Menjaga Nasabah Tetap Aktif

Meski berhasil menembus 20,1 juta nasabah, tantangan Bank Jago belum selesai. Justru, semakin besar basis pengguna, semakin besar pula upaya yang dibutuhkan untuk menjaga mereka tetap aktif menggunakan layanan.

Di industri digital, memperoleh pengguna baru sering kali membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, mempertahankan loyalitas nasabah menjadi faktor yang sama pentingnya dengan akuisisi pengguna baru.

Ke depan, Bank Jago perlu terus menghadirkan inovasi yang relevan agar pengguna tidak hanya membuka rekening, tetapi juga menjadikan aplikasi sebagai pusat pengelolaan keuangan mereka.

Dari sisi permodalan, perusahaan memiliki ruang ekspansi yang cukup besar. Hingga akhir Juni 2026, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 28,4%, mencerminkan kondisi permodalan yang kuat untuk mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

Arief Harris menegaskan bahwa visi Bank Jago tidak berhenti pada penyediaan layanan perbankan digital semata.

"Kami ingin Bank Jago dikenal bukan hanya sekadar bank di saku nasabah tetapi menjadi bank berbasis teknologi yang membantu nasabah, mitra ekosistem, dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan kesempatan tumbuh mereka secara bersama-sama melalui inovasi dan kolaborasi yang berdampak positif di masa depan," pungkas Arief.

Kesimpulan

Pertumbuhan nasabah Bank Jago menjadi 20,1 juta hingga semester I-2026 bukan sekadar mencerminkan keberhasilan menarik pengguna baru. Pencapaian tersebut menunjukkan bagaimana strategi membangun ekosistem digital mulai menghasilkan dampak nyata terhadap pertumbuhan dana pihak ketiga, penyaluran kredit, hingga laba perusahaan.

Di tengah persaingan bank digital yang semakin kompetitif, pengalaman pengguna tampaknya menjadi pembeda yang lebih penting dibandingkan sekadar menawarkan promo atau layanan dasar. Integrasi dengan platform investasi, kolaborasi pembiayaan, serta upaya meningkatkan literasi melalui fitur Rapor Kredit memperlihatkan bahwa pertumbuhan bisnis dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan.

Ke depan, tantangan Bank Jago bukan lagi sekadar menambah jutaan nasabah baru, melainkan memastikan jutaan pengguna yang telah dimiliki tetap aktif dan menjadikan ekosistemnya sebagai bagian dari aktivitas finansial sehari-hari. Jika strategi tersebut terus berjalan konsisten, Bank Jago berpeluang memperkuat posisinya dalam peta industri perbankan digital Indonesia.

Pantau terus perkembangan industri perbankan digital dan inovasi layanan keuangan untuk memahami bagaimana perubahan strategi para pelaku industri akan memengaruhi cara masyarakat mengelola keuangannya di masa mendatang.

Baca Juga: Maybank Salurkan Rp1,4 Miliar Zakat Produktif untuk Cetak Wirausaha Perempuan, Mengapa Pendekatan Ini Lebih Berdampak?

Baca Juga: Mengapa Banyak UMKM Gagal Meski Sudah Dapat Modal? Simak Pelajaran Penting dari Program Pemberdayaan Maybank

FAQ

Apa jumlah nasabah Bank Jago per Juni 2026?

Hingga akhir Juni 2026, jumlah nasabah Bank Jago mencapai 20,1 juta, meningkat hampir 3 juta nasabah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 17,2 juta nasabah. Dari total tersebut, 14,7 juta merupakan nasabah funding yang menggunakan Aplikasi Jago. Pertumbuhan ini menjadi salah satu pendorong meningkatnya dana pihak ketiga (DPK), penyaluran kredit, dan laba perusahaan.

Mengapa nasabah Bank Jago terus bertambah?

Pertumbuhan nasabah Bank Jago didorong oleh strategi membangun ekosistem digital, bukan hanya menawarkan layanan perbankan. Bank Jago berkolaborasi dengan berbagai mitra seperti Bibit dan Stockbit sehingga pengguna dapat menabung sekaligus berinvestasi dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Kemudahan ini membuat layanan Bank Jago semakin relevan dengan kebutuhan finansial masyarakat.

Apa hubungan Bank Jago dengan Bibit dan Stockbit?

Bank Jago terintegrasi dengan platform investasi Bibit dan Stockbit sehingga nasabah dapat menghubungkan rekening mereka secara langsung untuk membeli reksa dana, obligasi, maupun saham. Hingga akhir Juni 2026, lebih dari 3,6 juta nasabah Aplikasi Jago telah terhubung dengan kedua platform tersebut. Kolaborasi ini menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan pengguna dan aktivitas transaksi di dalam ekosistem Bank Jago.

Bagaimana kinerja keuangan Bank Jago pada semester I-2026?

Bank Jago mencatat pertumbuhan positif di berbagai indikator keuangan. Dana pihak ketiga (DPK) naik 23% menjadi Rp27,6 triliun, penyaluran kredit meningkat 24% menjadi Rp26,6 triliun, sementara aset tumbuh 28% menjadi Rp41,4 triliun. Laba bersih setelah pajak (NPAT) juga melonjak 49% menjadi Rp189 miliar, mencerminkan fundamental bisnis yang semakin kuat.

Apa itu fitur Rapor Kredit di Aplikasi Jago?

Rapor Kredit adalah fitur yang memungkinkan pengguna melihat informasi mengenai kesehatan kredit mereka langsung melalui Aplikasi Jago. Fitur ini membantu debitur memahami kondisi pinjaman, mengenali kapasitas finansial, dan mengambil keputusan pembiayaan secara lebih bijak. Langkah tersebut juga merupakan bagian dari komitmen Bank Jago dalam menerapkan konsep pembiayaan yang bertanggung jawab.

Mengapa rasio CASA Bank Jago penting?

Pada akhir Juni 2026, sekitar 53% dana pihak ketiga Bank Jago berasal dari current account and savings account (CASA) atau dana murah, dengan nilai mencapai Rp14,6 triliun. Porsi CASA yang tinggi penting karena membantu bank memperoleh sumber pendanaan dengan biaya lebih rendah, sehingga memberikan ruang untuk menjaga profitabilitas sekaligus mendukung ekspansi kredit secara berkelanjutan.

Apa tantangan Bank Jago setelah memiliki 20,1 juta nasabah?

Setelah berhasil melayani lebih dari 20 juta nasabah, tantangan terbesar Bank Jago adalah menjaga agar pengguna tetap aktif memanfaatkan layanan yang tersedia. Di tengah persaingan bank digital yang semakin ketat, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya rekening yang dibuka, tetapi juga oleh seberapa sering nasabah menggunakan aplikasi untuk menabung, bertransaksi, berinvestasi, maupun mengakses pembiayaan. Karena itu, inovasi produk dan kolaborasi ekosistem akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan pertumbuhan Bank Jago di masa mendatang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.