FWD: 66 Persen Kelas Menengah RI Alami Tekanan Finansial

AKURAT.CO Mayoritas masyarakat kelas menengah Indonesia kini berada dalam tekanan finansial.
Survei terbaru FWD Consumer Outlook Survey yang dilakukan FWD Group bersama Ipsos menunjukkan sekitar 66% responden mengaku mengalami stres finansial, khawatir, atau hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Data survei mengungkapkan tekanan tersebut dipicu oleh kenaikan biaya hidup yang disebut oleh 70% responden, diikuti ketidakpastian pendapatan sebesar 43%, serta tingginya biaya layanan kesehatan sebesar 40%.
Baca Juga: Mandiri Institute: Lapangan Kerja Berkualitas Kunci Resiliensi Kelas Menengah
Kondisi ini mendorong pergeseran prioritas, dari sebelumnya berorientasi pada pertumbuhan aset menjadi fokus pada stabilitas keuangan.
Tekanan Financial Kian Kompleks
Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, Rudy F. Manik, mengatakan tekanan finansial yang dihadapi masyarakat saat ini semakin kompleks dan berbeda di tiap generasi.
Setiap generasi menghadapi tekanan dan memiliki prioritas finansial yang berbeda di setiap tahapan kehidupannya.
"Melalui FWD consumer outlook survey, kami ingin memahami kondisi, kebutuhan, dan kesenjangan perlindungan masyarakat kelas menengah secara lebih mendalam,” ujarnya dalam Konferensi Pers FWD Consumer Outlook Survey di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Dirinya menambahkan, peningkatan harapan hidup yang tidak diimbangi kesiapan finansial menjadi tantangan baru.
“Kami melihat bahwa masyarakat Indonesia saat ini menghadapi tekanan finansial yang semakin kompleks. Sementara terdapat kecenderungan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan, banyak individu yang belum sepenuhnya siap untuk menghadapi implikasi finansial dari usia hidup yang lebih panjang di tengah meningkatnya biaya kesehatan,” jelasnya.
Ragam Kebutuhan Tiap Generasi
Secara lebih rinci, survei juga menemukan perbedaan kebutuhan finansial antar generasi. Generasi Z (lahir 1996–2010) cenderung fokus pada kemandirian finansial dengan kebutuhan proteksi yang sederhana dan terjangkau.
Sementara Generasi Y (1981–1995) menghadapi tekanan sebagai sandwich generation, yaitu menanggung kebutuhan keluarga inti sekaligus orang tua. Adapun Generasi X (1965–1980) lebih memprioritaskan stabilitas jangka panjang dan kesiapan pensiun.
Dari sisi kesiapan jangka panjang, terdapat kesenjangan signifikan antara harapan hidup dan kemampuan finansial. Rata-rata responden memperkirakan dapat hidup hingga usia 79 tahun, namun tabungan yang dimiliki hanya cukup untuk menopang sekitar 19 tahun setelah pensiun.
Selain itu, terdapat potensi periode kerentanan kesehatan selama dua hingga empat tahun di masa tua, yang meningkatkan risiko beban finansial tambahan.
Secara historis, tekanan terhadap kelas menengah Indonesia memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi, terutama pada kelompok pengeluaran kesehatan dan kebutuhan dasar, cenderung mengalami kenaikan pascapandemi.
Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan riil tidak selalu sejalan, sehingga mempersempit ruang konsumsi dan tabungan masyarakat.
Kondisi ini berdampak langsung pada perilaku finansial publik. Masyarakat kini lebih konservatif dalam pengeluaran, menahan konsumsi non-esensial, serta mulai mencari instrumen perlindungan seperti asuransi untuk memitigasi risiko jangka panjang.
Perubahan ini juga tercermin dalam meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya perencanaan keuangan dan proteksi kesehatan.
Menanggapi temuan tersebut, industri asuransi mulai menyesuaikan strategi produk. FWD Insurance, misalnya, menghadirkan berbagai produk berbasis kebutuhan generasi, mulai dari perlindungan jiwa sederhana berbasis digital hingga produk proteksi jangka panjang dan syariah.
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan platform digital untuk mempermudah akses layanan, termasuk klaim dan pemantauan polis.
Dampak Bagi Pasar dan Publik
Tekanan terhadap kelas menengah diperkirakan masih akan berlanjut seiring ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Survei ini menegaskan pentingnya penguatan literasi keuangan serta perluasan akses terhadap produk perlindungan yang relevan.
Pemerintah dan pelaku industri juga dituntut untuk menghadirkan kebijakan dan solusi yang mampu menjaga daya tahan finansial kelas menengah sebagai salah satu penggerak utama ekonomi nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











