Harga Minyak Berpotensi Naik, Rupiah dan Emas Ikut Terimbas

AKURAT.CO Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar komoditas global. Harga minyak mentah jenis Brent diproyeksikan melonjak ke kisaran USD110 hingga USD116 per barel, seiring meningkatnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menyebut, lonjakan ini dipicu gangguan pasokan dari kawasan produsen utama energi dunia, termasuk Iran dan Irak. Kondisi ini memperketat suplai global di tengah permintaan energi yang masih tinggi pasca pemulihan ekonomi.
“Kenaikan Brent crude oil ini berdampak langsung pada sektor penerbangan karena berkaitan dengan bahan bakar avtur,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (22/3/2026).
Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Dunia Jadi Momentum Percepat Implementasi B50
Data historis menunjukkan, harga Brent terakhir kali menyentuh level di atas USD110 terjadi pada periode gejolak energi global 2022 pasca konflik Rusia-Ukraina. Saat itu, lonjakan harga energi mendorong inflasi global ke level tertinggi dalam beberapa dekade, termasuk di Amerika Serikat yang sempat menyentuh di atas 9% (year-on-year).
Lonjakan harga energi saat ini berpotensi memicu tekanan inflasi baru secara global. Biaya energi yang meningkat akan berdampak langsung pada sektor transportasi, logistik, hingga harga pangan.
Ibrahim menilai kondisi ini membuat bank sentral global cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat.
“Dampaknya, bank sentral di berbagai negara memilih mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan beberapa mulai menaikkannya kembali,” jelasnya.
Kebijakan suku bunga tinggi tersebut memperkuat dolar AS, yang secara historis memiliki korelasi negatif terhadap harga emas. Ketika dolar menguat, emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor global, sehingga permintaan menurun.
Di tengah lonjakan harga energi, harga emas justru berada dalam tekanan. Pasar saat ini menunggu kejelasan eskalasi konflik, khususnya potensi perang darat di Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Airlangga Usul Fleksibilitas Fiskal Lewat Perppu
Menurut Ibrahim, arah harga emas sangat bergantung pada hasil konflik tersebut.
“Jika konflik meningkat menjadi perang darat dan Iran mengalami kekalahan, harga emas diperkirakan akan melemah. Sebaliknya, jika Iran mampu bertahan atau menang, harga emas berpotensi melonjak signifikan,” ujarnya.
Sebagai safe haven, emas biasanya menguat saat ketidakpastian meningkat. Namun dalam kondisi suku bunga tinggi dan dolar kuat, efek tersebut dapat tertahan.
Dalam konteks domestik, nilai tukar rupiah menjadi faktor penahan pergerakan harga emas. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS membuat harga emas di dalam negeri tidak sepenuhnya mengikuti penurunan global.
Kondisi ini menciptakan fenomena harga emas domestik yang relatif stabil, meski pasar global mengalami fluktuasi tajam.
Selain itu, kenaikan harga minyak global berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia, terutama dari sisi impor energi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia masih menjadi net importir minyak, sehingga kenaikan harga global akan berdampak langsung pada beban subsidi dan defisit transaksi berjalan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











