Akurat Logo

Airlangga Banggakan Pertumbuhan Ekonomi RI Lampaui China hingga AS

Esha Tri Wahyuni | 6 Mei 2026, 20:41 WIB
Airlangga Banggakan Pertumbuhan Ekonomi RI Lampaui China hingga AS
Menko perekonomian, Airlngga Hartarto

AKURAT.CO Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026, menjadikannya salah satu yang tertinggi di antara negara anggota G20. Angka ini melampaui ekspektasi pasar dan menunjukkan daya tahan ekonomi domestik di tengah tekanan global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan capaian tersebut usai rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Selasa (5/5/2026). 

“Pertumbuhan kita 5,61 persen dan ini termasuk yang tertinggi di G20, di atas China, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, bahkan Amerika Serikat. Ini juga di atas ekspektasi berbagai lembaga,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).

Baca Juga: Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Manufaktur Masih Jadi Tulang Punggung Nasional

Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang tetap kuat serta kinerja sektor riil seperti industri pengolahan, perdagangan, transportasi, pertanian, dan konstruksi. Selain itu, inflasi nasional tercatat terkendali di level 2,42% (yoy), masih berada dalam target pemerintah.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut, menandakan ketahanan sektor eksternal di tengah perlambatan ekonomi global. Cadangan devisa juga tetap berada pada level aman untuk mendukung stabilitas makroekonomi.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan, nilai tukar rupiah saat ini berada pada level undervalued. 

“Secara fundamental, rupiah seharusnya lebih kuat. Tekanan yang terjadi saat ini lebih disebabkan faktor global dan musiman,” kata Perry. Ia menambahkan bahwa penguatan rupiah berpotensi terjadi seiring solidnya fundamental ekonomi domestik.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut ekonomi Indonesia sedang memasuki fase akselerasi. Pemerintah, kata dia, akan menyiapkan stimulus tambahan untuk menjaga momentum pertumbuhan. 

“Kami melihat ekonomi bergerak ke fase akselerasi, sehingga koordinasi kebijakan akan terus diperkuat,” ujarnya.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi mengakui, adanya tekanan capital outflow di pasar keuangan domestik. Namun, ia menegaskan kondisi tersebut lebih dipengaruhi faktor eksternal seperti suku bunga global yang tinggi dan ketegangan geopolitik. 

“Fundamental kita tetap baik, sehingga ke depan pasar diharapkan kembali stabil,” ujarnya.

Sebagai respons terhadap perhatian investor global, OJK memperkuat transparansi pasar modal melalui kebijakan keterbukaan data pemegang saham, pengungkapan ultimate beneficial owner, serta peningkatan free float saham.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam satu dekade terakhir cenderung stabil di kisaran 5%, termasuk saat pemulihan pascapandemi COVID-19. Capaian 5,61% pada awal 2026 memperkuat sinyal bahwa ekonomi domestik tidak hanya pulih, tetapi mulai memasuki fase ekspansi yang lebih kuat dibandingkan banyak negara besar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.