Akurat
Pemprov Sumsel

Ketahanan atau Ilusi Semata? Membaca Ulang Fondasi Ekonomi Data BPS

Andi Syafriadi | 3 Maret 2026, 07:30 WIB
Ketahanan atau Ilusi Semata? Membaca Ulang Fondasi Ekonomi Data BPS
Ilustrasi Masyarakat daya beli kelas menengah

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan terbarunya pada 2 Maret 2026, angka-angka yang muncul di permukaan tampak memberikan pesan optimistis.

Inflasi tahunan Februari 2026 tercatat 4,76% (year-on-year), sementara neraca perdagangan kembali mencatat surplus sebesar USD0,95 miliar pada Januari 2026.

Artinya Indonesia memperpanjang rekor surplus dagang menjadi 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 lalu.

Sekilas, fondasi ekonomi terlihat kokoh dengan stabilitas eksternal terjaga, perdagangan surplus, dan aktivitas impor meningkat.

Baca Juga: BPS: Normalisasi Tarif Listrik Angkat Inflasi ke 4,76 Persen

Namun di balik angka-angka manis tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: "Apakah ini benar-benar cerminan ketahanan ekonomi, atau justru ilusi stabilitas yang bertumpu pada faktor eksternal?"

Jika melihat secara rinci, BPS melaporkan inflasi tahunan Februari 2026 sebesar 4,76% menandai kenaikan dibanding Januari 2026 yang berada di kisaran lebih rendah.

Sedangkan secara bulanan, inflasi Februari juga meningkat menjelang periode Ramadan, pola yang secara historis memang kerap terjadi.

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor utama. Komoditas seperti beras, cabai merah, dan daging ayam ras kembali mendorong tekanan harga.

Baca Juga: BPS Ramal Produksi Beras RI Februari-April 2026 Cuma 12,23 Juta Ton, Turun 4,02 Persen

Tentu pola tersebut bukanlah hal baru. Pada periode yang sama tahun-tahun sebelumnya, inflasi pangan kerap meningkat akibat gangguan pasokan musiman dan distribusi.

Namun konteks 2026 berbeda. Inflasi mendekati batas atas target inflasi nasional yang selama ini dijaga pada kisaran 2,5% ±1%. Artinya, angka 4,76% sudah berada di zona yang perlu diwaspadai.

Mengapa ini penting? Karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Ketika tekanan harga terutama berasal dari kebutuhan pokok, kelompok kelas menengah dan rentan menjadi yang paling terdampak.

Daya beli melemah bukan karena turunnya pendapatan, tetapi karena naiknya harga barang esensial.

Oleh karena itu, ketahanan ekonomi domestik tidak hanya berbicara soal angka pertumbuhan, tetapi juga soal kemampuan masyarakat mempertahankan konsumsi riilnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.