Akurat
Pemprov Sumsel

Impor AS Anjlok Hingga 20 Persen, Tarif Trump Jadi Pemicu Gejolak Rantai Pasok

Demi Ermansyah | 1 Juni 2025, 08:10 WIB
Impor AS Anjlok Hingga 20 Persen, Tarif Trump Jadi Pemicu Gejolak Rantai Pasok

AKURAT.CO Perdagangan luar negeri Amerika Serikat menghadapi tekanan baru pasca data April 2025 menunjukkan penurunan hampir 20% pada angka impor barang.

Usut punya usut, penurunan tersebut terjadi seiring perusahaan beradaptasi terhadap tarif resiprokal baru yang dicanangkan Presiden Donald Trump.

Menurut laporan Biro Analisis Ekonomi (BEA) dikutip dari laman bloomberg, penyusutan tajam pada impor berkontribusi pada penyempitan defisit perdagangan barang secara signifikan, meski juga menandakan potensi gangguan serius pada rantai pasok nasional.

“Perusahaan mengalihkan pasokan atau menunda pemesanan untuk menghindari lonjakan biaya akibat bea masuk baru,” kata analis perdagangan dari Brookings Institution, Kamis (29/5/2025).

Baca Juga: Tarif Trump Dibatalkan, Pasar Global Bernapas Lega, Sampai Kapan?

Sehingga pada akhirnya, pelemahan impor tersebut berpotensi memberikan dampak yang signifikan. Industri manufaktur, logistik, dan ritel menjadi yang paling rentan karena bergantung pada pasokan komponen dari luar negeri.

Meski pengeluaran domestik naik tipis 0,1%, penurunan barang tahan lama mencerminkan ketidakpastian rantai pasok yang mulai terasa di tingkat konsumen.

Federal Reserve melaporkan inflasi barang non-pangan dan non-energi naik 0,3%, sinyal awal bahwa biaya yang lebih tinggi mulai terserap ke harga ritel.

Meskipun harga jasa inti tetap stabil, banyak perusahaan seperti Walmart dan Macy’s memperkirakan tekanan harga akan meningkat dalam bulan-bulan mendatang.

Sejumlah tarif yang diberlakukan telah dicabut sementara menyusul negosiasi antara AS, China, dan Uni Eropa. Namun, pengadilan federal pada Rabu lalu juga memblokir sebagian bea masuk, menambah ketidakpastian dalam arah kebijakan perdagangan AS.

Baca Juga: Tarif Trump Dibatalkan, Pengadilan AS Batasi Kewenangan Presiden atas Hukum Darurat

Dalam catatan rapat Mei 2025, Federal Reserve menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2025 dan 2026, mengutip kekhawatiran atas dampak jangka panjang dari kebijakan perdagangan yang fluktuatif.

Meski pertumbuhan pekerjaan melambat, pasar tenaga kerja tetap menopang konsumsi. Pendapatan riil rumah tangga tumbuh 0,7%, dengan tingkat tabungan meningkat ke 4,9% level tertinggi sejak pertengahan 2024.

Namun, bila ketidakpastian tarif berlanjut dan perusahaan mulai mentransfer beban biaya kepada konsumen, tekanan terhadap daya beli bisa makin besar.

Dalam lanskap ekonomi global yang saling terhubung, kebijakan proteksionisme AS tak hanya memukul neraca dagang, tapi juga bisa menjadi boomerang bagi konsumsi domestik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.