AS Tetap Menolak Meski Ditawari Tarif Nol oleh Vietnam, Ini Alasannya
Demi Ermansyah | 8 April 2025, 18:43 WIB

AKURAT.CO Pemerintahan Presiden Donald Trump secara tegas menolak tawaran kompromi dari Vietnam yang menawarkan penghapusan seluruh tarif atas produk-produk asal Amerika Serikat.
Trump menyebut langkah tersebut belum menyentuh persoalan substansial dalam hubungan dagang bilateral, yakni dugaan praktik perdagangan tidak adil yang dilakukan Vietnam selama ini.
Dikutip dari laman bloomberg, Presiden Trump sebelumnya mengumumkan akan menerapkan tarif masuk sebesar 46% terhadap barang-barang asal Vietnam, menjadikan negara Asia Tenggara tersebut salah satu sasaran tarif tertinggi dalam kebijakan dagang AS tahun ini.
Dikutip dari laman bloomberg, Presiden Trump sebelumnya mengumumkan akan menerapkan tarif masuk sebesar 46% terhadap barang-barang asal Vietnam, menjadikan negara Asia Tenggara tersebut salah satu sasaran tarif tertinggi dalam kebijakan dagang AS tahun ini.
Tentunya. kebijakan tersebut diumumkan pasca Trump menuding Vietnam menjadi jalur belakang bagi ekspor China yang berusaha menghindari tarif AS.
Penasihat Perdagangan utama Gedung Putih, Peter Navarro menegaskan bahwa kebijakan tarif terhadap Vietnam bukan hanya karena neraca dagang yang timpang, tetapi juga karena berbagai pelanggaran non-tarif yang dianggap sistematis.
Penasihat Perdagangan utama Gedung Putih, Peter Navarro menegaskan bahwa kebijakan tarif terhadap Vietnam bukan hanya karena neraca dagang yang timpang, tetapi juga karena berbagai pelanggaran non-tarif yang dianggap sistematis.
Baca Juga: Ditekan Trump, Vietnam Malah Tawarkan Tarif Nol
“Masalah utamanya adalah semua praktik kecurangan non-tarif yang mereka lakukan, termasuk subsidi ekspor dan manipulasi asal produk,” ujarnya, dikutip Selasa (8/4/2025).
“Masalah utamanya adalah semua praktik kecurangan non-tarif yang mereka lakukan, termasuk subsidi ekspor dan manipulasi asal produk,” ujarnya, dikutip Selasa (8/4/2025).
Tidak sampai disitu saja, Amerika juga menuduh banyak perusahaan China memanfaatkan Vietnam sebagai jalur transit untuk menghindari tarif yang diberlakukan Trump terhadap produk asal Negeri Tirai Bambu.
Tentunya tuduhan tersebut bukan hal baru. Sejak perang dagang China-AS dimulai pada 2018, Vietnam mengalami lonjakan ekspor signifikan, yang sebagian disebut berasal dari relokasi produksi China.
Profesor Perdagangan Internasional dari University of St.Gallen Swiss, Simon Evenett menyebut bahwa kebijakan baru AS terhadap Vietnam bisa berdampak kontraproduktif.
“Vietnam sedang membangun reputasi sebagai alternatif produksi global. Kebijakan seperti ini justru menciptakan ketidakpastian yang tidak perlu,” jelasnya.
Navarro sendiri, lanjut Simon, menegaskan bahwa meski Vietnam bersikap kooperatif dalam suratnya, Washington tidak akan mengendurkan tekanan tanpa reformasi struktural yang signifikan.
"Oleh karena itu, dampak kebijakan tarif AS terhadap Vietnam ini pada akhirnya berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi kawasan. Dimana Vietnam selama ini menjadi destinasi utama bagi investor asing yang ingin menghindari risiko geopolitik di China," paparnya.
Profesor Perdagangan Internasional dari University of St.Gallen Swiss, Simon Evenett menyebut bahwa kebijakan baru AS terhadap Vietnam bisa berdampak kontraproduktif.
“Vietnam sedang membangun reputasi sebagai alternatif produksi global. Kebijakan seperti ini justru menciptakan ketidakpastian yang tidak perlu,” jelasnya.
Navarro sendiri, lanjut Simon, menegaskan bahwa meski Vietnam bersikap kooperatif dalam suratnya, Washington tidak akan mengendurkan tekanan tanpa reformasi struktural yang signifikan.
"Oleh karena itu, dampak kebijakan tarif AS terhadap Vietnam ini pada akhirnya berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi kawasan. Dimana Vietnam selama ini menjadi destinasi utama bagi investor asing yang ingin menghindari risiko geopolitik di China," paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









