Gencatan Dagang Gagal! Manufaktur China Kian Terpuruk, Ekspor Kembali Lesu

AKURAT.CO Gencatan dagang sementara antara China dan Amerika Serikat belum mampu memulihkan aktivitas manufaktur Negeri Tirai Bambu. Indeks Manajer Pembelian (PMI) versi Caixin untuk bulan Mei 2025 justru menunjukkan penurunan tajam ke level 48,3, dari sebelumnya 50,4 pada April.
Dikutip dari laman reuters, angka tersebut menandai masuknya manufaktur China ke zona kontraksi dan menjadi level terendah dalam 20 bulan terakhir. Data ini juga lebih buruk dari perkiraan median analis Bloomberg yang memproyeksikan PMI di angka 50,7.
Survei Caixin yang dirilis Selasa (3/6/2025) mengindikasikan bahwa pelonggaran tarif dagang yang berlaku sejak pertengahan Mei belum berdampak signifikan terhadap pemulihan sektor produksi.
Baca Juga: PMI China Naik Tipis, Ekonomi Masih Dibayangi Lemahnya Permintaan Domestik
“Kesepakatan dagang selama 90 hari antara China dan AS memang memperlancar arus perdagangan, tetapi belum cukup kuat untuk mengangkat pesanan ekspor dan produksi,” ujar Analis Caixin Insight Group, Wang Zhe.
Survei mencatat penurunan signifikan dalam pesanan baru dan volume produksi. Banyak perusahaan memilih mengurangi belanja bahan baku dan menekan jumlah karyawan untuk mengurangi biaya operasional. Meskipun begitu, optimisme terhadap output masa depan menunjukkan sedikit peningkatan.
Data ini kontras dengan PMI manufaktur resmi yang dirilis pemerintah China beberapa hari sebelumnya, yang mencatat kontraksi lebih lambat.
Hal itu menandakan bahwa sektor non-negara, terutama perusahaan kecil dan menengah yang lebih bergantung pada ekspor, masih sangat rentan terhadap gejolak eksternal.
Situasi ini menunjukkan bahwa pemulihan manufaktur di China belum menyeluruh, meski ada sinyal positif dari kebijakan pelonggaran tarif. Ketidakpastian global, terutama konflik geopolitik dan kondisi ekonomi mitra dagang utama, terus menjadi ganjalan.
“Kunci pemulihan bukan hanya pada tarif, tetapi juga stabilitas sektor properti dan reformasi struktural ekonomi,” kata Kepala Ekonom Wilayah Besar China di ANZ, Raymond Yeung.
Para analis memperkirakan bahwa stimulus lanjutan dari pemerintah pusat akan menjadi penentu arah pertumbuhan pada paruh kedua 2025. Sementara itu, pelaku industri masih akan menjalani periode penuh tantangan di tengah pemulihan global yang tidak merata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









