Akurat
Pemprov Sumsel

Hukum Islam Jaga Persaudaraan Antarbangsa di Musim Politik

Tria Sutrisna | 14 Desember 2023, 12:18 WIB
Hukum Islam Jaga Persaudaraan Antarbangsa di Musim Politik

AKURAT.CO Musim politik merupakan waktu yang rentan terjadi perpecahan dan konflik antarbangsa. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pendapat dan kepentingan politik. 

Dalam situasi seperti ini, sangat penting bagi kita semua untuk menjaga persaudaraan antarbangsa. Persaudaraan merupakan salah satu nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. 

Baca Juga: Ingin Bebas dari Anasir Politik, Alasan NU Berhentikan Nusron-Gus Falah

Persaudaraan tidak hanya dimaknai sebagai hubungan antara sesama muslim, tetapi juga dengan seluruh umat manusia. Hal ini didasarkan pada ajaran Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW.

Al-Quran menyebutkan bahwa semua manusia berasal dari satu ayah dan satu ibu. Allah berfirman dalam surah Al-Hujarat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١

yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ'ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr.

Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.

Hal ini menunjukkan bahwa semua manusia adalah saudara seketurunan, walaupun berbeda-beda suku, bangsa, dan agama.

Cara menjaga persaudaraan antarbangsa di musim politik

Berikut  beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menjaga persaudaraan antarbangsa di musim politik, dirangkum dari beberapa sumber.

1. Menghormati perbedaan pendapat

Setiap orang berhak memiliki pendapat dan pilihan politiknya masing-masing.

Masyarakat harus menghormati perbedaan pendapat tersebut dan tidak memaksakan kehendak orang lain.

2. Tidak menebar kebencian dan fitnah

Di musim politik, sering kali menjumpai berita-berita bohong dan fitnah yang disebarkan oleh pihak-pihak tertentu.

Masyarakat harus berhati-hati dan tidak mudah terpengaruh oleh berita-berita tersebut.

Sebaliknya, masyarakat harus berupaya untuk menyebarkan informasi yang benar dan tidak memicu kebencian.

3. Mengutamakan kepentingan bersama

Di atas perbedaan politik, semua masyarakat adalah saudara, sebangsa, dan setanah air.

Oleh karena itu, harus mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan.

4. Bersikap adil dan objektif

Harus bersikap adil dan objektif dalam menilai setiap kandidat atau partai politik. Jangan terpengaruh oleh sentimen pribadi atau golongan. 

Politik dalam Islam diarahkan untuk menciptakan masyarakat yang adil, sejahtera, dan berkeadilan sosial.

Baca Juga: Gibran Cari Restu Kiai NU

Dikutip dari NU Online, Imam Al-Ghazali mengaitkan pentingnya pemimpin dengan kelestarian agama sebagai berikut: 

المُلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

Artinya; “Kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya. Sesuatu yang tidak memiliki landasan pasti akan tumbang. Sedangkan sesuatu yang tidak memiliki pengawal akan tersia-siakan.” (Abu Hamid al-Ghazali, Ihyâ Ulumiddin, tt, Beirut: Darul Ma’rifah, Juz 1, h. 17).

Menjaga persaudaraan antarbangsa adalah kewajiban bagi setiap muslim.

Hal ini tidak hanya berlaku saat musim politik, tetapi juga pada setiap saat. Dengan menjaga persaudaraan, kita dapat menciptakan masyarakat yang damai dan sejahtera.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

T
R