Akurat Logo

INDEF: Pelemahan Rupiah Jadi Ancaman Indonesia Emas 2045

Andi Syafriadi | 18 Mei 2026, 11:04 WIB
INDEF: Pelemahan Rupiah Jadi Ancaman Indonesia Emas 2045
ilustrasi mata uang Rupiah dan dolar AS

AKURAT.CO Angka fantastis dan klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada kuartal I-2026 oleh pemerintah tampaknya menyisakan celah kontradiktif, saat tekanan terhadap nilai tukar rupiah justru menunjukkan cerita berbeda.

Pada 16 Mei 2026 lalu, rupiah tercatat menembus level Rp17.605 per dolar Amerika Serikat, jauh di atas asumsi APBN yang berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS.

Merespon hal tersebut, ekonom muda INDEF, Dr. Ariyo DP Irhamna, pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan pasar keuangan, melainkan ancaman nyata terhadap kesejahteraan masyarakat dan target Indonesia menjadi negara maju.

Baca Juga: Rupiah Terus Melemah, Pengamat Prediksi Sentuh Rp17.850/USD

Menurut Ariyo, depresiasi rupiah secara langsung menggerus Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia dalam denominasi dolar AS.

"Dengan estimasi PDB nominal 2026 sekitar Rp25.780 triliun dan jumlah penduduk sekitar 282 juta jiwa, PDB per kapita Indonesia diperkirakan mencapai Rp91,4 juta. Namun ketika dikonversi ke dolar AS menggunakan asumsi APBN Rp16.500 per dolar, nilainya setara sekitar USD5.540," katanya melalui keterangan tertulis yang diterima oleh AKURAT.CO .

Masalahnya, lanjut Ariyo, dengan kurs aktual Rp17.605 per dolar, nilai tersebut turun menjadi sekitar USD5.190 per kapita. Artinya, terdapat penurunan sekitar USD350 per kapita hanya akibat pelemahan nilai tukar.

“Selisih itu hilang bukan karena Indonesia memproduksi lebih sedikit, melainkan karena rupiah terdepresiasi,” tulis Ariyo.

Ariyo menghitung setiap pelemahan rupiah sebesar 1% dapat mengurangi PDB per kapita Indonesia sekitar USD52.

Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi target Indonesia Emas 2045 yang menargetkan Indonesia keluar dari kategori negara berpendapatan menengah.

"Berdasarkan standar Bank Dunia, ambang batas negara berpenghasilan tinggi saat ini berada di kisaran USD14.005 per kapita. Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga memperbesar beban utang pemerintah," ucapnya kembali.

Ariyo memperkirakan setiap pelemahan rupiah 1% dapat menambah nilai utang luar negeri pemerintah sekitar Rp35 triliun dalam denominasi rupiah.

Sementara itu, cadangan devisa Indonesia tercatat turun selama tiga bulan berturut-turut, dari USD151,9 miliar pada akhir Februari menjadi USD148,2 miliar pada akhir Maret 2026.

Tekanan terhadap rupiah juga berdampak langsung terhadap kelas menengah. Masyarakat menghadapi kenaikan harga barang impor, biaya pendidikan luar negeri, hingga tekanan terhadap daya beli.

Baca Juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Komisi XI Desak BI Segera Bertindak

Menurut Ariyo, situasi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi tidak otomatis mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“PDB tumbuh 5 persen, tetapi pendapatan riil dalam dolar justru tergerus,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai stabilitas nilai tukar harus menjadi prioritas utama pemerintah dan otoritas moneter.

Tanpa penguatan fundamental ekspor dan diversifikasi industri, pelemahan rupiah berisiko menjadi tekanan berkepanjangan terhadap ekonomi nasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.