Airlangga: Indonesia Diproyeksi Jadi 5 Besar Ekonomi Dunia pada 2050

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memproyeksikan Indonesia akan menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar di dunia pada 2050.
Proyeksi tersebut disampaikan Airlangga dalam Tokyo Conference 2026, saat memaparkan prospek ekonomi Asia dan posisi Indonesia di tengah perubahan lanskap ekonomi global.
Dalam jangka pendek, pemerintah juga tetap optimistis terhadap kinerja ekonomi nasional.
Airlangga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat mencapai sekitar 5,4%, didukung fundamental domestik yang dinilai masih kuat.
“Kami juga mempercepat strategi Indonesia Incorporated, yaitu sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan bersama,” ujar Airlangga dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Baca Juga: Airlangga: Indonesia Butuh 150 Ribu Engineer Baru hingga 2030
Salah satu indikator yang menjadi dasar optimisme pemerintah adalah kinerja perdagangan luar negeri. Indonesia tercatat membukukan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut hingga awal 2026, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).
Tren surplus yang berlangsung sejak Mei 2020 itu menjadi penopang stabilitas eksternal serta nilai tukar rupiah.
Selain itu, pemerintah juga menilai kerja sama regional menjadi faktor penting untuk menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Indonesia disebut siap memperkuat kemitraan ekonomi dengan berbagai negara di kawasan.
Dalam paparannya, Airlangga juga menyoroti proyeksi ekonomi jangka panjang di kawasan Asia. Ia menyebut Asia memiliki potensi besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa dekade ke depan.
Berdasarkan proyeksi yang disampaikan dalam forum tersebut, Asia diperkirakan menyumbang sekitar 52% dari total produk domestik bruto (PDB) dunia pada 2050. Artinya, dalam kurang dari 25 tahun ke depan kawasan ini akan memainkan peran yang semakin dominan dalam perekonomian global.
“Jika Asia tetap berkomitmen pada kerja sama terbuka dan menolak persaingan zero-sum, maka tahun 2050 dapat menjadi abad Asia,” kata Airlangga.
Dalam proyeksi tersebut, China diperkirakan menjadi ekonomi terbesar di Asia dengan PDB mendekati USD58 triliun pada 2050. Posisi kedua ditempati India dengan sekitar USD44 triliun, sementara Indonesia diprediksi berada di posisi ketiga dengan PDB sekitar USD10–11 triliun.
Sementara itu, Jepang diproyeksikan memiliki PDB sekitar USD8–9 triliun, sedangkan Korea Selatan diperkirakan mencapai USD3–4 triliun pada 2050.
Airlangga menekankan bahwa pencapaian tersebut sangat bergantung pada keterbukaan ekonomi dan penguatan kerja sama regional. Ia mengingatkan bahwa tren proteksionisme yang meningkat dapat menghambat pertumbuhan perdagangan global.
“Alih-alih terfragmentasi, kita harus memperkuat konektivitas. Alih-alih proteksionisme, kita harus memperkuat perdagangan terbuka berbasis aturan,” ujarnya.
Selain Asia secara keseluruhan, Airlangga juga menyoroti potensi kawasan ASEAN sebagai salah satu blok ekonomi utama dunia. Saat ini, PDB kolektif ASEAN mencapai sekitar USD4,13 triliun, menjadikannya salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat secara global.
Namun, prospek ekonomi global tetap dibayangi berbagai risiko. Airlangga menilai dinamika geopolitik saat ini meningkatkan ketidakpastian ekonomi internasional, terutama akibat hubungan antarnegara besar yang semakin dipengaruhi kepentingan strategis dan politik.
Dirinya juga menyoroti tantangan yang dihadapi sistem perdagangan global. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dinilai masih menghadapi hambatan dalam mencapai kemajuan pada isu perdagangan digital dan penguatan rantai pasok global.
Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menghadapi tantangan dalam menjaga efektivitas multilateralisme di tengah meningkatnya konflik dan krisis global.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian pemerintah karena berdampak pada stabilitas energi global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu volatilitas harga minyak dunia.
Berdasarkan data per 10 Maret 2026, harga minyak mentah Brent tercatat sekitar USD90,42 per barel. Sebelumnya, harga minyak bahkan sempat menembus di atas USD100 per barel setelah penutupan Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dunia, akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Kondisi tersebut menjadi faktor eksternal yang terus dipantau pemerintah karena berpotensi memengaruhi inflasi, biaya energi, serta stabilitas ekonomi global dalam jangka pendek.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










