Ketahanan atau Ilusi Semata? Membaca Ulang Fondasi Ekonomi Data BPS

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan terbarunya pada 2 Maret 2026, angka-angka yang muncul di permukaan tampak memberikan pesan optimistis.
Inflasi tahunan Februari 2026 tercatat 4,76% (year-on-year), sementara neraca perdagangan kembali mencatat surplus sebesar USD0,95 miliar pada Januari 2026.
Artinya Indonesia memperpanjang rekor surplus dagang menjadi 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 lalu.
Sekilas, fondasi ekonomi terlihat kokoh dengan stabilitas eksternal terjaga, perdagangan surplus, dan aktivitas impor meningkat.
Baca Juga: BPS: Normalisasi Tarif Listrik Angkat Inflasi ke 4,76 Persen
Namun di balik angka-angka manis tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: "Apakah ini benar-benar cerminan ketahanan ekonomi, atau justru ilusi stabilitas yang bertumpu pada faktor eksternal?"
Jika melihat secara rinci, BPS melaporkan inflasi tahunan Februari 2026 sebesar 4,76% menandai kenaikan dibanding Januari 2026 yang berada di kisaran lebih rendah.
Sedangkan secara bulanan, inflasi Februari juga meningkat menjelang periode Ramadan, pola yang secara historis memang kerap terjadi.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor utama. Komoditas seperti beras, cabai merah, dan daging ayam ras kembali mendorong tekanan harga.
Baca Juga: BPS Ramal Produksi Beras RI Februari-April 2026 Cuma 12,23 Juta Ton, Turun 4,02 Persen
Tentu pola tersebut bukanlah hal baru. Pada periode yang sama tahun-tahun sebelumnya, inflasi pangan kerap meningkat akibat gangguan pasokan musiman dan distribusi.
Namun konteks 2026 berbeda. Inflasi mendekati batas atas target inflasi nasional yang selama ini dijaga pada kisaran 2,5% ±1%. Artinya, angka 4,76% sudah berada di zona yang perlu diwaspadai.
Mengapa ini penting? Karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Ketika tekanan harga terutama berasal dari kebutuhan pokok, kelompok kelas menengah dan rentan menjadi yang paling terdampak.
Daya beli melemah bukan karena turunnya pendapatan, tetapi karena naiknya harga barang esensial.
Oleh karena itu, ketahanan ekonomi domestik tidak hanya berbicara soal angka pertumbuhan, tetapi juga soal kemampuan masyarakat mempertahankan konsumsi riilnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







