Demo 'Kawal Putusan MK' Jilid II Diwarnai Lempar Botol Air Mineral dan Bakar Ban

AKURAT.CO Ratusan mahasiswa terlihat masih melakukan aksi demonstrasi 'Kawal Putusan Mahkamah Konstitusi (MK)' di depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (26/8/2024).
Berdasarkan pantauan Akurat.co, sejumlah mahasiswa terlihat mulai membakar ban dan melempar botol air mineral ke arah dalam pekarangan Gedung DPR RI. Bahkan, sebagian dari mereka terlihat mulai memanjat dan menggoyang-goyangkan pagar.
Terdapat pula mahasiswa di atas dua mobil komando yang kompak bergantian berorasi menyampaikan pendapatnya. Orasi ini sekaligus mengiringi aksi demonstrasi hari ini.
"Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia! Mari kita lawan politik dinasti," ujar salah satu orator.
Baca Juga: Kawal Putusan MK, Ratusan Mahasiswa Kembali Gelar Demonstrasi di Depan Gedung DPR RI
Selain itu, terdengar pula mahasiswa yang memutar lagu 'Ibu Pertiwi' dibarengi dengan orasi. Petugas kepolisian pun terlihat masih sigap mengawasi aksi demonstrasi dengan berjejer di pinggir Jalan Gatot Subroto depan Gedung DPR.
Meski begitu, suasana demonstrasi masih cenderung kondusif, sejauh ini tidak ada bentrokan dari petugas kepolisian dengan para demonstran. Bahkan sebagian mahasiswa terlihat sibuk berswafoto dan memakan nasi kotak yang telah disediakan.
Sebelumnya, unjuk rasa terkait mengawal putusan Mahkamah Konstitusi (MK) kembali lagi digelar oleh sejumlah elemen masyarakat di depan Gedung DPR RI dan KPU RI pada hari ini, Senin (26/8/2024). 4.716 personel gabungan disiagakan.
"Kuat libat personel pengamanan aksi unras sebanyak 4.716 personel. Terdiri dari: Satgasda 2.780 personel. Satgas Res: 245 Personel BKO TNI, Mabes Polri, dan Pemda: 1.691 personel," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam Indradi kepada wartawan.
Ade Ary menjelaskan, personel tersebut pun disebar di tiga titik, yakni area Gedung DPR RI 2.728 personel, area Gedung KPU RI 1.777 personel, serta personel untuk pengamanan lalu lintas 211 personel.
Terkait rekayasa lalu lintas, nantinya akan bersifat situasional dengan melihat situasi dan kondisi di lapangan.
"Melihat eskalasi di lapangan, apabila jumlah massa dan eskalasi meningkatkan maka diadakan penutupan jalan. Apabila jumlah massa tidak banyak, lalin normal seperti biasa," ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








