Tekanan Perang AS-Iran, BI Waspadai Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan

AKURAT.CO Tekanan global akibat perang AS-Iran di Timur Tengah mulai berdampak nyata terhadap neraca pembayaran Indonesia 2026.
Bank Indonesia (BI) mengingatkan pentingnya penguatan fundamental eksternal untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Data terbaru menunjukkan adanya perlambatan surplus perdagangan, arus modal yang mulai keluar, hingga potensi pelebaran defisit transaksi berjalan.
Baca Juga: Waspadai Penurunan Surplus Dagang dengan Iran dan Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan RI
Gubernur BI, Perry Warjiyo mengingatkan adanya risiko lanjutan yang perlu diwaspadai, terutama terkait defisit transaksi berjalan.
“Ke depan, menurunnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan naiknya harga minyak global perlu mendapat perhatian karena dapat memperlebar defisit transaksi berjalan menuju batas atas kisaran 0,9 persen sampai dengan 0,1 persen dari PDB,” ujar Perry di Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Surplus Perdagangan Menyusut, Permintaan Global Melemah
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa kinerja neraca perdagangan mulai mengalami tekanan pada awal tahun ini.
“Neraca perdagangan pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar USD1 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Desember 2025 sebesar USD2,5 miliar akibat perlambatan permintaan dunia terhadap ekspor non-migas,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring, Selasa (17/3/2026).
Penurunan ini mencerminkan melemahnya permintaan global, khususnya dari negara mitra dagang utama. Kondisi tersebut menjadi indikator awal bahwa ekspor Indonesia mulai terdampak perlambatan ekonomi dunia.
Modal Asing Berbalik Arah, Outflow Mulai Terjadi
Selain sektor perdagangan, tekanan juga terlihat dari sisi aliran modal dan finansial. Meski sebelumnya mencatat kinerja positif, tren mulai berbalik pada Maret 2026.
“Aliran modal dan finansial pada Januari-Februari 2026 secara akumulatif mencatat net inflow sebesar USD1,6 miliar berkat topangan aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),” jelas Perry.
"Namun, situasi berubah cepat. Pada Maret 2026, investasi portofolio mencatat net outflow sebesar USD1,1 miliar yang dipicu peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah,” lanjutnya.
Arus keluar modal ini menjadi perhatian serius karena berpotensi menekan nilai tukar rupiah serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan domestik.
Cadangan Devisa Masih Kuat, Jadi Penyangga Utama
Di tengah tekanan eksternal, Indonesia masih memiliki bantalan yang relatif kuat dari sisi cadangan devisa.
“Posisi cadangan devisa per akhir Februari 2026 tercatat sebesar USD151,9 miliar, setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” ungkap Perry.
Cadangan tersebut juga berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang sekitar 3 bulan impor, sehingga dinilai masih mampu menjaga stabilitas sektor eksternal dalam jangka pendek.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











