Tak Hanya Konflik Iran-Israel, Ekonom Wanti-wanti Potensi Invasi China ke Taiwan

AKURAT.CO Tahun 2024 ditaksir akan menjadi tahun di mana kompleksitas resiko geopolitik semakin meningkat.
Menurut Ekonom dan Dosen Universitas Bakrie, Asmiati Malik, Ph.D Associate, peran utama dalam memperumit situasi geopolitik termasuk peran Ukraine, Israel, Palestina, dan Iran yang menjadi tempat bagi konflik proxy.
Dalam paparannya, Asmiati menekankan bahwa perubahan signifikan dalam geopolitik tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat, terutama menjelang Pemilu Amerika Serikat.
Baca Juga: Perubahan Persepsi Masyarakat Indonesia Terhadap China
Ia mengaitkan hal ini dengan kebijakan luar negeri yang berbeda dari calon presiden AS, baik itu Joe Biden maupun Donald Trump.
"Jadi dengan asumsi awal saat strongly berargumentasi bahwa orang ini tidak akan berakhir dalam jangka pendek, terutama sebelum Pemilu Amerika Serikat tahun ini pada end of the year," kata Asmiati dalam Diskusi Ekonom Perempuan Indef bertajuk Nasib Ekonomi di Tengah Ketegangan Perang Global, Sabtu (20/4/2024).
Salah satu poin penting yang ditekankan adalah eskalasi konflik di Timur Tengah, yang telah diprediksi Asmiati sebelumnya dan terbukti terjadi pada bulan ini. Dia juga membahas dampak dari kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat terhadap konflik di wilayah tersebut.
"Saya di bulan Desember tahun lalu di seminar Indef sebenarnya sudah menjelaskan risiko global dan potensinya yang akan terjadi di 2024, termasuk terjadi eskalasi perang di Timur Tengah dan prediksi tersebut akhirnya terjadi di bulan ini," jelasnya.
Selain itu, ia juga memperingatkan tentang risiko cuaca ekstrim yang dapat mempengaruhi kondisi ekonomi global.
Dia menyoroti kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem dengan dampak yang signifikan, seperti yang telah terjadi dengan fenomena El Nino sebelumnya.
Dalam analisisnya, Asmiati juga menyoroti perang sebagai faktor risiko yang mungkin terjadi.
Dia mencatat bahwa konflik di Israel, Palestina, dan Ukraina memiliki kemungkinan medium-high dengan dampak yang signifikan, mengingat adanya solusi alternatif yang telah ditemukan oleh negara-negara Eropa untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya di wilayah tersebut.
"Saya ingin menekankan kembali bahwa kalau kita lihat pada slide saya ya ada data di situ kita lihat ada high probability atau probabilitas yang tinggi, kemudian high impact dengan impact. Tinggi kita lihat ada 5 resiko yang sangat kemungkinan besar akan terjadi," tambahnya.
Tidak hanya itu, Asmiati juga membahas persaingan global dalam penerapan teknologi hijau atau green technology.
Dia mencatat bahwa kompetisi antara negara-negara seperti Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa dapat berdampak pada harga dan kualitas produk, serta mempengaruhi posisi Indonesia dalam pasar global.
"Karena di dalam kalau kita lihat secara teori semakin tinggi kompetition hair competition, maka biasanya the price produk pasti akan rendah dan barangnya akan semakin bagus gitu," ucapnya.
Poin terakhir yang dibahas adalah potensi invasi China terhadap Taiwan, yang dapat memicu konflik yang lebih luas dan berdampak besar terhadap stabilitas regional.
Serta, ia menekankan bahwa spill over dari konflik tersebut dapat dirasakan oleh banyak negara, termasuk Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










