SBY: Perundingan Tarif AS–Uni Eropa Jadi Harapan Baru Redam Perang Dagang

AKURAT.CO Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut baik dimulainya kembali perundingan tarif antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE).
Ia menilai langkah ini sebagai harapan baru untuk meredakan ketegangan dagang global dan menjaga stabilitas sistem perdagangan internasional.
“Upaya perundingan dan negosiasi tarif antara AS dan Uni Eropa memberikan harapan baru. Hubungan dagang kedua pihak yang berskala besar sangat berdampak pada situasi perdagangan dunia,” tulis SBY melalui akun X pribadinya, @SBYudhoyono, Sabtu (26/7/2025).
Menurut SBY, ketegangan dagang yang berkepanjangan akan merugikan banyak negara, terutama negara berkembang.
Karena itu, langkah dialog menjadi sangat penting dibandingkan kebijakan sepihak yang bisa memicu perang tarif.
“Saya memahami negosiasi ini tidak mudah dan bisa memakan waktu. Tapi dialog tetap jauh lebih baik daripada saling ancam atau tindakan unilateral,” ujarnya.
Baca Juga: Menteri HAM Sebut Pertukaran Data dengan AS Tak Langgar Hak Asasi
SBY juga menyoroti tren global yang semakin proteksionis dan rawan perang dagang.
Ia mengajak negara-negara di dunia untuk tidak membiarkan praktik perang tarif menjadi sesuatu yang dinormalisasi dalam tata kelola ekonomi global.
“Khusus terkait perang tarif dan perang dagang ini, negara-negara sedunia harus memiliki kesamaan pandangan. Benarkah praktik semacam ini harus menjadi 'order of the day'?” tanyanya.
Ia menilai penting bagi komunitas internasional untuk mencari pendekatan baru yang lebih adil dan saling menguntungkan dalam sistem perdagangan global.
“Adakah cara lain yang bisa ditempuh agar sistem perdagangan internasional berlangsung secara fair dan membawa manfaat bagi semua bangsa?” imbuh Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat tersebut.
SBY menutup pernyataannya dengan ajakan reflektif kepada seluruh pemimpin dunia agar berpikir secara jernih dan bertindak konstruktif dalam menjaga masa depan ekonomi global.
“Saatnya kita semua berpikir dan berbicara secara jernih, jujur, dan konstruktif demi masa depan ekonomi dunia yang lebih baik,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal






