Ekspor Indonesia Tumbuh 6,9 Persen di Tengah Tantangan Diversifikasi

AKURAT.CO Meski dihadapkan pada tekanan global dan gelombang proteksionisme, kinerja ekspor Indonesia pada kuartal pertama 2025 mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 6,9 persen secara kumulatif.
Sumbangan terbesar berasal dari komoditas andalan seperti minyak kelapa sawit, besi dan baja, serta mesin dan perlengkapan elektrik.
Data Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Eximbank) menunjukkan, 60,5 persen ekspor nasional masih terkonsentrasi pada lima komoditas utama, yakni lemak dan minyak nabati (12,8 persen), bahan bakar mineral (12,8 persen), besi dan baja (10,3 persen), mesin dan perlengkapan elektrik (6,7 persen), serta kendaraan dan suku cadang (6,4 persen).
“Pertumbuhan ini membuktikan daya tahan sektor perdagangan luar negeri kita. Namun, ketergantungan pada komoditas tradisional dan pasar utama tetap menjadi tantangan serius,” ujar Market Intelligence & Leads Management Chief Specialist Indonesia Eximbank, Rini Satriani, dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (1/5/2025).
Saat ini, Indonesia telah mengirimkan produk ekspornya ke 192 negara. Namun, lebih dari 65,8 persen dari total ekspor masih terkonsentrasi pada 10 negara utama, dengan China dan Amerika Serikat menyumbang hampir 34 persen.
Ketergantungan pada dua kekuatan ekonomi dunia ini dinilai rawan, apalagi di tengah ketegangan perdagangan yang terus membara antara keduanya.
Baca Juga: Prabowo di Hadapan Buruh: Rp500 Triliun Digelontorkan untuk Bansos dan Layanan Kesehatan Rakyat
Rini menekankan pentingnya memperluas cakupan ekspor ke pasar non-tradisional seperti Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah.
Program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) Kawasan disebut sebagai salah satu motor penggerak perluasan pasar ini.
“Diversifikasi bukan hanya soal mencari pasar baru, tapi juga memperkaya jenis produk ekspor kita. Pelaku ekspor harus berani berinovasi dan menciptakan nilai tambah,” tegas Rini.
Selain itu, peluang untuk memperkuat daya saing Indonesia di kancah global juga datang dari perluasan kerja sama internasional, seperti melalui perjanjian perdagangan bebas (FTA), keikutsertaan dalam BRICS, hingga Trans-Pacific Partnership (TPP).
Namun, Rini mengingatkan bahwa tantangan tetap besar, mulai dari hambatan tarif, regulasi ketat negara tujuan, hingga persaingan produk global.
Oleh karena itu, ia menilai, pendampingan berkelanjutan, akses pembiayaan yang lebih mudah, serta pelatihan intensif tentang strategi ekspor mutlak diperlukan agar eksportir nasional bisa menembus pasar yang lebih luas dan beragam.
Baca Juga: GRATIS! Ini Link Download Logo Hardiknas 2025, Lengkap dengan Filosofi Resmi dari Kemendikdasmen
“Potensi Indonesia sangat besar. Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan pendekatan yang lebih sistematis, inovatif, dan berorientasi jangka panjang,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










