Akurat
Pemprov Sumsel

Bank Dunia Sebut Negara Berpenghasilan Menengah Termasuk RI Berisiko Terjebak Stagnasi

Silvia Nur Fajri | 3 Agustus 2024, 14:19 WIB
Bank Dunia Sebut Negara Berpenghasilan Menengah Termasuk RI Berisiko Terjebak Stagnasi

AKURAT.CO Laporan terbaru dari Bank Dunia (world bank), mengungkapkan bahwa lebih dari 100 negara, termasuk China, India, Brazil, dan Afrika Selatan, menghadapi risiko terjebak dalam kategori negara berpenghasilan menengah atau stagnasi kecuali mereka menerapkan strategi pertumbuhan ekonomi yang radikal.

Organisasi pembangunan yang berbasis di Washington ini mencatat bahwa negara-negara berkembang akan sulit mengejar standar hidup Amerika Serikat (AS) jika terlalu bergantung pada investasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa selama lima dekade terakhir, banyak negara yang berhasil meningkatkan kekayaan mereka ternyata mengalami jebakan di mana pendapatan per kapita mereka tetap hanya sekitar 10% dari pendapatan AS, yakni sekitar USD8.000. Sejak tahun 1990, hanya 34 negara berpenghasilan menengah yang berhasil beralih ke status negara berpenghasilan tinggi, dan lebih dari sepertiganya merupakan negara yang mendapat manfaat dari integrasi ke dalam Uni Eropa atau penemuan sumber daya minyak baru.

Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill, mengungkapkan bahwa berdasarkan tren saat ini, China akan membutuhkan waktu sekitar 10 tahun dan India sekitar 75 tahun untuk mencapai pendapatan per kapita yang setara dengan 25% dari tingkat pendapatan AS. "Namun, terlalu banyak negara berpenghasilan menengah yang masih bergantung pada strategi lama untuk mencapai status negara maju. Mereka sering terlalu lama mengandalkan investasi atau terlalu cepat beralih ke inovasi," katanya dikutip Sabtu (3/8/2024).

Baca Juga: Bank Dunia Apresiasi Proyek Prioritas Pemerintah

Gill menegaskan perlunya pendekatan baru yang melibatkan tiga tahap. Pertama, fokus pada investasi. Kedua, menambahkan infusi teknologi baru dari luar negeri. Ketiga, mengadopsi strategi yang menyeimbangkan antara investasi, infusi, dan inovasi. "Dengan meningkatnya tekanan demografi, ekologi, dan geopolitik, tidak ada ruang untuk melakukan kesalahan," tambahnya.

Menurut laporan Bank Dunia, pada akhir tahun 2023 terdapat 108 negara yang dikategorikan sebagai negara berpenghasilan menengah, dengan pendapatan tahunan per kapita berkisar antara USD1.136 hingga USD13.845. Negara-negara ini menjadi rumah bagi 6 miliar orang, atau 75% dari populasi global, dan dua pertiga di antaranya hidup dalam kemiskinan ekstrem. Negara-negara ini menyumbang lebih dari 40% produk domestik bruto global, serta lebih dari 60% emisi karbon.

Selanjutnya, Gill memperingatkan bahwa negara-negara berpenghasilan menengah menghadapi tantangan yang jauh lebih besar untuk keluar dari jebakan ekonomi ini. "Kami tidak cukup naif untuk berpikir bahwa ini akan mudah. Negara-negara berpenghasilan menengah harus melakukan keajaiban tidak hanya untuk mencapai status berpenghasilan tinggi, tetapi juga untuk menghindari jalur pertumbuhan yang intensif karbon yang merusak lingkungan," jelasnya.

Sebagai solusi, Bank Dunia mengusulkan "strategi 3i" yang disesuaikan dengan tahap pembangunan negara. Negara-negara berpenghasilan rendah sebaiknya fokus pada kebijakan untuk meningkatkan investasi. Setelah mencapai status berpenghasilan menengah ke bawah, mereka harus memperluas kebijakan untuk mencakup infusi teknologi dari luar negeri. Pada tingkat pendapatan menengah ke atas, negara-negara harus mengadopsi strategi yang menyeimbangkan investasi, infusi, dan inovasi.

Di Indonesia, laporan bertajuk "The World Development Report 2024: The Middle Income Trap", menyebutkan bahwa pendapatan per kapita AS saat ini berada di kisaran USD80.300. Bank Dunia memperkirakan bahwa Indonesia membutuhkan waktu 70 tahun untuk mencapai pendapatan per kapita setara negara maju, yaitu sekitar USD20.075. Di 2023, pendapatan per kapita Indonesia baru sekitar USD4.580, menempatkannya dalam kategori negara berpendapatan menengah atas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.