'Jakarta Darurat Begal' Akibat Kondisi Ekonomi Sulit, Penindakan Represif Tak Cukup

AKURAT.CO Fenomena kejahatan jalanan, khususnya aksi begal yang tengah marak terjadi di Jakarta menjadi sorotan seluruh pihak. Kondisi perekonomian yang sulit dinilai menjadi salah satu pemicu kriminalitas meningkat.
Anggota Komisi III DPR RI, Gilang Dhielafararez, mengatakan fenomena tersebut tak bisa dipandang sebelah mata dan ditoleransi.
"Kejahatan apapun bentuknya termasuk begal tidak bisa ditoleransi, dan harus ditindak degan tegas. Tapi kita juga tidak bisa menutup mata, kondisi ekonomi yang sulit menjadi salah satu akar persoalan kriminalitas semakin tinggi," kata Gilang dalam keterangan resminya, Selasa (26/5/2025).
Baca Juga: Tindakan Tegas terhadap Begal Bukan Pelanggaran HAM
Seperti diketahui, jagat media sosial tengah diramaikan dengan tagar Jakarta Darutat Begal menyusul banyaknya kasus begal yang terjadi belakangan ini, terutama di wilayah Jakarta Barat. Aksi ini membuat masyarakat khawatir, khususnya para pekerja yang sering pulang malam.
Tak sedikit warga Jakarta yang membagikan pengalamannya saat dihadang begal, hingga bermunculan berbagai tips untuk menghindari aksi kejahatan tersebut.
Apalagi saat ini begal semakin nekat dan terang-terangan, bahkan sebuah rekaman video viral menunjukkan pelaku membawa senjata tajam hingga diduga senjata api untuk mengintimidasi korban.
Rentetan aksi begal yang masif di wilayah ibukota Jakarta pun membuat Polda Metro Jaya mendirikan unit bernama Tim Pemburu Begal, disusul wacana instruksi begal ditembak di tempat.
Sementara TNI mengungkap tidak menutup kemungkinan akan menurunkan personelnya melalui batalyon-batalyon yang baru diresmikan untuk membantu mengatasi aksi-aksi begal.
Pihak polisi juga telah menyatakan memang saat ini terjadi peningkatan aksi kejahatan jalanan. Polda Metro Jaya mencatat ada 1.283 laporan kasus kejahatan jalanan yang terjadi sejak 1 Mei hingga 22 Mei 2026.
Baca Juga: Pasukan Tempur TNI Berantas Begal
Dari kasus tersebut, polisi melakukan upaya paksa terhadap 173 orang di mana 38 orang ditangkap Tim Pemburu Begal Ditreskrimum Polda Metro Jaya, sedangkan 135 orang lainnya ditangani jajaran kepolisian resor atau polres.
Sejumlah kriminolog, sosiolog dan ekonom pun menyebut bahwa fenomena ini adalah masalah struktural terkait persoalan kondisi ekonomi. Tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, dan kesulitan mencari nafkah disebut memicu frustrasi sosial yang bermuara pada kejahatan jalanan.
Terkait hal ini, Gilang menilai penindakan kejahatan harus sejalan dengan pencegahan termasuk mengatasi latar belakang mendasar dari aksi kriminalitas itu sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







