Jadi Komoditas Politik, TikTok Dipakai Untuk Alat Tawar Perang Dagang oleh Trump
Demi Ermansyah | 19 April 2025, 18:59 WIB

AKURAT.CO Presiden AS, Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan penjualan aplikasi TikTok di Amerika Serikat tak bisa dipisahkan dari dinamika perang dagang yang tengah berlangsung antara AS dan China.
Dikutip dari laman Reuters, Sabtu (19/4/2025), Trump menegaskan bahwa penundaan kesepakatan TikTok dilakukan karena masih ada ketegangan dalam perundingan tarif impor antar kedua negara.
“Ya, kami memiliki kesepakatan untuk TikTok, tetapi itu akan bergantung pada China, jadi kami hanya akan menunda kesepakatan sampai semuanya berjalan lancar,” ujarnya.
Pernyataan tersebut semakin memperjelas bahwa TikTok kini bukan hanya sekadar aplikasi media sosial, melainkan telah menjadi komoditas politik dalam konflik dagang dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
“Ya, kami memiliki kesepakatan untuk TikTok, tetapi itu akan bergantung pada China, jadi kami hanya akan menunda kesepakatan sampai semuanya berjalan lancar,” ujarnya.
Pernyataan tersebut semakin memperjelas bahwa TikTok kini bukan hanya sekadar aplikasi media sosial, melainkan telah menjadi komoditas politik dalam konflik dagang dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Bahkan sebelumnya, pemerintah AS memaksa ByteDance Ltd, induk perusahaan TikTok, untuk mendivestasikan operasional aplikasi tersebut di Amerika atas alasan keamanan data nasional.
Baca Juga: Trump Ubah Haluan! Siap Kurangi Tarif China Demi Akuisisi Platform TikTok
Trump menyiratkan bahwa keberatan China terhadap tarif baru AS turut mempersulit penyelesaian kesepakatan.
Trump menyiratkan bahwa keberatan China terhadap tarif baru AS turut mempersulit penyelesaian kesepakatan.
“Saya pikir ini kesepakatan yang bagus untuk China, TikTok memang bagus untuk China, dan saya pikir mereka ingin melihat kami mencapai kesepakatan, terutama dengan perusahaan-perusahaan terbaik di dunia yang terlibat,” paparnya.
Sejumlah analis menilai bahwa isu TikTok kini telah menjadi instrumen tawar-menawar diplomatik. Trump menyatakan bahwa pembicaraan soal TikTok hanya akan memakan waktu singkat jika kesepakatan dagang bisa diraih.
“Jika kita membuat kesepakatan, saya kira kita akan meluangkan waktu lima menit untuk membicarakan TikTok,” ungkap Trump.
Sementara itu, baik Washington maupun Beijing saling menyalahkan terkait mandeknya perundingan. Gedung Putih menyebut bahwa China belum mengajukan proposal konkret, sedangkan Beijing menuduh AS menetapkan tuntutan yang tidak jelas.
Langkah menjadikan TikTok sebagai bagian dari strategi dagang AS mendapat sorotan tajam dari pegiat kebebasan internet. Mereka menilai bahwa keputusan politik atas dasar pertimbangan dagang bisa menciptakan preseden buruk bagi kebijakan teknologi global di masa depan.
Di tengah tarik-ulur ini, nasib TikTok masih menggantung. Trump menegaskan keterbukaannya untuk menurunkan tarif jika ada sinyal positif dari China, termasuk menyangkut kebijakan perusahaan digital asal negara tersebut.
“Semua bisa didiskusikan, tapi itu tergantung pada seberapa jauh mereka mau bekerja sama," tambah Trump.
Sejumlah analis menilai bahwa isu TikTok kini telah menjadi instrumen tawar-menawar diplomatik. Trump menyatakan bahwa pembicaraan soal TikTok hanya akan memakan waktu singkat jika kesepakatan dagang bisa diraih.
“Jika kita membuat kesepakatan, saya kira kita akan meluangkan waktu lima menit untuk membicarakan TikTok,” ungkap Trump.
Sementara itu, baik Washington maupun Beijing saling menyalahkan terkait mandeknya perundingan. Gedung Putih menyebut bahwa China belum mengajukan proposal konkret, sedangkan Beijing menuduh AS menetapkan tuntutan yang tidak jelas.
Langkah menjadikan TikTok sebagai bagian dari strategi dagang AS mendapat sorotan tajam dari pegiat kebebasan internet. Mereka menilai bahwa keputusan politik atas dasar pertimbangan dagang bisa menciptakan preseden buruk bagi kebijakan teknologi global di masa depan.
Di tengah tarik-ulur ini, nasib TikTok masih menggantung. Trump menegaskan keterbukaannya untuk menurunkan tarif jika ada sinyal positif dari China, termasuk menyangkut kebijakan perusahaan digital asal negara tersebut.
“Semua bisa didiskusikan, tapi itu tergantung pada seberapa jauh mereka mau bekerja sama," tambah Trump.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal






