Tarif Impor Dongkrak Bea Cukai AS, Namun Proyeksi Fiskal Belum Terpenuhi

AKURAT.CO Departemen Keuangan Amerika Serikat mencatat rekor baru dalam pendapatan harian dari bea cukai yang mencapai USD16,5 miliar, atau sekitar Rp267,58 triliun. Capaian ini berasal dari pembayaran bulanan para importir untuk barang-barang yang tiba di pelabuhan pada April 2025.
Kebijakan tarif dagang Presiden Donald Trump dinilai belum efektif mencapai target yang dicanangkan. Pemerintah AS sebelumnya menargetkan pendapatan USD2 miliar per hari dari tarif impor untuk menutupi pemangkasan pajak besar-besaran.
Laporan resmi Departemen Keuangan AS menyebutkan bahwa lonjakan pendapatan berasal dari pembayaran bulanan para importir untuk barang yang masuk ke pelabuhan pada April. Meski demikian, angka ini belum mencukupi proyeksi kebutuhan fiskal jangka panjang.
Baca Juga: Imbas Tarif Trump, ICP April 2025 Turun ke USD65,29 per Barel
Pengumpulan tarif April diperkirakan mencapai USD22,3 miliar secara bulanan, mencetak rekor tertinggi dalam sejarah. Namun, Presiden Trump masih melayangkan ancaman baru, termasuk menaikkan tarif hingga 50% atas produk Uni Eropa dan 25% kepada Apple dan Samsung jika produksi tidak dipindahkan ke AS.
Trump juga menggagas kemungkinan pemberlakuan tarif balasan terhadap negara-negara yang dianggap “tidak adil” dalam hubungan dagang.
Namun, kebijakan ini sempat ditangguhkan selama 90 hari menyusul tekanan pasar dan aksi jual surat berharga negara.
Sementara itu, para pengamat mempertanyakan efektivitas pendekatan tarif yang terus berubah.
“Tarif seharusnya bukan menjadi alat utama untuk menutup defisit fiskal. Tanpa strategi jangka panjang dan kepastian kebijakan, dunia usaha akan ragu,” ujar pakar perdagangan dari Brookings Institution.
Baca Juga: Ekonom Sebut Sektor Manufaktur Ini Paling Terdampak Tarif Trump
Selain tarif dasar 10% untuk mayoritas negara, kebijakan Trump juga meliputi bea masuk 25% untuk baja, aluminium, dan mobil. Tarif atas produk China bahkan sempat mencapai puncak 145% sebelum turun ke level 51%.
Ketidakjelasan arah kebijakan tarif ini dikhawatirkan justru memperbesar risiko perlambatan ekonomi global serta menimbulkan ketegangan diplomatik antarnegara mitra dagang utama AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








