Pertumbuhan Ekonomi Turun ke Level Terendah dalam 14 Kuartal, Target 6 Persen di 2026 Realistis?

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat ke 4,87% pada kuartal I-2025, merupakan level terendah sejak kuartal III-2021 atau 14 kuartal yang lalu.
Pada acara pembacaan Berita Resmi Statistik BPS, Senin (5/5/2025), Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatribusikan pelemahan konsumsi rumah tangga dan penurunan konsumsi pemerintah pada efek high–base dari penyelenggaraan pemilu 2024.
Menariknya, di tempat terpisah, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Rachmat Pambudy, mengatakan pada Senin (5/5/2025) bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 6%, tepatnya 5,8–6,3% YoY pada2026. Pertanyaannya, realistiskah?
Jika melihat efisiensi anggaran pemerintah Prabowo-Gibran, besar kemungkinan pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2025 masih akan terdampak besar. Pada kuartal I-2025 saja misalnya, nominal konsumsi pemerintah kontraksi 1,42% dari Rp191 triliun ke Rp188 triliun.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Cerminan Agregat 2025?
Perbedaan angka belanja pemerintah Rp3 triliun tersebut berdampak pula pada kontribusinya ke PDB atau pertumbuhan ekonomi, sebesar -0,09%. Bisa dibayangkan bagaimana dampaknya pada kuartal II-2025.
Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang berakselerasi pada paruh kedua 2025 seiring peningkatan belanja pemerintah dan pemangkasan suku bunga, perkembangan perang dagang memberikan ketidakpastian terhadap realisasi pertumbuhan ekonomi ke depan.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani, menyatakan bahwa tarif 32% dari AS berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3–0,5 basis poin. Sebelumnya, Bank Dunia dan IMF telah memangkas outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 dari masing–masing dari 5,1% YoY menjadi 4,7% YoY.
Harapannya sekarang tinggal pada konsumsi RT dan PMTB atau investasi yang masih bisa digenjot. Pada kuartal I-2025 lalu, penopang utama pertumbuhan masih berasal dari konsumsi rumah tangga (tumbuh 4,89%) yang mendapat dukungan dari libur tahun baru serta Ramadhan hingga Idul Fitri.
APBN, menurut Sri Mulyani, berperan dalam kinerja positif itu. Pemerintah menggelontorkan berbagai insentif (seperti THR, diskon tarif listrik dan tarif tol, hingga insentif pajak) serta menjaga stabilitas harga pangan dengan memberikan suntikan dana kepada Bulog.
Namun di sisi lain, investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB) tumbuh terbatas 2,12% dan ekspor stabil 6,78% sementara belanja pemerintah malah minus.
"Optimisme terus dijaga, didukung komitmen pemerintah dengan memastikan APBN bekerja optimal dalam melindungi masyarakat, termasuk memastikan ekonomi tumbuh secara berkelanjutan," ujar Sri Mulyani belum lama ini.
Jadi, mungkinkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tembus di kisaran 6% pada 2026 dengan mesin penggerak yang begini-begini saja tanpa sumber pertumbuhan baru? Semoga saja!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









