Izinkan Azan Berkumandang, Ini Sejarah Perkembangan Islam Di New York

AKURAT.CO Wali Kota New York, Eric Adams kini telah mengizinkan masjid-masjid di New York mengumandangkan azan tanpa perlu mengajukan izin lagi.
Namun azan baru diperbolehkan berkumandang ketika salat Jumat dan selama bulan suci Ramadhan, yakni ketika matahari terbenam dan maghrib tiba saja.
Dalam pernyataannya pada 29 Agustus, Eric Adams menyebut aturan itu akan menumbuhkan semangat inklusivitas. Ia juga menegaskan semua warga berhak menghayati keyakinan masing-masing di New York.
"Kami ingin saudara dan saudari kami yang beragama Islam mengetahui bahwa mereka bebas untuk menjalankan keyakinan mereka di kota New York karena berdasarkan hukum, kita semua berhak atas perlakuan yang setara. Pemerintah kita sangat bangga dalam mencapai hal ini," ujar Eric Adams dikutip melalui Associated Press dan Anadolu Agency.
Baca Juga: New York Masuk Daftar Kota Di Dunia Dengan Polusi Terburuk
Eric Adams juga mengatakan azan dapat dikumandangkan hingga 10 desibel melebihi tingkat kebisingan di lingkungan sekitar.
Lalu bagaimana sejarah perkembangan Islam di kota yang sebelumnya melarang kumandang azan tersebut? Simak ulasannya berikut!
Sejarah perkembangan Islam di New York
1. Muslim Kolonial
Sejarah Islam di New York dapat ditelusuri kembali di abad ke-17 dengan berdirinya koloni New Amsterdam. Pemukim Muslim pertama di New York kemungkinan besar merupakan pedagang Belanda dari Afrika Utara, Anthony Janszoon van Salee. a tercatat mempunyai alquran yang konon dilelang pada akhir abad 19.
Terdapat kemungkinan bahwa kelompok kecil Muslim Afrika Barat dan Madagaskar yang diperbudak tinggal di New York hingga abad 19, meskipun bukti-bukti masih bersifat anekdot dan didasarkan pada asumsi seputar nama dan wilayah asal berbagai individu yang diperbudak.
2. Muslim Modern
-
Migrasi awal
Migrasi awal muslim modern di New York sama seperti halnya wilayah lain di Amerika Serikat, yakni dimulai pada 1840-an, dengan kedatangan orang Yaman dan Turki, serta pelaut dan pedagang Bengali dan Levantine yang berlangsung hingga Perang Dunia I.
Pada 1907-an, imigran Lipka Tatar dari wilayah Podlasie Polandia mendirikan organisasi Muslim pertama di New York yang bernama American Mohammedan Society. Pada 1931 mereka mendirikan Masjid Powers Street di Williamsburg, menjadikannya masjid tertua yang masih beroperasi di New York.
Baca Juga: Hukum Bermain Game Online Saat Azan Berlangsung
-
Muslim Afrika-Amerika
Setelah migrasi besar-besaran di awal abad 20, New York muncul sebagai pusat Islam Afrika-Amerika, sebagian besar melalui Kuil Sains Moor Amerika dan Nation of Islam. Pada 1904, imam Sudan bernama Satti Majid melakukan perjalanan ke New York, mengambil tugas mengurus populasi kecil Muslim Asia Selatan dan Arab yang tinggal di lima wilayah. Ia kemudian menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam memperkenalkan sebagian besar wilayah New York dengan arus utama Islam Sunni.
-
Undang-undang Imigrasi dan Kebangsaan 1965
Disahkannya Undang-Undang Hart-Celler pada 1965 membuka jalan bagi pertumbuhan pesat imigrasi ke Amerika Serikat dari beberapa negara mayoritas Muslim. Sebelumnya, imigrasi ke Amerika Serikat sangat dibatasi oleh kuota etnis.
Pada 1970-an, gelombang Muslim dari Asia-Afrika mulai berdatangan ke kota New York. Hingga pada 1980 dan 1990-an, New York mulai menerima pengungsi Muslim dari wilayah yang sedang berperang, serta penerima lotere kartu hijau dari negara-negara seperti Bangladesh dan Republik baru di Asia Tengah.
-
Abad ke-21
Dengan kedatangan imigran Muslim dan konsolidasi komunitas Sunni Afrika-Aerka, Islam di New York mulai berkembang pada akhir abad 20. Pada dekade sebelum peristiwa 11 September dan pembunuhan Amadou Diallo pada 1999, New York muncul sebagai tujuan para pekerja Muslim di seluruh dunia.
Hingga akhirnya terjadi peristiwa Serangan 11 September yang menjadi momen menentukan bagi Islam di New York. Serangan 11 September ini menyebabkan gelombang reaksi islamofobia terhadap penduduk Muslim. Setelah diluncurkannya perang melawan teror, umat Islam di seluruh kota dicurigai oleh individu dan pemerintah.
Sistem Registrasi Khusus INS yang mengharuskan pria dewasa non warga negara dari 24 negara mayoritas Muslim mendaftar ke badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang baru dibentuk, mempunyai dampak signifikan terhadap umat Muslim di New York. Diperkirakan sekitar 20 ribu umat Islam meninggalkan Brooklyn selama periode ini.
Pada 2022, Biro Intelijen NYPD mulai melakukan pengawasan pada komunitas Muslim di seluruh wilayah New York. Mereka juga merekrut informan untuk memata-matai masjid dan kelompok mahasiswa Muslim. Namun program ini dikecam karena inkonstitusional dan dinyatakan ilegal di pengadilan. Sebagai gantinya, kepolisian menyelesaikan gugatan dengan membayar ganti rugi sebesar USD72.500.
-
Era Trump
Terpilihnya Donald Trump menjadikan babak baru bagi perkembangan Islam di Amerika Serikat, terutama di kota New York. Pada 2018, seorang imam Banglades dan asistennya ditembak mati di bagian Taman Ozon di Queens. Hal ini pun membuat jamaah mengatakan Presiden yang harus bertanggung jawab karena telah menumbuhkan kebencian pada umat muslim.
Umat Muslim di New York menanggapi tantangan ini dengan berbagai cara, mulai dari pengajuan tuntutan hukum terhadap polisi, mencalonkan diri untuk jabatan politik dan fokus pada bisnis. Pada 2017, setelah penandatanganan Perintah Eksekutif 13769 (dikenal sebagai Larangan Muslim), ribuan pengunjuk rasa dari semua agama berkumpul di Bandara John F. Kennedy di Queens, yang akhirnya memicu gerakan protes nasional dalam rangka solidaritas dengan umat Islam di seluruh negeri. Iklim pada pemerintahan Trump telah memicu kebangkitan politisi Muslim progresif.
Muslim di New York Saat Ini
Dilansir melalui Wikipedia, Islam merupakan agama ketiga yang paling banyak dianut di kota New York, setelah Kristen dan Yudaisme. Studi pada 2018 memperkirakan terdapat lebih dari 750 ribu muslim yang tinggal di New York. Jumlah ini merupakan jumlah muslim terbanyak berdasarkan kota di Amerika Serikat.
New York sendiri memiliki sekitar 275 masjid, jumlah yang lebih banyak dibandingkan tempat lain di Amerika Serikat. Masjid-masjid terkenal di kota ini antara lain Islamic Cultural Center of New York, Malcom Shabazz Mosque dan Masjidi Hazrati Abu Bakr Siddique.
Kini dengan diperbolehkannya kumandang azan di New York, menjadi satu pencapaian yang membanggakan bagi sejarah perkembangan Islam di New York. (Adinda Shafa Afriasti)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









