RI Ingin Keluar dari Middle Income Trap, Kepala Bappenas: Sekarang Kesempatan Terakhir

AKURAT.CO Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa saat ini merupakan kesempatan terakhir bagi Indonesia untuk keluar dari middle income trap atau perangkap pendapatan menengah.
Ia menekankan bahwa keberhasilan memanfaatkan bonus demografi menjadi faktor kunci dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas.
“Ini adalah kesempatan terakhir kita, now or never. Bonus demografi kita ada di situ, kita harus menyelesaikannya untuk mencapai pertumbuhan tinggi dan berkualitas,” ujar Rachmat dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (13/3/2035).
Baca Juga: Tak Ingin Seumur Hidup Terjebak dalam Middle Income Trap? Hindari 10 Hal Ini
Menurutnya, tanpa pertumbuhan yang berkualitas, Indonesia akan stagnan dan sulit mencapai status negara maju. Oleh karena itu, upaya keluar dari middle income trap harus menjadi prioritas.
Jika tidak, Indonesia akan tetap berada dalam kategori negara berpendapatan menengah dan sulit bersaing di tingkat global.
Indonesia menghadapi berbagai tantangan serius dalam pembangunan manusia. Saat ini, sekitar 180 juta penduduk Indonesia mengalami kekurangan gizi, sementara sepertiga anak muda mengalami stunting.
Selain itu, skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia masih berada sedikit di atas Timor Leste, menunjukkan lemahnya kualitas pendidikan.
Tantangan lain yang dihadapi adalah tingginya angka kasus tuberkulosis (TBC), dengan satu juta penderita dan 100 ribu kematian per tahun.
Tak hanya itu, setiap tahunnya terdapat 50 ribu bayi lahir dengan cacat bawaan. Rachmat menyebut bahwa data tersebut menggambarkan kondisi yang memprihatinkan dan bisa jadi lebih buruk dari yang tercatat.
Ia menekankan bahwa semua pihak, termasuk pemerintah dan parlemen, harus bersinergi dalam menyelesaikan persoalan mendasar ini.
Langkah-langkah strategis perlu dilakukan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga merata dan berkualitas.
Salah satu strategi utama untuk keluar dari middle income trap adalah dengan meningkatkan daya saing sumber daya manusia melalui investasi di bidang pendidikan dan kesehatan.
Tanpa kualitas SDM yang baik, Indonesia akan sulit bersaing dan berinovasi dalam era ekonomi global.
Selain itu, sektor industri dan teknologi juga harus diperkuat.
Rachmat menilai bahwa ketergantungan pada sektor primer harus dikurangi, dan Indonesia perlu mengembangkan industri bernilai tambah tinggi agar tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak anggota DPR untuk bersama-sama bertanggung jawab dalam menyelesaikan tantangan ini.
Menurutnya, keberhasilan keluar dari middle income trap tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kualitas pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.
Dengan bonus demografi yang semakin menyempit, Indonesia harus bertindak cepat.
Jika peluang ini terlewatkan, maka negara ini akan sulit mencapai status ekonomi yang lebih tinggi dan berisiko mengalami stagnasi dalam jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










