Ekonomi Melesu, Bank Sentral China Siapkan Sederet Kebijakan Baru
Demi Ermansyah | 25 September 2024, 12:42 WIB

AKURAT.CO China beberapa waktu lalu kembali mengumumkan langkah-langkah tambahan untuk mendorong perekonomiannya yang sedang lesu, dalam sebuah pengarahan yang dipimpin oleh kepala bank sentral, bersama dengan regulator sekuritas dan keuangan.
Berikut adalah poin-poin utama dari pengarahan yang berlangsung sekitar 90 menit tersebut.
Gubernur bank sentral China atau People's Bank of China (PBoC), Pan Gongsheng melalui lansiran Bloomberg, mengumumkan beberapa kebijakan untuk mendorong pinjaman dan meringankan beban utang yang ada.
Dimana, kebijakan tersebut mencakup pemotongan rasio persyaratan cadangan (reserve requirement ratio/RRR), penurunan suku bunga kebijakan tujuh hari, serta penurunan suku bunga KPR untuk pinjaman yang sudah ada. Pan juga menyatakan kemungkinan adanya pemotongan RRR lebih lanjut.
Selain itu, Pan mengumumkan dukungan likuiditas sebesar setidaknya CNY500 miliar (sekitar Rp1.078 triliun) untuk sektor saham. Bahkan sebuah fasilitas swap akan dibuka untuk memungkinkan perusahaan sekuritas, dana, dan asuransi mendapatkan akses ke PBOC untuk membeli saham.
Tak hanya itu saja, dirinya juga menyebutkan bahwa otoritas sedang mengkaji pembentukan dana stabilisasi saham, meskipun detailnya belum diungkapkan.
Ketua Komisi Pengawas Sekuritas China (China Securities Regulatory Commission/CSRC), Wu Qing, mengatakan langkah-langkah baru untuk mendorong merger dan akuisisi akan segera diumumkan. Dirinya juga menekankan pentingnya peningkatan pengawasan regulasi oleh CSRC.
Sementara itu, Kepala Administrasi Pengawas Keuangan Nasional, Li Yunze, mengumumkan bahwa China akan menambah modal tingkat satu ke enam bank komersial utama. Meski para analis menyambut baik stimulus ini, mereka memperingatkan bahwa langkah-langkah tersebut belum cukup untuk menjadi "bazooka" besar yang dibutuhkan untuk mendorong konsumen China kembali berbelanja.
Meskipun penurunan suku bunga KPR akan membantu pemilik rumah, hal ini diperkirakan belum mampu sepenuhnya memulihkan pasar perumahan. Usai pengumuman tersebut, saham di Hong Kong dan China mengalami kenaikan, sementara imbal hasil obligasi 10-tahun China turun menjadi 2% untuk pertama kalinya. Yuan offshore tidak menunjukkan perubahan signifikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









