Akurat
Pemprov Sumsel

Gen Z Protes PPN 12 Persen Lewat Frugal Living dan Loud Budgeting, Serius atau Cuma FOMO?

Hefriday | 31 Desember 2024, 16:12 WIB
Gen Z Protes PPN 12 Persen Lewat Frugal Living dan Loud Budgeting, Serius atau Cuma FOMO?

AKURAT.CO Viral ajakan No Buy Challenge 2025 di media sosial. Gerakan yang mengajak warganet untuk tidak membeli hal-hal konsumtif ini sejatinya lebih dulu dipopulerkan oleh Tiktokers luar negeri, dan kemudian diadaptasi dengan kearifan lokal.

Kurang lebih, gerakan ini mengajak untuk tidak membeli 6 hal berikut selama 2025, termasuk membeli sepatu baru selama yang lama tidak rusak, membeli skincare baru selama yang lama masih ada, membeli kopi kecuali ada event dan meeting, membeli baju untuk mengikuti tren, membeli makanan di luar serta berlangganan satu aplikasi dalam satu periode.

Ajakan ini menjadi viral karena momennya bertepatan dengan kebijakan PPN 12% yang mulai berlaku besok, Rabu (1/1/2025). Bisa dibilang, ajakan ini merupakan bentuk perlawanan warganet. "Mau lebih sering beli makan di warung daripada di mall/ restoran sih. Sama mau kurangi jajan snack dan printilan kalau bisa, karena ini yang lebih sulit," unggah akun taekookstory pada Selasa (31/12/2024), menanggapi ajakan tersebut.

Baca Juga: Kaleidoskop Makroekonomi 2024: PPN 12 Persen dan Urgensinya

Fenomena hidup hemat tersebut juga dikenal dengan frugal living dan loud budgeting. Namun benarkah Gen Z di Indonesia bisa konsisten dengan sikap mereka ini? Direktur Eksekutif sekaligus ekonom Celios, Bhima Yudhistira, menjelaskan bahwa loud budgeting merupakan respons generasi muda terhadap kesulitan ekonomi yang mereka alami.

“Generasi milenial dan Gen-Z mulai lebih berani mengatakan ‘tidak’ pada pengeluaran yang tidak perlu, seperti menolak ajakan nongkrong atau membeli barang yang tidak mendesak. Mereka menerapkan konsumsi yang lebih terukur dan jelas,” ujar Bhima pada Akurat.co Selasa (19/11/2024).

Namun, ada dua sisi dalam fenomena ini, dimana loud budgeting dan frugal living memiliki kesamaan dalam mengurangi pengeluaran. Bedanya, loud budgeting lebih menonjolkan sikap terbuka dan ekspresif, di mana seseorang secara langsung mengatakan bahwa mereka memilih untuk berhemat atau berani bilang tidak untuk pembelian barang yang tidak penting.

Di sisi lain, frugal living lebih diam-diam dan seringkali dilakukan tanpa banyak pengumuman. Bhima menjelaskan bahwa kedua pendekatan ini mencerminkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola pengeluaran secara bijak, terutama dengan meningkatnya harga barang yang berdampak pada daya beli. Namun, fenomena ini tidak lepas dari tantangan yang bisa memengaruhi perekonomian.

Fenomena frugal living sendiri bukan hal baru, terutama di negara-negara seperti China dan Jepang, di mana Gen-Z sudah mulai menerapkan gaya hidup ini sejak dua tahun terakhir. Mereka lebih serius dalam menjalankan pola konsumsi hemat, memilih untuk mengurangi pembelian barang non-pokok dan lebih fokus pada kebutuhan dasar. Maklum saja, China tengah mengalami stagnasi konsumsi domestik sementara Jepang juga dihadang inflasi.

Di Indonesia, meskipun gerakan ini mulai terdengar, masih ada keraguan di kalangan beberapa individu, terutama dalam penerapannya yang dianggap musiman atau hanya karena FOMO (fear of missing out). Meskipun banyak yang mulai mengadopsi pola ini, masih ada pandangan skeptis, dengan sebagian orang berpikir bahwa frugal living hanya akan bertahan sementara.

Di kalangan Gen-Z Indonesia, ada perbedaan sikap dalam menghadapi gaya hidup hemat ini. Sebagian sudah mulai menerapkannya, tetapi ada juga yang merasa enggan. Sebagai contoh, beberapa teman Gen-Z memilih untuk lebih mengutamakan hiburan atau pengalaman sosial daripada menahan pengeluaran.

"Sebagian teman-temanku sudah mulai menerapkan pola ini, tetapi ada juga yang masih belum mau ikut. Mereka merasa ‘capek’ kalau harus berhemat terus menerus," ujar Natasha, salah seorang Gen Z saat dihubungi akurat.co, Selasa (31/12/2024).

Selain itu, dalam hal konsumsi kafe, banyak dari kalangan Gen-Z yang tetap melanjutkan kebiasaan nongkrong di coffee shop, terutama karena fasilitas yang ditawarkan. Banyak coffee shop kini menyediakan wifi dengan koneksi 5G yang memungkinkan mereka untuk bekerja di luar rumah atau kantor.

“Kalangan Gen-Z yang kini bekerja dari mana saja cenderung memilih coffee shop karena mereka bisa bekerja sekaligus menikmati fasilitas wifi yang mendukung pekerjaan mereka,” tambahnya.

"Kami para Gen-Z juga tidak ingin yang hanya bekerja dengan suasana yang monoton selalu. Jadilah kenapa Coffee Shop menjadi jalan yang tepat untuk kami para WFA (Work From Anywhere). Kenaikan PPN 12 persen ini juga pengaruh banget sama pendapatan kami. Pendapatan yang tidak seberapa dan boleh dibilang tidak semua perusahaan memberikan gaji UMR sesuai peraturan pemerintah, tapi harus dihadapkan dengan pajak yang dinaikan terus," ketusnya.

Di luar pro dan kontra terkait pola konsumsi ini di kalangan Gen Z, yang jelas fenomena ini adalah refleksi bahwa daya beli masyarakat, terutama Gen Z yang masih terbilang baru terjun di angkatan kerja, belum pulih sepenuhnya setelah pandemi.

Peningkatan harga barang sering kali tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan yang signifikan, sehingga banyak orang merasa perlu mengubah pola konsumsi mereka.

Bhima menekankan bahwa jika pendapatan tidak meningkat sebanding dengan harga barang, maka masyarakat akan cenderung menyesuaikan pengeluarannya. Bhima juga menyoroti bahwa penerapan kebijakan fiskal yang lebih cermat dari pemerintah sangat dibutuhkan.

Menaikkan tarif pajak tanpa memperhatikan dampaknya pada daya beli masyarakat bisa menjadi kebijakan yang kontraproduktif. Oleh karena itu, pemerintah perlu mencari solusi yang lebih inovatif untuk menjaga keseimbangan antara penerimaan pajak dan konsumsi rumah tangga.

Melihat tren ini, Bhima percaya bahwa ke depannya loud budgeting dan frugal living akan semakin populer di Indonesia. Namun, ia juga mengingatkan bahwa sektor swasta dan pemerintah perlu menyesuaikan diri dengan perubahan ini.

Misalnya, sektor retail perlu mencari cara agar dapat bertahan dengan pola konsumsi yang lebih hemat. Di sisi lain, pemerintah harus mengkaji kembali kebijakan fiskalnya agar dapat meningkatkan penerimaan pajak tanpa menekan pengeluaran masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa