OCBC Luncurkan Premier One, Jawab Tantangan Diversifikasi Aset Bagi Nasabah Kaya

AKURAT.CO Kebutuhan pengelolaan kekayaan nasabah kelas atas semakin kompleks seiring meningkatnya pemahaman terhadap investasi.
Namun, penempatan dana pada instrumen yang lebih beragam masih menjadi tantangan di Indonesia, dengan lebih dari 70% saldo tabungan dan investasi ritel masih tersimpan dalam deposito.
Kondisi tersebut mendorong PT Bank OCBC NISP Tbk atau OCBC memperkuat layanan pengelolaan kekayaan atau wealth management melalui peluncuran Premier One.
Baca Juga: OCBC Perluas Kartu Kredit Disney, Tawarkan Promo hingga Disney Run 2026
Layanan ini dirancang untuk memberikan pendampingan finansial yang lebih personal, akses terhadap solusi investasi, serta manfaat regional dan gaya hidup bagi nasabah dengan kebutuhan pengelolaan aset yang kompleks.
Data industri yang dikutip OCBC menunjukkan, sebanyak 59% profesional di bidang pengelolaan kekayaan menilai nasabah Indonesia semakin memahami investasi.
Meski demikian, dominasi deposito menunjukkan masih adanya ruang untuk meningkatkan pemahaman mengenai diversifikasi portofolio sesuai tujuan keuangan, profil risiko, dan kebutuhan likuiditas masing-masing nasabah.
Wealth Management Advisory Head OCBC, Diamond Stole mengatakan, pilihan investasi yang beragam perlu diimbangi dengan pendampingan agar nasabah dapat menentukan instrumen yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Keleluasaan solusi investasi menjadi penting karena tidak ada satu instrumen yang dapat menjawab seluruh kebutuhan nasabah.
"Wealth management yang personal dimulai dari pemahaman terhadap tujuan nasabah, kemudian diterjemahkan menjadi strategi dan akses kepada solusi investasi yang relevan,” ujar Diamond dalam konpres OCBC Perkuat Strategi Wealth Management melalui Premier One di Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Menurutnya, pengelolaan kekayaan tidak cukup dilakukan dengan menawarkan lebih banyak produk investasi. Nasabah juga perlu memahami manfaat, risiko, biaya, dan karakteristik setiap instrumen sebelum menentukan penempatannya dalam portofolio.
Nasabah Butuh Pendampingan Personal
Kebutuhan terhadap layanan yang lebih personal juga tercermin dalam OCBC 2026 Net Promoter Score Study.
Berdasarkan studi tersebut, nasabah affluent yang puas memiliki tingkat keterlibatan atau engagement 20% lebih tinggi dibandingkan nasabah yang belum merasa puas.
Studi yang sama menunjukkan 75% investor affluent menginginkan saran investasi yang disesuaikan dengan kondisi mereka.
Sementara itu, 70% mengharapkan penasihat keuangan atau advisor memberikan pandangan secara proaktif tanpa harus selalu diminta.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan nasabah kelas atas tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap produk investasi, tetapi juga kualitas pendampingan dalam mengambil keputusan keuangan.
Customer Experience Head OCBC, Hayati Indah Putri mengatakan, pemahaman terhadap kondisi nasabah menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman layanan perbankan yang relevan.
“Bagi nasabah affluent, pengalaman yang baik dimulai ketika bank memahami keseluruhan konteks hidupnya, bukan hanya angka pada portofolio. Personalisasi berarti memberikan akses yang mudah kepada advisory, solusi perbankan, dan manfaat yang benar-benar relevan,” ujar Hayati.
Kebutuhan tersebut semakin kompleks ketika pengelolaan aset harus berjalan beriringan dengan kebutuhan keluarga dan bisnis.
Nasabah perlu mempertimbangkan pertumbuhan investasi, ketersediaan dana tunai, perlindungan kekayaan, hingga perencanaan keuangan lintas generasi.
Secara global, kebutuhan terhadap akses investasi alternatif juga terlihat dari data yang dikutip OCBC. Sebanyak 68% individu dengan kekayaan bersih tinggi atau high-net-worth individuals (HNWI) berencana meningkatkan eksposur terhadap private equity.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9Greenpeace Bentangkan Spanduk di Bundaran HI, Pemerintah Hormati Kebebasan Berpendapat
- 10Polemik Ijazah Gibran, Prabowo Disarankan Ambil Langkah Taktis Ini Demi Cegah Indonesia Rusuh Seperti Eropa










