Ekonomi Jepang Melemah, Bank Sentral Tahan Kenaikan Suku Bunga

AKURAT.CO Kontraksi ekonomi Jepang sebesar 0,2% pada kuartal pertama 2025 menjadi sinyal bagi Bank of Japan (BoJ) untuk mempertahankan kebijakan moneter longgar.
Kinerja ekonomi yang rapuh menambah alasan bagi bank sentral untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Dikutip dari laman bloomberg, BoJ dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan berikutnya pada 17 Juni. Namun, sebagian besar analis menilai kecil kemungkinan akan ada perubahan signifikan dalam kebijakan.
“Melihat hasil PDB saja, sulit bagi BoJ untuk membenarkan kenaikan suku bunga,” ucap Ekonom dari Meiji Yasuda Research Institute, Kazutaka Maeda.
Kendati demikian hasil data PDB mengalami revisi positif dari kontraksi awal 0,7% menjadi 0,2%, meski indikasi yang muncul tetap menggambarkan perlambatan. Pertumbuhan konsumsi pribadi hanya tipis di angka 0,1%, sementara peningkatan persediaan menunjukkan barang yang tak terjual, mengindikasikan lemahnya permintaan.
Baca Juga: Misi Dagang RI ke Jepang 2025, Dorong Ekspor Produk Berkelanjutan dan Energi
Melihat hal tersebut, Gubernur BoJ, Kazuo Ueda mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak tarif dari Amerika Serikat, yang dinilai menciptakan ketidakpastian tinggi.
Pungutan tarif baru dari Washington atas barang-barang Jepang, termasuk bea masuk 25% terhadap kendaraan, telah mengganggu aktivitas ekspor dan menekan margin perusahaan.
BoJ sebelumnya telah memangkas proyeksi pertumbuhan tahunannya. Kini, dengan konsumsi domestik yang lemah dan tekanan eksternal yang meningkat, langkah normalisasi kebijakan moneter kian sulit.
Banyak ekonom memprediksi bank sentral akan tetap mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat saat ini selama beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Jepang Targetkan Kenaikan Upah Riil 1% Pada 2029 Mendatang
“Tarif AS menciptakan risiko eksternal yang tinggi. BoJ cenderung berhati-hati dan menunggu perkembangan lebih lanjut,” tegas Ekonom Bloomberg Economics, Taro Kimura.
Dengan kondisi ekonomi yang lesu dan tekanan eksternal yang kuat, lanjut Taro, membuat pemerintah dan otoritas moneter Jepang berada dalam posisi defensif.
"Ditambah permintaan domestik yang stagnan, inflasi tinggi, dan ekspor melemah, pemulihan ekonomi berkelanjutan tampaknya masih jauh dari jangkauan," paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









