Akurat Logo

Bukan Karena Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Ternyata Ini Alasan IHSG Masih Tertekan

Esha Tri Wahyuni | 6 Agustus 2026, 18:48 WIB
Bukan Karena Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Ternyata Ini Alasan IHSG Masih Tertekan
Ilustrasi Pergerakan Saham-Saham di Bursa Efek Indonesia

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu memanfaatkan sentimen positif dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026.

Bursa justru ditutup melemah pada perdagangan Kamis (6/8), mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati di tengah ketidakpastian global.

IHSG ditutup turun 7,43 poin atau 0,12% ke level 6.343,71. Senada, indeks saham unggulan LQ45 terkoreksi 3,13 poin atau 0,49% ke posisi 630,86.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan tekanan terhadap pasar saham domestik lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal dibandingkan data ekonomi nasional.

Baca Juga: IHSG Melesat 1,37 Persen ke 6.319, Inflasi dan Neraca Dagang Jadi Penopang

"Bursa regional Asia bergerak melemah seiring sikap pelaku pasar yang terus memantau perkembangan di Timur Tengah," ujar Nico dalam risetnya, Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan konflik geopolitik, khususnya terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.

Iran sebelumnya mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pengiriman melalui Selat Hormuz. Kesepakatan itu memunculkan harapan distribusi energi kembali berjalan lebih lancar dalam dua hingga empat bulan ke depan.

Namun, Nico menilai ketidakpastian belum benar-benar hilang karena kesepakatan tersebut belum berarti Selat Hormuz dibuka sepenuhnya.

"Pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan ketidakpastian upaya membuka kembali Selat Hormuz, termasuk potensi gangguan setelah serangan di Laut Merah yang diklaim dilakukan kelompok Houthi terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi," katanya.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Data ketenagakerjaan menunjukkan sektor swasta AS hanya menambah 44.000 lapangan kerja sepanjang Juli 2026, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 70.000 pekerjaan. Perlambatan ini membuat pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS.

"Pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini. Kini hanya memperkirakan satu kali kenaikan hingga akhir tahun, turun dari dua kali kenaikan pada pekan lalu," ujar Nico.

Meski demikian, sejumlah pejabat Federal Reserve masih memberikan sinyal kebijakan yang cenderung ketat.

Sebelumnya, Gubernur The Fed, Lisa Cook menegaskan, bank sentral tetap siap menaikkan suku bunga apabila inflasi belum menunjukkan penurunan yang konsisten. Sementara Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari menilai saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mulai menaikkan suku bunga secara bertahap.

Baca Juga: Dibayangi Sentimen The Fed, Rupiah Berpotensi Tertekan ke Rp18.130

Di tengah berbagai sentimen global tersebut, data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi dari perkiraan ternyata belum menjadi katalis kuat bagi pasar.

Nico menilai investor masih memilih bersikap selektif dalam menempatkan dana di pasar saham.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026 yang berada di atas ekspektasi belum mampu mendorong penguatan IHSG. Pelaku pasar masih bersikap selektif karena indeks belum sepenuhnya ditopang saham-saham berfundamental besar maupun arus masuk investor asing, melainkan lebih banyak didukung saham-saham spekulatif," ujar Nico.

Pergerakan IHSG sepanjang hari juga mencerminkan kondisi tersebut. Indeks sempat dibuka di zona hijau dan bertahan hingga akhir sesi pertama. Namun tekanan jual pada perdagangan sore membuat IHSG berbalik melemah hingga penutupan.

Secara sektoral, empat indeks mencatatkan penguatan. Sektor energi menjadi pemimpin kenaikan dengan menguat 1,57%, disusul sektor industri 0,91% serta transportasi dan logistik 0,71%.

Sebaliknya, tujuh sektor terkoreksi. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor barang kesehatan yang turun 0,55%, diikuti sektor properti 0,54% dan teknologi 0,46%.

Pada perdagangan hari itu, saham TMPO, PDES, FAST, IATA, dan JGLE menjadi lima emiten dengan kenaikan terbesar. Sementara TALF, BACH, ROCK, ISAP, dan GPSO mencatat penurunan terdalam.

Aktivitas perdagangan tergolong ramai dengan frekuensi mencapai 2,66 juta transaksi. Sebanyak 53,47 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi Rp18,15 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 278 saham menguat, 354 saham melemah, dan 331 saham stagnan.

Pergerakan pasar domestik juga sejalan dengan bursa Asia yang mayoritas ditutup di zona merah. Indeks Nikkei turun 0,89%, Hang Seng melemah 1,49%, Kospi anjlok 4,58%, serta FTSE Bursa Malaysia KLCI turun 0,63%. Sementara itu, indeks Shanghai menjadi pengecualian dengan menguat 0,57%.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.