AS Pangkas Bantuan Global, Skema Baru Picu Kekhawatiran Dampak Kesehatan

AKURAT.CO Pemerintah Donald Trump memangkas skala bantuan luar negeri Amerika Serikat (AS) secara signifikan setelah membubarkan USAID. Langkah ini memicu kekhawatiran terhadap dampak kesehatan global.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan bantuan kemanusiaan kini dikonsolidasikan dalam Biro Respons Bencana dan Kemanusiaan dengan lebih dari 200 staf tetap.
Jumlah tersebut hanya sekitar sepertiga dari kapasitas sebelumnya di USAID.
Dikutip dari laman reuters, bantuan kemanusiaan internasional AS turun menjadi USD5,4 miliar pada 2026.
Baca Juga: Picu Kematian Anak-anak Miskin, Bill Gates Kritik Elon Musk dan Trump soal Pemotongan Dana USAID
Pemerintah juga mengalokasikan USD12,7 miliar untuk kesehatan global. Sebagai pembanding, USAID mengelola sekitar USD43 miliar pada tahun fiskal 2023.
Presiden Refugees International, Jeremy Konyndyk menyatakan penurunan kapasitas tersebut tentu akan berdampak nyata.
"Kualitas dan level bantuannya tidak lagi sama. Ada biaya nyata dan kerusakan nyata," ujarnya.
Sementara itu, studi dari jurnal medis The Lancet memperkirakan perubahan ini berpotensi menyebabkan tambahan 14 juta kematian hingga 2030.
Pemerintah AS menolak proyeksi tersebut dan menyebutnya berbasis asumsi yang keliru.
Diketahu, USAID selama puluhan tahun menjadi instrumen utama bantuan luar negeri AS, terutama dalam program kesehatan, pangan, dan penanggulangan bencana.
Pembubaran lembaga tersebut menandai perubahan besar dalam kebijakan luar negeri AS.
Pemerintahan Trump menyatakan kebijakan ini bertujuan meningkatkan efisiensi, menghentikan program terkait isu iklim dan sosial, serta mendorong pembagian beban dengan negara penerima.
Baca Juga: USAID Beberkan 3 Tantangan Percepatan Dekarbonisasi Industri
Penurunan bantuan berpotensi memengaruhi program kesehatan global, termasuk penanganan HIV, ketahanan pangan, dan respons bencana.
Negara berkembang yang bergantung pada bantuan AS diperkirakan menghadapi tekanan tambahan dalam pembiayaan layanan dasar.
Di sisi lain, ketidakpastian aliran bantuan dapat memengaruhi stabilitas sosial dan ekonomi di negara penerima.
Ke depan, efektivitas model baru ini akan diuji oleh kemampuan biro baru dalam menjaga cakupan bantuan dengan sumber daya lebih kecil.
Respons lembaga global dan negara mitra juga akan menjadi faktor penentu keberlanjutan program.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








