Konsumen AS Tetap Tangguh Meski Inflasi Belum Mereda

AKURAT.CO Belanja pribadi warga Amerika Serikat kembali menunjukkan ketahanan pada Agustus 2025.
Menurut hasil data terbaru Biro Analisis Ekonomi (BEA) dikutip dari laman reuters menunjukkan, pengeluaran konsumen yang disesuaikan dengan inflasi naik 0,4% untuk bulan kedua berturut-turut, lebih tinggi dari perkiraan para ekonom.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah tekanan inflasi yang masih belum sepenuhnya mereda. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti indikator yang tidak memasukkan harga makanan dan energi serta menjadi acuan utama Federal Reserve (The Fed) naik 0,2% dibanding Juli, dan secara tahunan tetap stabil di 2,9%. Angka ini masih berada di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2%.
Baca Juga: Bitcoin Terus Anjlok Meski The Fed Pangkas Suku Bunga, Ini Penyebabnya!
Pengeluaran yang tetap tinggi menjadi sinyal bahwa konsumen, terutama kelompok berpenghasilan tinggi, masih memiliki daya beli kuat.
Pengeluaran untuk barang-barang diskresioner, seperti perabotan rumah tangga, pakaian, dan perlengkapan rekreasi, melonjak 0,7%. Sementara itu, pengeluaran untuk jasa meningkat dalam laju yang lebih moderat.
Kinerja konsumsi yang tangguh tersebut memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS tetap solid pada kuartal ketiga tahun ini, bahkan berpotensi tumbuh lebih cepat dari perkiraan awal.
Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa ketergantungan ekonomi pada konsumsi rumah tangga bisa menjadi risiko jika pasar tenaga kerja terus melemah.
Baca Juga: Rekomendasi Altcoin Hari Ini di Tengah Gejolak Pasar Kripto seusai Pernyataan The Fed
Pasar kerja sendiri mulai menunjukkan tanda perlambatan. Pembukaan lapangan kerja baru melambat dan kenaikan upah bergerak moderat. Pendapatan riil yang dapat dibelanjakan juga hampir tidak mengalami peningkatan, sementara tingkat tabungan turun ke level terendah tahun ini, yakni 4,6%.
“Selama pasar tenaga kerja masih stabil, konsumen akan terus menjadi penopang utama perekonomian. Namun jika upah stagnan dan inflasi tetap tinggi, belanja bisa melambat,” ujar ekonom dari Oxford Economics, David Russel.
Inflasi yang masih berada di atas target juga mempersulit langkah The Fed dalam menetapkan kebijakan suku bunga. Beberapa pembuat kebijakan menilai penurunan suku bunga lebih lanjut belum tepat dilakukan.
Di sisi lain, ancaman penutupan pemerintahan (government shutdown) yang semakin dekat dapat menambah ketidakpastian dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter ke depan.
Meski begitu, laporan Agustus menunjukkan bahwa konsumen Amerika tetap menjadi kekuatan utama yang menjaga roda ekonomi tetap berputar. Ketahanan ini menjadi faktor penting yang dapat menentukan arah pertumbuhan AS dalam beberapa bulan ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








