Tawuran di Jakarta Masih Terjadi hingga Makan Korban Jiwa, Sistem Pendekatan Humanis Dipertanyakan

AKURAT.CO Tawuran terjadi di wilayah Jakarta Barat, mengakibatkan seorang pelajar tewas. Insiden ini pun menimbulkan pertanyaan terkait efektivitas sistem pendekatan humanis yang diterapkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta untuk mencegah tawuran.
Anggota DPRD Jakarta dari Fraksi PSI, Justin Adrian Untayana, menilai pendekatan humanis yang selama ini diterapkan tidak mampu menghentikan aksi kekerasan jalanan. Menurutnya, insiden itu seharusnya bisa dicegah jika Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta mengambil langkah tegas sejak awal.
"Kami sudah mewanti-wanti sebelumnya kalau tawuran ini akan terus berlanjut jika tidak ada tindakan tegas dari Pemprov DKI. Tapi Mas Pram bersikukuh dengan pendekatan humanisnya yang tidak tegas apalagi efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut," kata Justin, Selasa (3/2/2026).
Baca Juga: Ngeri! Anak 4 Tahun Tertembak Peluru Nyasar Akibat Aksi Tawuran di Medan
Dia menegaskan, hilangnya satu nyawa akibat tawuran merupakan harga yang terlalu mahal. Insiden tawuran yang terus terjadi dan menimbulkan korban jiwa seolah menunjukkan kegagalan dalam melindungi warga, khususnya pelajar.
"Sekarang, nyawa seseorang harus kembali terenggut. Kapan Pemprov DKI belajar bahwa kematian satu orang saja sebenarnya sudah terlalu banyak," ujarnya.
Dia mendorong Pemprov Jakarta, untuk segera mengubah strategi penanganan tawuran dengan langkah yang lebih tegas dan terukur. Menurutnya, ketegasan dibutuhkan tidak hanya untuk menciptakan efek jera, tetapi juga untuk menjaga ketertiban dan keselamatan masyarakat.
Baca Juga: Pramono Duga Tawuran Manggarai Dipicu Kesengajaan Pihak yang Membenturkan Warga
"Sudah saatnya Mas Pram tegas demi melindungi nyawa warga dan ketertiban, tidak hanya untuk memberikan efek jera bagi para pelaku dan pelajaran untuk lainnya," tegasnya.
Dia berharap, kasus tawuran yang menewaskan pelajar di Jakarta Barat ini menjadi peristiwa terakhir. Dia meminta pemerintah daerah, tidak lagi menunda evaluasi kebijakan agar kejadian serupa tidak terulang.
"Kematian kemarin harus menjadi yang terakhir kalinya. Jangan sampai ada lagi nyawa-nyawa yang melayang karena tawuran," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









