Akurat
Pemprov Sumsel

Ketegangan Geopolitik Timur Tengah Guncang Pasar Asia, Rupiah dan Bursa Saham Tertekan

Demi Ermansyah | 24 Juni 2025, 10:40 WIB
Ketegangan Geopolitik Timur Tengah Guncang Pasar Asia, Rupiah dan Bursa Saham Tertekan

AKURAT.CO Ketegangan geopolitik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran berdampak besar terhadap pasar keuangan di Asia, termasuk Indonesia.

Nilai tukar rupiah, bersama mata uang regional lainnya, tertekan setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir Iran.

Aksi militer ini menimbulkan kekhawatiran mengenai stabilitas pasokan energi dari kawasan Teluk, serta mendorong lonjakan harga minyak mentah global.

Dampak langsung dari eskalasi konflik ini tercermin dari pelemahan indeks mata uang Bloomberg Asia Dollar Index sebesar 0,3%. Won Korea Selatan tercatat sebagai mata uang paling terpukul, disusul oleh baht Thailand, rupee India, dan peso Filipina.

Baca Juga: Siapa Pemilik Selat Hormuz, Jalur Energi Dunia yang Jadi Titik Panas Geopolitik

Rupiah pun tak luput dari tekanan, mendorong Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar spot dan non-spot untuk menjaga stabilitas kurs.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent melonjak mendekati level psikologis USD80 per barel, menambah beban inflasi bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Lonjakan harga minyak tidak hanya mengganggu neraca transaksi berjalan, tapi juga memicu kekhawatiran atas kenaikan biaya produksi dan transportasi, yang pada akhirnya membebani pertumbuhan ekonomi.

Di pasar saham, tekanan juga dirasakan luas. Indeks saham negara berkembang MSCI Emerging Market turun hingga 1,3%. Bursa saham Taiwan memimpin pelemahan di Asia, terutama sektor teknologi yang dilanda kekhawatiran akan dampak dari potensi pembatasan ekspor teknologi AS ke China. Ketegangan global ini semakin menambah volatilitas di pasar modal.

Tak hanya berdampak pada pasar valuta asing dan saham, gejolak ini juga memengaruhi pasar obligasi berdenominasi mata uang lokal di Asia. Arus masuk investor global yang sebelumnya deras, kini mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan akibat kekhawatiran meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian global.

Mengutip dari laman Bloomberg, korelasi negatif yang tajam antara harga minyak dan indeks nilai tukar Asia. Korelasi 30 hari antara kontrak berjangka minyak Brent dan Asia Dollar Spot Index kini menyentuh angka -0,45, tertinggi sejak Maret 2022.

Baca Juga: IHSG Turun 3,61%, Asing Kabur Rp4,6 T, Investor Diminta Waspada Geopolitik

Meskipun tekanan eksternal meningkat, sejumlah analis percaya bahwa fundamental ekonomi domestik Indonesia cukup kuat untuk meredam dampak jangka panjang. Cadangan devisa Indonesia masih berada di atas USD140 miliar, sementara inflasi domestik relatif terkendali.

Namun, Bank Indonesia dan pemerintah tetap diminta waspada. Koordinasi kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci untuk menjaga stabilitas makroekonomi nasional. Sejumlah stimulus fiskal dan penguatan daya beli masyarakat juga diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan.

Seperti yang diketahui, konflik yang melibatkan kekuatan militer AS dan Iran bukan hanya mengguncang Timur Tengah, tetapi juga memicu kepanikan pasar di kawasan Asia yang sangat bergantung pada kestabilan rantai pasokan energi global.

Jalur vital Selat Hormuz kini kembali menjadi perhatian dunia, mengingat lebih dari 20% pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut.

Ketika tensi geopolitik meningkat, stabilitas ekonomi domestik Indonesia kembali diuji. Langkah cepat dan responsif dari otoritas keuangan menjadi sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor dan kestabilan pasar keuangan nasional di tengah dinamika global yang kian kompleks.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.