Buka-Bukaan Soal Pinjaman, Inilah Cara AdaKami menjadi Platform Pindar yang Lebih Transparan kepada Pengguna
AKURAT.CO Mengajukan pinjaman digital kini dapat dilakukan hanya dalam beberapa langkah. Namun, kemudahan mengakses dana tidak selalu berarti konsumen langsung memahami seluruh konsekuensi yang menyertainya. Di tengah kondisi tersebut, transparansi AdaKami menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memastikan pengguna dapat mengetahui informasi pinjaman, mulai dari dana yang diterima hingga total kewajiban, sebelum mengambil keputusan.
Strategi tersebut dijalankan melalui kampanye “Buka-Bukaan” dengan tema “Gak Ada Udang di Balik Batu”. Bagi AdaKami, transparansi tidak hanya ditempatkan sebagai informasi tambahan yang tersedia setelah pengguna mengajukan pinjaman, melainkan sebagai bagian dari proses sebelum konsumen menyetujui kewajiban finansial.
Pendekatan ini menjadi semakin relevan ketika industri pinjaman daring atau pindar terus berkembang. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding pembiayaan industri pinjaman daring mencapai Rp105,14 triliun pada Juni 2026 atau tumbuh 25,88% yoy.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang berinteraksi dengan layanan pembiayaan digital. Konsekuensinya, kebutuhan terhadap informasi yang jelas juga semakin besar. Kemudahan mengakses pembiayaan perlu berjalan beriringan dengan kemampuan pengguna untuk memahami apa yang mereka setujui.
Transparansi pinjaman tidak berhenti pada ketersediaan informasi. Transparansi baru memiliki arti ketika informasi tersebut dapat digunakan konsumen untuk menilai kewajiban yang akan diambil.
Ringkasan
Secara sederhana, strategi transparansi AdaKami dibangun melalui tiga pendekatan utama:
memastikan pengguna mengetahui jumlah dana yang diterima;
menampilkan struktur cicilan dan jadwal pembayaran secara jelas;
memberikan informasi mengenai biaya, tenor, dan total kewajiban sebelum pengguna menyetujui pinjaman.
Tiga aspek tersebut menjadi bagian dari pesan utama kampanye “Buka-Bukaan”. Pendekatannya tidak hanya menekankan pentingnya keterbukaan informasi, tetapi juga mendorong pengguna untuk memahami informasi tersebut sebelum mengambil keputusan.
Strategic Communication and Brand Lead AdaKami Jonathan Kriss mengatakan pelindungan konsumen telah menjadi salah satu fokus perusahaan sejak awal. Melalui kampanye tersebut, AdaKami ingin terus mendorong masyarakat agar lebih memahami risiko dan kewajiban ketika menggunakan layanan pembiayaan.
“Sejak awal, pelindungan konsumen selalu menjadi fokus utama di AdaKami. Kampanye ‘Buka-Bukaan’ ini adalah langkah nyata dalam mendorong transparansi informasi pinjaman guna melindungi masyarakat,” ujar Jonathan dalam acara Media Gathering di Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurut dia, layanan pembiayaan merupakan produk jasa keuangan yang memiliki risiko. Oleh sebab itu, informasi mengenai kewajiban tidak seharusnya menjadi hal yang baru diketahui pengguna setelah dana pinjaman diterima.
“Sebagai produk jasa keuangan dengan risiko tinggi, kampanye yang juga bertujuan mengedukasi ini akan terus kami gaungkan agar masyarakat semakin bijak dalam memilih serta menggunakan layanan pembiayaan,” kata Jonathan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan arah yang lebih luas dari kampanye “Buka-Bukaan”. Transparansi tidak hanya diposisikan sebagai cara menyampaikan informasi, melainkan juga sebagai bagian dari upaya membentuk kebiasaan pengguna sebelum mengambil keputusan finansial.
Mengapa Transparansi Menjadi Strategi Penting bagi AdaKami?
Industri pembiayaan digital memiliki karakter yang berbeda dibandingkan proses pinjaman konvensional. Akses dapat dilakukan melalui aplikasi dan proses pengajuan dapat berlangsung lebih cepat.
Kecepatan tersebut memang memberikan kemudahan. Namun, terdapat konsekuensi lain yang perlu diperhatikan: keputusan untuk mengambil pinjaman juga dapat dilakukan dalam waktu yang sangat singkat.
Di sinilah muncul sebuah paradoks.
Semakin cepat seseorang dapat mengakses pembiayaan, semakin penting pula ia memiliki kesempatan untuk memahami kewajibannya sebelum menyelesaikan proses pengajuan.
AdaKami menempatkan transparansi sebagai salah satu cara untuk menjawab persoalan tersebut. Informasi mengenai pinjaman ditampilkan agar pengguna tidak hanya melihat nominal dana yang dapat diperoleh, tetapi juga mengetahui struktur kewajiban yang akan dihadapi.
Pendekatan ini penting karena keputusan meminjam sering kali dimulai dari satu pertanyaan sederhana: berapa uang yang bisa saya dapatkan?
Padahal, pertanyaan tersebut hanya menjelaskan satu sisi dari transaksi.
Sebelum pinjaman disetujui, pengguna juga perlu mengetahui:
berapa dana yang benar-benar diterima;
berapa jumlah cicilan yang harus dibayar;
kapan pembayaran dilakukan;
berapa lama tenor pinjaman;
berapa total kewajiban hingga pinjaman selesai.
Dalam konteks inilah transparansi memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar membuka informasi biaya.
Informasi yang tersedia sebelum persetujuan memberikan konsumen kesempatan untuk mempertimbangkan kembali keputusan sebelum kewajiban tersebut benar-benar melekat.
Dari sudut pandang pelindungan konsumen, pendekatan tersebut dapat dipahami sebagai upaya preventif. Pelindungan tidak hanya dilakukan ketika pengguna menghadapi masalah, tetapi juga dimulai pada tahap ketika konsumen masih memiliki pilihan untuk melanjutkan atau membatalkan keputusan.
Tiga Pilar Transparansi AdaKami dalam Proses Pinjaman
AdaKami menegaskan komitmen transparansinya melalui tiga pilar utama yang dapat dipahami pengguna melalui aplikasi.
1. Tanpa Potongan Awal
Pilar pertama berkaitan dengan kepastian mengenai jumlah dana yang diterima pengguna.
AdaKami menyampaikan bahwa dana pinjaman diterima secara utuh tanpa potongan biaya lain di awal selain biaya materai. Informasi ini penting karena jumlah pinjaman yang diajukan belum tentu selalu sama dengan jumlah dana yang diterima apabila sebuah produk memiliki struktur potongan tertentu.
Bagi pengguna, kejelasan mengenai dana yang masuk menjadi penting untuk menghitung apakah nominal tersebut benar-benar dapat memenuhi kebutuhan yang menjadi tujuan pengajuan pinjaman.
Misalnya, seseorang membutuhkan dana Rp5 juta untuk sebuah keperluan. Informasi mengenai jumlah yang benar-benar diterima akan menentukan apakah kebutuhan tersebut dapat dipenuhi sesuai rencana atau justru memerlukan sumber dana tambahan.
Kepastian tersebut menjadi salah satu bagian dari transparansi karena pengguna dapat mengetahui posisi transaksi sejak awal: berapa yang diterima dan berapa yang nantinya harus dikembalikan.
2. Cicilan Flat Setiap Periode 30 Hari
Pilar kedua berkaitan dengan prediktabilitas pembayaran.
AdaKami menyebut jumlah cicilan konsisten dari awal hingga akhir tenor sesuai dengan informasi yang ditampilkan sejak awal. Dengan struktur tersebut, pengguna dapat mengetahui nominal kewajiban yang perlu dipersiapkan pada setiap periode pembayaran.
Bagi perencanaan keuangan pribadi, kepastian mengenai nominal cicilan memiliki arti penting.
Perencana Keuangan Profesional Rista Zwestika, CFP®, menyoroti bahwa besaran cicilan dan waktu jatuh tempo merupakan dua hal yang sering kali kurang diperhatikan sebelum seseorang mengambil pinjaman.
“Sebelum menyetujui pinjaman, ada dua hal yang kerap luput dari perhatian yaitu: apakah besaran cicilan sama setiap bulan dan kapan jatuh tempo cicilan pertama?” ujar Rista.
Menurut dia, sebagian pengguna baru menyadari struktur pembayaran setelah pinjaman diterima.
“Di sini banyak pengguna yang baru menyadari belakangan bahwa cicilan mereka ternyata lebih besar di awal dan harus dibayarkan dalam beberapa hari pertama setelah pinjaman diterima—bahkan belum genap sebulan.”
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa transparansi bukan hanya mengenai nominal total pinjaman.
Waktu pembayaran juga merupakan informasi penting karena cash flow tidak hanya ditentukan oleh jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga kapan uang tersebut tersedia.
Seseorang mungkin memiliki pendapatan yang cukup untuk melunasi seluruh kewajiban. Namun, kondisi bisa berbeda apabila pembayaran pertama jatuh tempo sebelum ia menerima penghasilan berikutnya.
Dalam situasi seperti itu, informasi mengenai pola cicilan dan jadwal pembayaran dapat membantu pengguna memperkirakan tekanan terhadap arus kas sejak awal.
3. Tanpa Biaya Tersembunyi
Pilar berikutnya adalah kejelasan mengenai seluruh informasi pinjaman.
AdaKami menyatakan informasi mengenai jumlah dana yang diterima, bunga, biaya layanan, tenor, jadwal cicilan, hingga total kewajiban ditampilkan sebelum konsumen menyetujui pinjaman.
Poin pentingnya bukan hanya apakah terdapat biaya tersembunyi atau tidak.
Informasi tersebut membentuk gambaran utuh mengenai sebuah kewajiban finansial.
Seseorang yang hanya mengetahui nominal pinjaman, misalnya, belum tentu dapat menilai apakah produk tersebut sesuai dengan kondisinya. Penilaian baru dapat dilakukan ketika informasi tersebut dilihat secara menyeluruh.
Pengguna perlu menghubungkan angka-angka yang tersedia dengan kondisi keuangannya sendiri.
Apakah cicilan sesuai dengan pendapatan? Apakah tanggal pembayaran sesuai dengan siklus menerima penghasilan? Apakah total kewajiban masih dapat ditanggung tanpa mengganggu kebutuhan utama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dari proses pengambilan keputusan.
Rista menilai risiko gagal bayar tidak selalu terjadi semata-mata karena seseorang tidak memiliki pendapatan yang cukup. Dalam beberapa kondisi, masalah muncul karena keputusan diambil secara terburu-buru tanpa memahami struktur pembayaran.
“Akibatnya, risiko gagal bayar meningkat, bukan selalu karena konsumen tidak mampu, melainkan karena terburu-buru dan kurang teliti ketika mengambil keputusan,” katanya.
Pandangan tersebut memperlihatkan hubungan antara transparansi dan perilaku pengguna.
Informasi yang jelas memang tidak dapat menggantikan keputusan finansial konsumen. Namun, informasi tersebut dapat memberikan dasar yang lebih lengkap sebelum keputusan dibuat.
Baca Juga: Penipuan Digital Makin Marak, Ini Cara AdaKami Melindungi Pengguna
Baca Juga: AdaKami Hadiri Fintech Lending Days di Sorong
Strategi Transparansi AdaKami dan Upaya Membuat Pengguna Memahami Kewajibannya
Menampilkan informasi pinjaman belum tentu otomatis membuat pengguna memahami seluruh konsekuensinya. Dalam layanan keuangan digital, terdapat perbedaan antara informasi yang tersedia dan informasi yang benar-benar dipahami serta digunakan untuk mengambil keputusan.
Di sinilah strategi transparansi AdaKami menjadi menarik untuk dicermati.
Kampanye “Buka-Bukaan” tidak hanya membawa pesan bahwa informasi pinjaman harus tersedia. Kampanye tersebut juga menempatkan keterbukaan sebagai bagian dari proses edukasi agar pengguna mengetahui apa yang diterima, apa yang harus dibayar, serta risiko yang perlu dipertimbangkan sebelum mengambil pinjaman.
Pendekatan ini penting di tengah industri pindar yang terus bertumbuh. Outstanding pembiayaan industri pinjaman daring yang mencapai Rp105,14 triliun pada Juni 2026 menunjukkan layanan tersebut telah menjadi salah satu alternatif pembiayaan bagi masyarakat Indonesia.
Pertumbuhan industri berarti semakin banyak orang berinteraksi dengan produk pembiayaan digital. Pada saat yang sama, karakter layanan yang cepat dan mudah diakses dapat membuat proses pengambilan keputusan berlangsung dalam waktu singkat.
Dalam kondisi tersebut, transparansi dapat menjadi semacam titik berhenti sebelum keputusan finansial benar-benar diambil.
Semakin cepat proses memperoleh pinjaman, semakin penting pengguna memiliki kesempatan untuk memahami konsekuensi sebelum menyetujui pinjaman tersebut.
Lebih dari 95% Pengguna Memahami Total Kewajiban, Apa Artinya?
Salah satu indikator yang digunakan AdaKami untuk menunjukkan tingkat pemahaman pengguna berasal dari studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia atau LPEM FEB UI pada 2026.
Studi tersebut menunjukkan lebih dari 95% pengguna AdaKami memahami total kewajiban pembayaran sebelum menyetujui pinjaman.
Angka tersebut menarik karena memberikan konteks yang lebih konkret terhadap pembahasan mengenai transparansi.
Sering kali transparansi hanya diukur berdasarkan pertanyaan apakah perusahaan sudah menyediakan informasi tertentu. Padahal, informasi yang ditampilkan belum tentu secara otomatis dipahami oleh seluruh pengguna.
Data tersebut menunjukkan bahwa penyajian informasi dapat memiliki kaitan dengan tingkat pemahaman konsumen. Setidaknya berdasarkan studi tersebut, mayoritas pengguna yang menjadi responden telah mengetahui total kewajiban pembayaran sebelum memberikan persetujuan.
Hal ini penting karena keputusan pinjaman idealnya tidak hanya didasarkan pada nominal dana yang akan diterima.
Seseorang mungkin tertarik mengajukan pinjaman Rp5 juta. Namun, keputusan tersebut baru dapat dinilai secara lebih utuh setelah ia mengetahui beberapa informasi lain, seperti:
berapa dana yang diterima;
berapa total yang harus dikembalikan;
berapa besar cicilan;
berapa lama tenor;
kapan pembayaran dilakukan;
bagaimana seluruh kewajiban tersebut berpengaruh terhadap kondisi keuangannya.
Dengan kata lain, transparansi yang efektif bukan hanya membuat pengguna melihat angka, tetapi membantu mereka memahami hubungan antara angka tersebut dengan keputusan yang akan diambil.
Ini menjadi salah satu tantangan penting dalam layanan keuangan digital.
Informasi yang terlalu panjang dapat membuat pengguna tidak membacanya. Sebaliknya, informasi yang terlalu sederhana berpotensi tidak memberikan gambaran lengkap mengenai kewajiban yang akan muncul.
Strategi transparansi karena itu membutuhkan keseimbangan antara kelengkapan dan kemudahan pemahaman.
Transparansi Bukan Sekadar Membuka Informasi
Dari perspektif pengguna, transparansi sering kali dikaitkan dengan pertanyaan sederhana: apakah ada biaya tersembunyi?
Pertanyaan tersebut penting, tetapi transparansi dalam pinjaman sebenarnya memiliki cakupan yang lebih luas.
Pengguna perlu mengetahui seluruh struktur transaksi sebelum menyetujui pinjaman.
Dalam strategi yang diusung AdaKami, informasi tersebut mencakup dana yang diterima, bunga, biaya layanan, tenor, jadwal cicilan, hingga total kewajiban.
Kelengkapan informasi tersebut memungkinkan konsumen melihat pinjaman sebagai satu kesatuan.
Sebagai contoh, mengetahui bahwa seseorang akan menerima dana Rp5 juta belum cukup untuk menentukan apakah pinjaman tersebut sesuai dengan kondisinya.
Informasi berikutnya yang perlu diketahui adalah berapa total pengembalian, bagaimana pembayaran dibagi dalam setiap periode, serta kapan dana untuk membayar cicilan harus tersedia.
Perencana Keuangan Profesional Rista Zwestika menilai masalah keuangan dapat muncul ketika konsumen terlalu fokus pada proses pencairan.
“Pinjaman yang baik bukan yang cepat cair, teman-teman. Yang paling penting adalah kita tahu konsekuensinya,” ujar Rista dalam paparannya.
Menurut dia, sebelum mengambil pinjaman, konsumen perlu memahami beberapa hal, mulai dari total yang harus dibayar, tenor, besaran cicilan setiap periode, waktu jatuh tempo, biaya yang muncul, kemampuan membayar, hingga konsekuensi apabila terjadi keterlambatan.
Pandangan tersebut memperlihatkan mengapa transparansi informasi menjadi penting.
Konsumen tidak dapat mengambil keputusan yang sepenuhnya terinformasi apabila mereka hanya mengetahui manfaat pinjaman, tetapi tidak memahami struktur kewajibannya.
Bagi AdaKami, prinsip tersebut diterjemahkan melalui penyediaan informasi sebelum konsumen menyetujui pinjaman.
Pendekatan ini juga mengubah posisi transparansi dari sekadar kewajiban komunikasi menjadi bagian dari pengalaman pengguna.
Dari Informasi Menjadi Alat untuk Mengambil Keputusan
Nilai utama sebuah informasi terletak pada apa yang dapat dilakukan pengguna dengan informasi tersebut.
Dalam konteks pinjaman, transparansi memberikan kesempatan kepada konsumen untuk melakukan satu hal yang sangat penting: menilai kembali apakah mereka benar-benar ingin melanjutkan pengajuan.
Misalnya, setelah melihat total kewajiban, seseorang dapat menyadari bahwa nominal pembayaran tidak sesuai dengan kemampuan keuangannya.
Setelah melihat jadwal pembayaran, pengguna juga dapat mengetahui bahwa tanggal jatuh tempo tidak sesuai dengan siklus penerimaan pendapatannya.
Informasi tersebut memungkinkan konsumen mempertimbangkan pilihan lain.
Mereka dapat memilih nominal pinjaman yang lebih kecil, mencari produk dengan struktur pembayaran berbeda, menunda pengajuan, atau bahkan memutuskan tidak menggunakan pinjaman sama sekali.
Di sinilah transparansi memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar memberikan informasi.
Informasi yang tersedia sebelum persetujuan memberi konsumen kesempatan untuk mengatakan “tidak” sebelum sebuah kewajiban finansial dimulai.
Sudut pandang tersebut penting karena pelindungan konsumen sering kali dibayangkan sebagai mekanisme yang bekerja setelah masalah terjadi.
Padahal, dalam layanan pembiayaan digital, salah satu bentuk pelindungan dapat dimulai jauh lebih awal.
Pelindungan dimulai ketika pengguna masih memiliki kesempatan untuk membaca, memahami, menghitung, dan mempertimbangkan keputusan.
Transparansi sebagai Pelindungan Konsumen yang Bersifat Preventif
Dalam industri jasa keuangan, masalah konsumen tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan penanganan setelah terjadi sengketa.
Pencegahan juga memiliki peran penting.
Apabila pengguna memahami jumlah kewajiban, struktur pembayaran, serta risiko sebelum menyetujui pinjaman, keputusan yang diambil setidaknya memiliki dasar informasi yang lebih lengkap.
Pendekatan ini sejalan dengan pesan yang dibawa AdaKami melalui kampanye “Buka-Bukaan”.
Jonathan mengatakan pelindungan konsumen menjadi salah satu alasan utama perusahaan terus menjalankan edukasi mengenai penggunaan layanan pembiayaan.
Menurut dia, kampanye tersebut tidak dirancang sebagai kegiatan yang berhenti dalam satu kesempatan.
“Kampanye ‘Buka-Bukaan’ ini tidak berhenti cuma di hari ini, tapi kami sudah punya komitmen untuk terus memberikan edukasi, baik kepada masyarakat maupun kepada para pemangku kepentingan yang terlibat,” ujar Jonathan.
AdaKami, kata dia, ingin mendorong terbentuknya kebiasaan pengguna untuk memahami apa yang dilakukan ketika menggunakan layanan pembiayaan.
Pengguna diharapkan mengetahui risiko, memahami kewajiban, serta mengetahui langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi persoalan.
“Ketika menggunakan layanan pembiayaan, mereka tahu risikonya, mereka tahu kewajibannya. Dan ketika ada sesuatu yang terjadi, mereka juga harus tahu apa yang mereka lakukan,” kata Jonathan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa transparansi yang ingin dibangun tidak berhenti pada tahap sebelum pinjaman disetujui.
Edukasi juga diperlukan setelah pengguna menggunakan layanan tersebut.
Hal ini penting karena hubungan antara pengguna dan layanan pembiayaan tidak selesai ketika dana masuk ke rekening. Setelah itu, terdapat kewajiban pembayaran yang harus dikelola hingga tenor berakhir.
Mengapa Edukasi Menjadi Bagian dari Strategi Transparansi?
Transparansi dan edukasi memiliki hubungan yang erat.
Informasi dapat tersedia secara lengkap, tetapi tanpa pemahaman yang memadai, pengguna belum tentu mengetahui arti informasi tersebut bagi kondisi keuangannya.
Sebagai contoh, konsumen dapat mengetahui nominal cicilan sebesar Rp2 juta per bulan.
Namun, angka tersebut baru memiliki makna ketika dibandingkan dengan:
pendapatan yang diterima;
cicilan lain yang masih berjalan;
kebutuhan rutin;
kebutuhan keluarga;
dana darurat;
pengeluaran yang mungkin muncul dalam beberapa bulan mendatang.
Rista dalam paparannya menggunakan pendekatan perencanaan keuangan untuk menunjukkan bahwa kemampuan membayar tidak dapat dinilai hanya berdasarkan jumlah gaji.
Seseorang yang berpenghasilan Rp4 juta dengan cicilan Rp2 juta memiliki kondisi yang berbeda dengan seseorang berpendapatan Rp10 juta yang memiliki cicilan dalam nominal sama.
Karena itu, konsumen perlu melihat beban cicilan sebagai bagian dari keseluruhan kondisi keuangan.
Pesan ini memperkuat satu hal: transparansi dari penyedia layanan dan pemahaman dari pengguna merupakan dua hal yang saling berkaitan.
Penyedia layanan dapat menampilkan informasi secara terbuka. Pengguna kemudian perlu menggunakan informasi tersebut untuk menilai apakah kewajiban yang ditawarkan sesuai dengan kemampuannya.
Pada titik ini, edukasi berfungsi sebagai jembatan antara informasi dan keputusan.
Bagian berikutnya akan membahas bagaimana strategi “Buka-Bukaan” AdaKami mencoba menggeser narasi pinjaman digital dari sekadar “cepat cair” menjadi “paham sebelum pinjam”, serta implikasinya bagi pelindungan konsumen di industri pindar.
Bagian 3: Dari “Cepat Cair” ke “Paham Sebelum Pinjam”
Kemudahan menjadi salah satu nilai utama yang ditawarkan teknologi finansial.
Melalui layanan digital, masyarakat dapat mengakses berbagai produk keuangan tanpa harus melalui proses yang sama seperti layanan konvensional. Pengajuan dapat dilakukan melalui perangkat seluler dan prosesnya berlangsung jauh lebih cepat.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru.
Ketika proses mendapatkan pinjaman semakin sederhana, keputusan untuk mengambil pinjaman juga dapat dilakukan tanpa banyak waktu untuk mempertimbangkan seluruh konsekuensinya.
Inilah konteks yang membuat strategi transparansi AdaKami melalui kampanye “Buka-Bukaan” memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar kampanye komunikasi.
Kampanye tersebut membawa pesan bahwa kemudahan akses pembiayaan seharusnya tidak membuat pengguna mengabaikan informasi mengenai kewajiban yang akan muncul.
Pinjaman yang Baik Bukan Sekadar yang Cepat Cair
Rista menyoroti kecenderungan masyarakat untuk lebih dahulu memperhatikan kemudahan dan kecepatan pencairan.
Padahal, menurut dia, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah seseorang benar-benar memahami kewajiban setelah dana diterima.
Dalam paparannya, ia menekankan bahwa konsumen perlu memperhatikan sejumlah aspek sebelum mengambil pinjaman, termasuk total pengembalian, tenor, nominal cicilan, jatuh tempo, kemampuan membayar, hingga konsekuensi apabila pembayaran mengalami keterlambatan.
Pesan tersebut dapat diringkas dalam satu perubahan cara pandang.
Dari:
“Seberapa cepat uang bisa cair?”
menjadi:
“Apakah saya memahami seluruh kewajiban sebelum uang tersebut cair?”
Perubahan perspektif ini menjadi penting dalam industri pembiayaan digital.
Kecepatan dapat menjadi manfaat bagi pengguna yang membutuhkan akses pembiayaan. Namun, kecepatan bukan satu-satunya ukuran kualitas keputusan finansial.
Keputusan yang baik juga membutuhkan informasi yang cukup.
Dalam konteks ini, strategi transparansi AdaKami dapat dibaca sebagai upaya untuk mendorong konsep paham sebelum pinjam.
Bukan sekadar menyediakan akses terhadap dana, tetapi memastikan informasi mengenai transaksi tersedia sebelum pengguna memberikan persetujuan.
Strategi “Buka-Bukaan” dan Upaya Membangun Kebiasaan Pengguna
Kampanye “Buka-Bukaan” menggunakan tema “Gak Ada Udang di Balik Batu” untuk menyampaikan pesan mengenai keterbukaan informasi.
Pesannya sederhana, tetapi relevan dengan karakter layanan keuangan: pengguna perlu mengetahui apa yang diterima dan apa yang menjadi kewajibannya.
Jonathan menjelaskan kampanye tersebut menjadi bagian dari komitmen edukasi yang akan terus dilakukan AdaKami.
Artinya, fokusnya bukan hanya memperkenalkan satu fitur atau satu jenis informasi.
AdaKami ingin mendorong kebiasaan pengguna untuk memeriksa risiko dan kewajiban ketika menggunakan layanan pembiayaan.
Pendekatan tersebut penting karena kebiasaan finansial tidak terbentuk hanya melalui satu kali penyampaian informasi.
Seseorang dapat memahami bahwa pinjaman harus dibayar. Namun, dalam praktiknya, keputusan tetap dapat diambil secara terburu-buru ketika seseorang sedang membutuhkan dana.
Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan karena itu dapat menjadi bagian dari upaya membangun pola pikir yang berbeda.
Sebelum mengajukan pinjaman, pengguna perlu membiasakan diri untuk bertanya:
Berapa dana yang benar-benar saya terima?
Berapa total yang harus saya bayar?
Berapa cicilan setiap periode?
Kapan cicilan pertama jatuh tempo?
Apakah kewajiban tersebut sesuai dengan kondisi keuangan saya?
Pertanyaan tersebut terlihat sederhana.
Namun, dari perspektif perencanaan keuangan, jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menentukan apakah sebuah pinjaman masih dapat dikelola atau justru berpotensi mengganggu arus kas.
Transparansi Tidak Menggantikan Tanggung Jawab Pengguna
Terdapat satu batas penting yang perlu dipahami dalam pembahasan mengenai transparansi.
Keterbukaan informasi dari penyedia layanan tidak otomatis membuat setiap keputusan pengguna menjadi keputusan yang tepat.
Informasi dapat menunjukkan berapa besar cicilan dan total kewajiban. Namun, hanya pengguna yang mengetahui kondisi keuangan pribadinya secara menyeluruh.
Pengguna mengetahui pendapatannya, cicilan lain yang masih berjalan, kebutuhan keluarga, serta rencana keuangan yang akan datang.
Karena itu, transparansi dan tanggung jawab pengguna harus berjalan bersamaan.
Penyedia layanan memiliki peran untuk memberikan informasi secara jelas sesuai dengan ketentuan dan struktur produk. Sementara itu, pengguna perlu membaca dan menggunakan informasi tersebut sebagai dasar pertimbangan.
Rista mencontohkan bagaimana kondisi keuangan seseorang dapat berubah meskipun secara nominal terdapat ruang untuk mengambil cicilan baru.
Dalam salah satu pengalaman konsultasinya, ia menangani seorang karyawan yang berencana membeli mobil dengan cicilan sekitar Rp5,8 juta hingga Rp6 juta per bulan. Pada saat yang sama, orang tersebut memiliki cicilan lain dan akan menghadapi kebutuhan keluarga karena istrinya akan melahirkan.
Ketika salah satu cicilan lama akan segera lunas, muncul asumsi bahwa dana yang sebelumnya digunakan untuk membayar utang dapat langsung dialihkan untuk cicilan kendaraan.
Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti cicilan baru aman untuk diambil.
Ada kebutuhan keluarga baru yang akan muncul dan kondisi keuangan di masa depan belum tentu sama dengan kondisi ketika keputusan dibuat.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa ruang dalam cash flow bukan hanya soal berapa banyak uang yang tersisa hari ini.
Konsumen juga perlu melihat perubahan yang mungkin terjadi sepanjang masa pinjaman.
Bagi pengguna, informasi pinjaman yang transparan menyediakan dasar untuk melakukan perhitungan tersebut. Namun, keputusan akhirnya tetap perlu mempertimbangkan kondisi finansial masing-masing.
Transparansi sebagai Bagian dari Kepercayaan di Industri Pindar
Di tengah pertumbuhan industri pindar, kepercayaan menjadi salah satu faktor penting dalam hubungan antara perusahaan dan pengguna.
Layanan keuangan memiliki karakter berbeda dengan produk konsumsi biasa.
Keputusan yang diambil pengguna tidak hanya menghasilkan barang atau jasa yang langsung digunakan, tetapi juga menciptakan kewajiban yang dapat berlangsung selama periode tertentu.
Karena itu, kejelasan informasi memiliki nilai strategis.
Pengguna perlu memahami apa yang mereka setujui.
Bagi perusahaan, transparansi dapat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih terbuka dengan konsumen.
Strategi AdaKami melalui “Buka-Bukaan” dapat dilihat dalam konteks tersebut.
Tiga pilar yang diusung—kejelasan dana yang diterima, cicilan flat setiap periode, serta informasi mengenai bunga, biaya, tenor, jadwal pembayaran, dan total kewajiban—berusaha memberikan gambaran mengenai struktur pinjaman sebelum persetujuan diberikan.
Pendekatan ini juga berkaitan dengan kepercayaan.
Kepercayaan dalam layanan keuangan tidak hanya dibangun melalui janji bahwa layanan dapat digunakan dengan mudah. Kepercayaan juga berkaitan dengan kemampuan pengguna mengetahui konsekuensi dari keputusan yang dibuat.
Dalam layanan pembiayaan digital, transparansi dapat menjadi jembatan antara kemudahan teknologi dan keputusan finansial yang lebih terukur.
Pelindungan Konsumen Dimulai Sebelum Masalah Terjadi
Salah satu insight utama dari strategi transparansi AdaKami adalah perubahan cara memandang pelindungan konsumen.
Pelindungan konsumen sering kali dikaitkan dengan penanganan keluhan, penyelesaian sengketa, atau tindakan ketika pengguna mengalami masalah.
Mekanisme tersebut tentu penting.
Namun, pelindungan juga dapat dimulai sebelum masalah muncul.
Ketika informasi mengenai dana yang diterima, biaya, tenor, cicilan, jadwal pembayaran, dan total kewajiban tersedia sebelum persetujuan, konsumen memiliki kesempatan untuk mengevaluasi keputusan.
Mereka dapat melanjutkan pengajuan jika memahami dan mempertimbangkan kewajiban tersebut sesuai dengan kondisinya.
Sebaliknya, mereka juga dapat memilih untuk tidak melanjutkan.
Di sinilah transparansi memiliki fungsi preventif.
Pelindungan konsumen tidak selalu dimulai ketika seseorang mengalami masalah. Dalam layanan keuangan digital, pelindungan juga dapat dimulai ketika pengguna masih memiliki kesempatan untuk memahami konsekuensi dan memutuskan apakah akan mengambil sebuah kewajiban.
Kampanye “Buka-Bukaan” AdaKami menempatkan gagasan tersebut dalam bentuk yang lebih mudah dipahami masyarakat.
Pada akhirnya, transparansi bukan sekadar soal membuka sebanyak mungkin informasi.
Tantangan yang lebih penting adalah memastikan informasi yang tersedia cukup jelas untuk membantu konsumen mengambil keputusan.
Bagi AdaKami, pendekatan tersebut dijalankan melalui penyajian informasi pinjaman, struktur cicilan, serta edukasi mengenai risiko dan kewajiban pengguna.
Pertumbuhan industri pindar akan terus membuka akses pembiayaan bagi masyarakat. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman.
Ke depan, kualitas layanan pembiayaan digital mungkin tidak hanya diukur dari seberapa cepat proses pengajuan dan pencairan dilakukan.
Kejelasan mengenai apa yang diterima pengguna dan apa yang harus dikembalikan juga akan menjadi bagian penting dari pengalaman konsumen.
Melalui strategi “Buka-Bukaan”, AdaKami mencoba membawa pesan bahwa sebelum berbicara tentang seberapa cepat dana dapat diperoleh, pengguna perlu terlebih dahulu memahami konsekuensi dari keputusan untuk meminjam.
Pantau terus perkembangan industri fintech dan strategi pelindungan konsumen dalam layanan keuangan digital.
Baca Juga: Cara Hapus Akun AdaKami: Panduan Lengkap, Aman, dan Resmi dari Aplikasi hingga CS
Baca Juga: AdaKami dan Superbank Kolaborasi Perluas Akses Pendanaan Masyarakat
FAQ
Apa yang dimaksud dengan kampanye “Buka-Bukaan” AdaKami?
Kampanye “Buka-Bukaan” dengan tema “Gak Ada Udang di Balik Batu” merupakan inisiatif AdaKami untuk mendorong transparansi informasi pinjaman dan memperkuat pelindungan konsumen. Melalui pendekatan tersebut, pengguna didorong untuk memahami informasi mengenai dana yang diterima, biaya, tenor, cicilan, jadwal pembayaran, hingga total kewajiban sebelum menyetujui pinjaman.
Bagaimana AdaKami menerapkan transparansi informasi pinjaman?
Strategi transparansi AdaKami mencakup kejelasan mengenai jumlah dana yang diterima, struktur cicilan flat setiap periode 30 hari, serta penyajian informasi mengenai bunga, biaya layanan, tenor, jadwal cicilan, dan total kewajiban sebelum pengguna memberikan persetujuan. Informasi tersebut ditujukan agar konsumen dapat memahami struktur kewajiban sebelum mengambil keputusan.
Apa saja informasi yang perlu diketahui pengguna sebelum menyetujui pinjaman?
Pengguna perlu mengetahui jumlah dana yang diterima, total kewajiban pembayaran, tenor, nominal cicilan, jadwal dan tanggal jatuh tempo, serta informasi mengenai bunga dan biaya sesuai struktur produk. Informasi tersebut penting karena keputusan pinjaman tidak hanya berkaitan dengan nominal dana yang diterima, tetapi juga kemampuan pengguna memenuhi kewajiban pembayaran.
Mengapa cicilan dan tanggal jatuh tempo penting dalam transparansi pinjaman?
Besaran cicilan dan tanggal jatuh tempo memengaruhi cash flow pengguna. Seseorang mungkin memiliki pendapatan yang cukup secara keseluruhan, tetapi tetap mengalami kesulitan apabila pembayaran jatuh tempo ketika dana belum tersedia. Kejelasan mengenai nominal dan jadwal pembayaran membantu pengguna memperkirakan kebutuhan dana selama tenor pinjaman.
Apa arti data lebih dari 95% pengguna AdaKami memahami total kewajiban?
Berdasarkan studi LPEM FEB UI pada 2026, lebih dari 95% pengguna AdaKami memahami total kewajiban pembayaran sebelum menyetujui pinjaman. Data tersebut menunjukkan tingkat pemahaman pengguna yang menjadi responden terhadap kewajiban pembayaran dan dapat menjadi indikator penting dalam melihat bagaimana penyajian informasi berperan dalam proses pengambilan keputusan.
Mengapa transparansi penting dalam pelindungan konsumen pindar?
Transparansi membantu konsumen mengetahui risiko dan kewajiban sebelum mengambil keputusan. Dalam konteks pelindungan konsumen, informasi yang tersedia sejak awal dapat berfungsi secara preventif karena pengguna masih memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan apakah pinjaman tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kondisi keuangannya.
Apa tujuan edukasi yang dilakukan AdaKami melalui kampanye Buka-Bukaan?
Melalui kampanye “Buka-Bukaan”, AdaKami ingin mendorong pengguna agar memiliki kebiasaan memahami risiko dan kewajiban ketika menggunakan layanan pembiayaan. Edukasi juga diarahkan agar masyarakat mengetahui informasi yang perlu diperhatikan sebelum meminjam serta memahami langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi persoalan terkait kewajiban pembayaran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








