Bank Dunia Sebut Negara Berkembang Kian Tertinggal dari Negara Kaya
Demi Ermansyah | 18 Januari 2025, 23:28 WIB

AKURAT.CO Negara-negara berkembang menghadapi tantangan berat yang berpotensi memperburuk kesenjangan ekonomi mereka dengan negara maju.
Mengacu dalam laporan terbaru Prospek Ekonomi Global yang dirilis Bank Dunia baru-baru ini menunjukan prospek pertumbuhan jangka panjang negara-negara ini diproyeksikan menjadi yang terendah sejak awal abad ke-21.
Menurut Chief Economist Bank Dunia, Indermit Gill menyampaikan keprihatinan mendalam bahwa negara-negara berkembang, yang sebelumnya mencoba mengejar ketertinggalan, kini semakin jauh tertinggal.
“Negara-negara berkembang memulai abad ini dengan semangat untuk menutup kesenjangan dengan negara-negara kaya, tetapi sekarang mereka semakin ketinggalan,” tulis Gill melalui lansiran Reuters, Sabtu (18/1/2025).
Laporan tersebut menyebutkan bahwa hanya sedikit negara berpenghasilan rendah yang akan naik status menjadi negara berpenghasilan menengah dalam 25 tahun ke depan.
Akibatnya, ratusan juta orang masih akan terjebak dalam kemiskinan ekstrem, kelaparan, dan kekurangan gizi. Kondisi ini memprihatinkan karena dunia seharusnya bisa lebih inklusif dalam distribusi kekayaan.
Sejak tahun 2000, sebanyak 39 negara berhasil keluar dari kategori negara miskin.
Namun, 26 negara lainnya masih terjebak dalam pertumbuhan ekonomi yang stagnan akibat berbagai tantangan, seperti konflik berkepanjangan, ketidakstabilan politik, dan perubahan iklim yang merusak infrastruktur serta hasil panen.
Sebelumnya, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya akan mencapai 2,7% pada 2025-2026, jauh di bawah rata-rata 3,1% sebelum pandemi COVID-19.
Pertumbuhan ini terlalu rendah untuk membantu negara-negara berkembang mengejar ketertinggalan.
Selain itu, investasi di negara-negara miskin juga semakin terhambat akibat ketidakpastian kebijakan dari negara-negara maju.
Sehingga dalam situasi tersebut, negara-negara berkembang yang seharusnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global malah berada dalam posisi sulit untuk berkembang lebih jauh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








