Sejarah Pembukuan Hadits dari Zaman Nabi hingga Imam Al-Bukhari

AKURAT.CO Hadits merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur'an. Karena menjadi pedoman dalam menjalankan syariat, hadits harus dijaga keasliannya agar tidak berubah ataupun hilang seiring berjalannya waktu.
Oleh sebab itu, sejarah bagaimana hadits mulai dihimpun menjadi bagian penting dalam perkembangan ilmu Islam.
Proses tersebut tidak terjadi dalam satu waktu, melainkan melalui beberapa tahapan panjang, mulai dari masa Rasulullah SAW, era sahabat, masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, hingga mencapai puncaknya pada zaman Imam Al-Bukhari dan para ulama hadis lainnya.
Pada masa awal Islam, penyampaian hadis lebih banyak mengandalkan hafalan para sahabat. Namun seiring meluasnya wilayah Islam dan wafatnya banyak ulama penghafal hadits, muncul kekhawatiran bahwa sebagian riwayat akan hilang.
Dari sinilah lahir gerakan besar untuk menghimpun dan membukukan hadits secara sistematis sehingga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baca Juga: Benarkah Ada Weton yang Jadi Incaran Sengkolo pada Malam Satu Suro? Ini Jawaban Menurut Hadits Nabi
Tradisi Menulis Ilmu Sudah Ditekankan Sejak Dulu
Dalam tradisi Islam, menulis ilmu telah lama dipandang sebagai cara terbaik menjaga pengetahuan agar tidak hilang. Di kalangan pesantren dikenal ungkapan Arab:
"Apa yang dihafal bisa hilang, sedangkan apa yang ditulis akan tetap terjaga."
Pesan serupa juga disampaikan oleh Imam As-Syafi'i. Beliau menggambarkan ilmu seperti unta yang mudah lepas apabila tidak dijaga. Menurutnya, buku menjadi tempat menyimpan ilmu, sedangkan pena berperan sebagai penjaganya.
Pandangan tersebut kemudian menjadi dasar mengapa para ulama begitu serius dalam mendokumentasikan ilmu agama, termasuk hadits Nabi Muhammad SAW.
Hadits Sudah Mulai Ditulis Sejak Masa Rasulullah SAW
Banyak orang mengira hadits baru ditulis ratusan tahun setelah Rasulullah wafuk. Anggapan ini kurang tepat. Faktanya, pada masa Nabi Muhammad SAW sudah terdapat berbagai bentuk pencatatan terhadap sabda, surat, maupun dokumen resmi yang beliau keluarkan.
Beberapa bentuk pencatatan tersebut antara lain perjanjian-perjanjian penting seperti Perjanjian Hudaibiyah, Piagam Madinah, hingga Perjanjian Tabuk. Selain itu, Rasulullah juga mengirimkan surat kepada para gubernur, pemimpin daerah, dan raja-raja di luar Jazirah Arab sebagai ajakan memeluk Islam maupun petunjuk dalam menjalankan pemerintahan.
Seluruh dokumen tersebut pada hakikatnya merupakan bagian dari hadits karena berisi perkataan dan instruksi Rasulullah SAW yang ditulis secara langsung.
Meski demikian, pencatatan hadits pada masa Nabi belum dilakukan dalam bentuk kitab yang tersusun rapi sebagaimana dikenal sekarang. Sebagian besar sahabat masih mengandalkan hafalan yang memang menjadi tradisi masyarakat Arab kala itu.
Mengapa Hadits Tidak Langsung Dibukukan Secara Menyeluruh?
Pada masa Rasulullah SAW, perhatian utama umat Islam difokuskan pada penulisan Al-Qur'an. Para sahabat khawatir apabila penulisan hadits dilakukan secara besar-besaran, masyarakat awam akan kesulitan membedakan mana ayat Al-Qur'an dan mana ucapan Rasulullah.
Selain itu, kemampuan menghafal masyarakat Arab ketika itu sangat kuat. Budaya lisan berkembang dengan baik sehingga hafalan menjadi media utama dalam menjaga ilmu.
Setelah Al-Qur'an selesai dihimpun dan tersebar luas, kekhawatiran tercampurnya Al-Qur'an dengan hadits semakin berkurang. Kondisi inilah yang membuka jalan bagi pembukuan hadis secara lebih luas.
Sahabat Nabi Sudah Memiliki Catatan Hadits Pribadi
Walaupun belum ada pembukuan resmi, sejumlah sahabat telah memiliki kumpulan hadits dalam bentuk catatan pribadi atau shahifah. Catatan tersebut menjadi bukti bahwa tradisi menulis hadits sebenarnya sudah berlangsung sejak generasi pertama Islam.
Salah satu sahabat yang dikenal memiliki catatan hadits adalah Jabir bin Abdullah. Shahifah miliknya kemudian dipelajari oleh generasi tabi'in, termasuk Qatadah bin Di'amah yang dikenal sebagai ulama besar dari Basrah.
Ali bin Abi Thalib juga memiliki catatan yang berisi berbagai hukum Islam, seperti diyat, pembebasan tawanan perang, dan ketentuan qishash.
Sementara itu, Abdullah bin Amr bin Ash memiliki kumpulan hadis yang paling terkenal, yaitu Ash-Shahifah Ash-Shadiqah. Catatan tersebut diperkirakan memuat sekitar seribu hadits Rasulullah SAW. Jumlah ini menjadikannya sebagai salah satu koleksi hadits terbesar yang dimiliki sahabat pada masa itu.
Namun, seluruh catatan tersebut masih bersifat pribadi dan belum disusun sebagai kitab yang disebarluaskan kepada masyarakat luas.
Baca Juga: 6 Hadits Tentang Maulid Nabi Lengkap dengan Hukum hingga Keutamaannya
Titik Balik Pembukuan Hadits pada Masa Umar bin Abdul Aziz
Perubahan besar terjadi pada penghujung abad pertama Hijriah ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz memimpin Daulah Umayyah.
Beliau melihat banyak ulama dan penghafal hadis mulai wafat. Jika kondisi itu terus dibiarkan, dikhawatirkan sebagian hadits Rasulullah akan ikut hilang bersama para perawinya.
Karena itulah Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada Abu Bakar bin Hazm, gubernur Madinah sekaligus seorang ulama, agar seluruh hadits Rasulullah dihimpun dan dituliskan.
Isi surat tersebut menunjukkan kegelisahan sang khalifah terhadap hilangnya ilmu akibat wafatnya para ulama. Kebijakan ini menjadi tonggak awal pembukuan hadis secara resmi dan berskala besar dalam sejarah Islam.
Ibn Syihab Az-Zuhri Menjadi Pelopor Pembukuan Hadis Resmi
Perintah Umar bin Abdul Aziz kemudian dijalankan oleh para ulama. Tokoh yang paling dikenal sebagai pelopor pembukuan hadis resmi adalah Ibn Syihab Az-Zuhri, seorang tabi'in yang pernah berguru kepada Anas bin Malik.
Az-Zuhri mulai menghimpun hadis-hadis Nabi secara sistematis. Dalam penyusunannya, beliau tidak hanya memasukkan hadis Rasulullah, tetapi juga pendapat para sahabat dan fatwa tabi'in yang berkaitan dengan tema tertentu.
Model penyusunan seperti ini menjadi fondasi awal perkembangan kitab-kitab hadis pada abad berikutnya.
Yang membedakan periode ini dengan masa sebelumnya adalah tujuan pembukuan. Bila sebelumnya catatan hanya menjadi koleksi pribadi, kini kitab hadis mulai diperbanyak, diajarkan kepada masyarakat, dan dijadikan rujukan ilmiah.
Perkembangan Pesat Pembukuan Hadis pada Abad Kedua Hijriah
Memasuki abad kedua Hijriah, pembukuan hadits berkembang sangat pesat di berbagai pusat keilmuan Islam.
Di Mekkah muncul Ibnu Juraij. Di Madinah lahir karya-karya Ibnu Ishaq dan Imam Malik bin Anas. Basrah melahirkan Ar-Rabi' bin Shabih, Sa'id bin Abi Arubah, serta Hammad bin Salamah. Kufah memiliki Sufyan Ats-Tsauri, sementara Syam dikenal dengan Imam Al-Auza'i.
Di Yaman terdapat Ma'mar bin Rasyid, sedangkan Khurasan melahirkan Abdullah bin Al-Mubarak.
Pada periode ini, metode penyusunan kitab semakin berkembang.
Para ulama mulai mengelompokkan hadis ke dalam berbagai bab pembahasan seperti shalat, zakat, puasa, haji, muamalah, hingga hukum pidana Islam.
Pola penyusunan berdasarkan tema tersebut memudahkan masyarakat dan para penuntut ilmu dalam mencari hadis sesuai kebutuhan.
Masa Keemasan Pembukuan Hadits pada Abad Ketiga Hijriah
Abad ketiga Hijriah dikenal sebagai masa keemasan ilmu hadis. Pada periode inilah lahir kitab-kitab hadits yang hingga kini menjadi rujukan utama umat Islam di seluruh dunia.
Nama terbesar pada masa ini adalah Imam Al-Bukhari, disusul Imam Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah. Enam kitab karya mereka kemudian dikenal sebagai Al-Kutub As-Sittah atau enam kitab induk hadits.
Perbedaan penting dibanding generasi sebelumnya adalah fokus penyusunannya. Para ulama pada abad ketiga hanya memasukkan hadits Rasulullah SAW tanpa menyertakan fatwa tabi'in maupun atsar sahabat dalam kitab-kitab utama mereka.
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim bahkan menerapkan standar seleksi yang sangat ketat. Mereka hanya memasukkan hadits yang memenuhi syarat kesahihan berdasarkan penelitian terhadap sanad, kejujuran perawi, ketelitian hafalan, serta kesinambungan rantai periwayatan.
Sementara Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah juga memasukkan hadits dengan kualitas selain sahih, namun tetap disertai penjelasan sehingga para ulama dapat mengetahui tingkat kekuatannya.
Metode Para Ulama Mengumpulkan Hadits
Sebelum sebuah hadits ditulis ke dalam kitab, para ulama melakukan perjalanan ilmiah yang sangat panjang.
Mereka berpindah dari satu kota ke kota lain untuk menemui guru-guru hadis, mendengarkan langsung riwayat yang disampaikan, menghafalnya, lalu mencocokkannya dengan riwayat lain dari berbagai jalur periwayatan.
Setelah memastikan keabsahan sanad dan isi hadis, barulah riwayat tersebut dituliskan ke dalam kitab. Karena itu, kitab-kitab hadits yang lahir pada masa klasik merupakan hasil penelitian ilmiah yang berlangsung bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
Pembukuan Hadits Menjadi Warisan Peradaban Islam
Proses panjang pembukuan hadits menunjukkan betapa besar perhatian ulama terhadap penjagaan ajaran Islam. Mereka tidak sekadar mengumpulkan riwayat, tetapi juga melakukan verifikasi yang ketat agar hadits yang sampai kepada generasi berikutnya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Tradisi ilmiah ini menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah peradaban Islam.
Melalui pembukuan hadits, umat Islam hingga hari ini masih dapat mempelajari perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah SAW secara sistematis melalui kitab-kitab yang telah disusun para ulama sejak lebih dari seribu tahun lalu.
Upaya tersebut kemudian diteruskan oleh Ibn Syihab Az-Zuhri dan berkembang pesat pada abad kedua serta mencapai puncaknya pada abad ketiga Hijriah melalui karya Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, dan para ahli hadits lainnya.
Berkat proses penghimpunan, penelitian, dan pembukuan yang sangat teliti itu, hadits tetap terjaga keasliannya hingga kini dan menjadi salah satu sumber utama ajaran Islam setelah Al-Qur'an.
Mutiara MY (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








