Cuaca Ekstrem, PJJ Jadi Solusi Jaga Keselamatan Murid

AKURAT.CO Masih tingginya curah hujan di wilayah Jakarta berdampak pada terganggunya berbagai aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Untuk mengantisipasi risiko cuaca ekstrem, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kembali diterapkan sebagai solusi agar proses pendidikan tetap berjalan aman.
Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Ghozi Zulazmi, menilai kebijakan perpanjangan PJJ hingga 1 Februari 2026 sebagai langkah yang tepat dan responsif.
Menurutnya, kebijakan tersebut sejalan dengan peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Ghozi mengatakan, kondisi cuaca yang tidak menentu tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat secara umum, tetapi juga berdampak langsung pada keselamatan dan kelancaran proses belajar mengajar di sekolah.
“Dalam situasi cuaca seperti ini, pemerintah harus mengambil langkah yang berpihak pada keselamatan. PJJ menjadi pilihan paling rasional agar pembelajaran tetap berjalan tanpa membahayakan murid maupun tenaga pendidik,” kata Ghozi kepada wartawan, Minggu (1/2/2026).
Ia menegaskan, penerapan PJJ bertujuan mengutamakan keselamatan seluruh unsur pendidikan, mulai dari murid, guru, hingga tenaga kependidikan.
Baca Juga: Banjir Jadi Peringatan Serius, Jakarta Butuh Tanggul Laut yang Lebih Kuat
Dengan sistem pembelajaran jarak jauh, aktivitas belajar dinilai lebih fleksibel tanpa mengesampingkan aspek keamanan.
“Mobilitas dari rumah ke sekolah di pagi hari sangat berisiko di tengah hujan deras dan potensi banjir, baik bagi pengguna transportasi umum maupun kendaraan pribadi, termasuk orang tua yang mengantar anak. Karena itu, keselamatan harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Selain faktor mobilitas, Ghozi juga menyoroti kondisi sejumlah sekolah yang terdampak banjir.
Meski tidak semua sekolah mengalami genangan, ia menilai situasi tersebut tetap berpotensi mengganggu konsentrasi serta efektivitas kegiatan belajar mengajar.
“Ketika lingkungan sekolah terdampak banjir, suasana belajar tentu menjadi tidak ideal. Ini perlu menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan kebijakan,” ujarnya.
Dengan diberlakukannya PJJ, Ghozi berharap hak murid untuk tetap memperoleh layanan pendidikan dapat terpenuhi meski pembelajaran tatap muka belum memungkinkan.
“Pemantauan, komunikasi, serta interaksi aktif dari para guru sangat penting, tentu dengan dukungan penuh dari orang tua di rumah,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







