Ekosistem Toko Kelontong SRC Berkontribusi Rp251 Triliun ke Ekonomi Nasional, Begini Cara Warung Kecil Naik Kelas

AKURAT.CO Di tengah menjamurnya minimarket modern dan perubahan kebiasaan belanja masyarakat yang semakin digital, banyak orang mengira toko kelontong perlahan akan kehilangan relevansinya. Namun kenyataannya berbeda. Di banyak daerah Indonesia, warung dekat rumah justru masih menjadi pusat belanja harian sekaligus penggerak ekonomi lingkungan sekitar.
Fenomena itu terlihat dari pertumbuhan Sampoerna Retail Community atau SRC. Ekosistem yang bermula dari puluhan toko kecil di Medan itu kini disebut berkontribusi sekitar Rp251 triliun per tahun terhadap ekonomi nasional. Angka tersebut setara 9,5 persen Produk Domestik Bruto ritel nasional pada 2025.
Apa Itu Ekosistem SRC dan Kenapa Kontribusinya Besar?
Sampoerna Retail Community merupakan ekosistem pemberdayaan UMKM toko kelontong yang dibangun oleh HM Sampoerna sejak 2008.
Saat ini jaringan tersebut mencakup:
lebih dari 250 ribu toko SRC,
sekitar 6.300 mitra,
dan lebih dari 10 ribu paguyuban di seluruh Indonesia.
Menurut Direktur HM Sampoerna Yohan Lesmana, kontribusi omzet keseluruhan ekosistem SRC mencapai Rp251 triliun per tahun.
“Secara nasional, keseluruhan ekosistem SRC telah menghasilkan kontribusi omzet sekitar Rp251 triliun per tahun, atau setara 9,5 persen Produk Domestik Bruto ritel nasional pada tahun 2025,” ujar Yohan dalam Talkshow HUT ke-18 SRC di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.
Angka itu meningkat Rp15 triliun dibanding kontribusi pada 2023 yang berada di level Rp236 triliun.
Kalau dilihat sekilas, angka Rp251 triliun mungkin terdengar seperti statistik korporasi biasa. Padahal dampaknya jauh lebih luas.
Kontribusi tersebut berasal dari jutaan transaksi kecil harian:
pembelian kopi,
sabun,
beras,
makanan ringan,
hingga kebutuhan rumah tangga di warung sekitar rumah.
Artinya, ekonomi toko kelontong sebenarnya bekerja seperti “denyut mikro” yang menopang konsumsi domestik Indonesia setiap hari.
Kenapa Toko Kelontong Masih Bertahan di Era Retail Modern?
Pertanyaan ini sering muncul ketika minimarket modern terus berekspansi hingga ke daerah.
Namun di Indonesia, toko kelontong punya kekuatan yang sulit ditiru retail modern: kedekatan sosial.
Warung bukan sekadar tempat membeli barang. Di banyak lingkungan:
pemilik toko mengenal pelanggan,
pembeli bisa berutang,
anak-anak bisa membeli dalam jumlah kecil,
dan interaksi sosial tetap terjadi.
SRC tampaknya memahami bahwa kekuatan utama toko kecil bukan hanya harga, tetapi hubungan komunitas.
Karena itu, pendekatan SRC bukan mengubah warung menjadi minimarket sepenuhnya. Mereka justru mempertahankan karakter lokal toko sambil memperbaiki pengalaman belanja.
Direktur PT SRC Indonesia Sembilan Romulus Sutanto mengatakan pendampingan operasional menjadi fokus utama.
“Kami memiliki pendamping yang disebut SRC Coach untuk membantu toko dalam berbagai aspek, mulai dari penataan layout toko agar lebih rapi, bersih, dan terang,” kata Romulus.
Sekilas terlihat sederhana. Tetapi dalam dunia retail, tata letak toko sangat memengaruhi perilaku pembeli.
Ternyata Warung yang Lebih Terang Bisa Membuat Orang Belanja Lebih Banyak
Pelanggan cenderung lebih nyaman berada di toko yang terang, bersih, dan tertata rapi. Efeknya, pelanggan bisa lebih lama berada di toko dan akhirnya membeli lebih banyak barang.
Fenomena ini sebenarnya mirip dengan strategi retail modern:
pencahayaan dibuat terang,
produk dikelompokkan,
rak ditata berdasarkan kategori,
dan jalur belanja dibuat nyaman.
Bedanya, SRC mencoba membawa prinsip itu ke toko kelontong tanpa menghilangkan identitas warung tradisional.
Di lapangan, perubahan kecil seperti:
rak lebih rapi,
harga lebih jelas,
produk mudah ditemukan,
hingga lorong toko lebih lega,
sering kali berdampak langsung pada omzet.
Banyak warung tradisional sebenarnya kehilangan potensi penjualan bukan karena kalah harga, tetapi karena pengalaman belanja kurang nyaman.
Digitalisasi UMKM Ternyata Tidak Selalu Soal Marketplace
Salah satu kesalahan umum dalam narasi digitalisasi UMKM adalah menganggap semua usaha kecil harus langsung masuk marketplace besar.
Padahal bagi toko kelontong, tantangan utama justru sering berada di operasional harian:
pemesanan barang,
stok produk,
pencatatan sederhana,
hingga akses distribusi.
SRC mencoba menjawab masalah itu melalui aplikasi AYO by SRC.
Menurut Romulus Sutanto:
“Kami juga mendorong digitalisasi melalui aplikasi AYO by SRC yang memudahkan pemilik toko dalam memesan produk-produk kemitraan serta mengakses berbagai layanan lainnya.”
Pendekatan ini lebih realistis dibanding memaksa semua UMKM menjadi seller online penuh.
Banyak pelaku warung sebenarnya tidak membutuhkan sistem digital yang rumit. Mereka lebih membutuhkan:
suplai barang stabil,
akses harga kompetitif,
dan pengelolaan toko yang lebih efisien.
Karena itu, digitalisasi yang relevan sering kali justru dimulai dari belakang layar, bukan dari konten viral di media sosial.
Baca Juga: SRC Perkuat Ekonomi Rakyat, 250 Ribu Toko Serap 1 Juta Pekerja
Baca Juga: Bagaimana Cara Mengurus Izin Usaha Mikro Kecil?
SRC Disebut Mirip Franchise Modern, Tapi Tanpa Biaya Franchise
Salah satu pernyataan paling menarik datang dari Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI Iqbal Shoffan Shofwan.
Menurutnya, SRC sebenarnya menghadirkan model pembinaan yang mirip franchise retail modern.
“SRC sebenarnya menghadirkan model pembinaan yang mirip seperti franchise retail modern, tetapi tanpa membebani pemilik toko dengan biaya franchise,” ujar Iqbal.
Pernyataan ini penting karena membuka perspektif baru tentang transformasi retail tradisional Indonesia.
Selama ini franchise identik dengan:
biaya mahal,
standar operasional ketat,
dan dominasi merek besar.
Namun SRC mencoba mengambil elemen positifnya:
pembinaan,
standardisasi,
pendampingan,
dan jaringan distribusi,
tanpa menghilangkan kepemilikan usaha dari pelaku UMKM.
Ini bisa menjadi model transformasi retail yang lebih cocok untuk struktur ekonomi Indonesia.
Kenapa UMKM Menjadi Penyangga Ekonomi Indonesia?
Paparan Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI Dida Gardera memperlihatkan kenapa pemerintah sangat serius mendorong UMKM.
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM:
terdapat sekitar 64 juta unit usaha di Indonesia,
dan sekitar 99,7 persennya merupakan usaha mikro.
Dida mengatakan sektor formal belum mampu sepenuhnya menyerap tambahan tenaga kerja baru setiap tahun.
“Karena itu, UMKM menjadi tulang punggung sekaligus penopang utama perekonomian Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan ini penting untuk dipahami.
Ketika orang membicarakan ekonomi nasional, perhatian sering hanya tertuju pada:
perusahaan besar,
startup teknologi,
atau investasi jumbo.
Padahal jutaan warung kecil juga berperan menjaga:
perputaran uang,
lapangan kerja informal,
dan konsumsi rumah tangga.
Dalam banyak krisis, sektor UMKM justru menjadi bantalan ekonomi masyarakat.
Baca Juga: BPDP Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Workshop Hilirisasi Kakao “Nyokelat di Roemah”
Baca Juga: Kisah Elvira Bangun Usaha Jus Sehat di Depok, Berkembang Berkat Dukungan Ekosistem Ultra Mikro BRI
Dari 57 Toko di Medan Menjadi Gerakan Retail Nasional
Ada detail menarik yang membuat perjalanan SRC terasa berbeda.
Menurut Yohan Lesmana, SRC lahir dari 57 toko pertama di Medan. Dari sana, jaringan tersebut berkembang menjadi lebih dari 250 ribu toko di seluruh Indonesia.
Kalau dihitung, pertumbuhannya rata-rata mencapai sekitar 13 ribu hingga 14 ribu toko baru setiap tahun.
Pertumbuhan ini menunjukkan satu hal penting:
pendampingan UMKM yang konsisten ternyata bisa menciptakan efek ekonomi skala besar.
Banyak program UMKM berhenti pada:
pelatihan seminar,
bantuan modal sesaat,
atau program simbolik.
Sementara SRC tampaknya fokus pada hal operasional sehari-hari yang langsung memengaruhi omzet:
layout toko,
pencahayaan,
distribusi,
loyalitas pelanggan,
hingga komunitas paguyuban.
Masa Depan Toko Kelontong Mungkin Tidak Akan Hilang
Ada satu paradoks menarik dari perkembangan retail Indonesia.
Semakin modern perilaku konsumen, justru semakin penting toko yang dekat, cepat, dan personal.
Masyarakat hari ini memang terbiasa dengan aplikasi digital. Tetapi untuk kebutuhan harian kecil, banyak orang tetap memilih warung dekat rumah karena:
praktis,
cepat,
dan terasa lebih akrab.
Karena itu, masa depan toko kelontong kemungkinan bukan soal bertahan atau kalah dari retail modern.
Yang berubah adalah cara warung dikelola.
Dulu warung berjalan sekadar “asal buka”. Hari ini, toko kecil mulai belajar:
memahami perilaku pelanggan,
menata produk,
menggunakan teknologi sederhana,
dan membangun loyalitas konsumen.
Di situlah transformasi terbesar sebenarnya terjadi.
Pantau terus perkembangan transformasi UMKM dan retail tradisional Indonesia, karena perubahan besar ekonomi nasional sering dimulai dari transaksi kecil di warung dekat rumah.
Baca Juga: Menteri Maman: SAPA UMKM siap Dukung Pemasaran Digital bagi Pelaku Usaha
Baca Juga: Isu Larangan Toko Kelontong Beroperasi 24 Jam, DPR: Diskriminasi ke Pengusaha Kecil
FAQ
Apa itu ekosistem SRC dan bagaimana dampaknya terhadap ekonomi nasional?
Sampoerna Retail Community atau SRC adalah ekosistem pemberdayaan UMKM toko kelontong yang dibangun oleh HM Sampoerna sejak 2008. Program ini membantu toko kelontong berkembang melalui pendampingan usaha, digitalisasi, penataan toko, hingga penguatan komunitas paguyuban. Berdasarkan paparan SRC, keseluruhan ekosistemnya kini berkontribusi sekitar Rp251 triliun per tahun terhadap ekonomi nasional atau setara 9,5 persen Produk Domestik Bruto ritel Indonesia.
Kenapa toko kelontong masih penting di era retail modern?
Toko kelontong tetap penting karena memiliki kedekatan sosial dengan masyarakat yang sulit digantikan retail modern. Banyak konsumen Indonesia masih mengandalkan warung dekat rumah untuk kebutuhan harian karena lebih cepat, fleksibel, dan personal. Selain itu, toko kelontong juga menjadi bagian dari ekonomi komunitas karena perputaran uangnya langsung dirasakan lingkungan sekitar, mulai dari distributor kecil hingga produk UMKM lokal.
Bagaimana SRC membantu toko kelontong naik kelas?
SRC membantu UMKM toko kelontong melalui sistem pendampingan operasional yang cukup detail. Pemilik toko dibantu dalam penataan layout, pencahayaan toko, pengelompokan produk, hingga pengelolaan stok barang. Selain itu, ada pendamping yang disebut SRC Coach untuk membantu toko menjadi lebih rapi, modern, dan nyaman bagi pelanggan. Pendekatan ini membuat warung tradisional mampu menerapkan prinsip retail modern tanpa kehilangan karakter lokalnya.
Apa fungsi aplikasi AYO by SRC bagi pemilik warung?
AYO by SRC berfungsi sebagai platform digital yang membantu pemilik toko memesan produk kemitraan, mengakses layanan usaha, dan mengelola operasional toko dengan lebih praktis. Digitalisasi seperti ini dianggap lebih realistis bagi UMKM karena fokus pada kebutuhan sehari-hari, seperti suplai barang dan efisiensi usaha. Banyak toko kelontong tidak membutuhkan sistem digital yang rumit, tetapi membutuhkan akses distribusi dan pengelolaan usaha yang lebih sederhana dan stabil.
Kenapa UMKM disebut tulang punggung ekonomi Indonesia?
UMKM disebut sebagai tulang punggung ekonomi nasional karena jumlahnya sangat besar dan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM yang disampaikan pemerintah, terdapat sekitar 64 juta unit usaha di Indonesia dan 99,7 persennya merupakan usaha mikro. Saat sektor formal belum mampu menyerap seluruh tenaga kerja baru setiap tahun, UMKM menjadi penyangga utama ekonomi masyarakat, terutama saat kondisi krisis atau perlambatan ekonomi terjadi.
Apa yang membuat model SRC berbeda dari franchise retail modern?
Menurut Kementerian Perdagangan, model pembinaan SRC mirip franchise retail modern tetapi tanpa membebani pemilik toko dengan biaya franchise. Pemilik warung tetap memiliki usahanya sendiri, tetapi mendapatkan pendampingan mulai dari tata letak toko, pengelolaan produk, hingga akses distribusi barang. Model ini dianggap lebih cocok untuk struktur UMKM Indonesia karena membantu toko kecil berkembang tanpa harus kehilangan identitas lokal maupun terbebani investasi besar.
Bagaimana toko yang lebih rapi bisa meningkatkan omzet?
Dalam dunia retail, pengalaman belanja sangat memengaruhi keputusan pembelian pelanggan. Toko yang terang, bersih, dan produk-produknya tertata rapi membuat pelanggan lebih nyaman berada di dalam toko. Efeknya, konsumen cenderung berbelanja lebih lama dan membeli lebih banyak barang. Prinsip inilah yang mulai diterapkan SRC di toko kelontong binaannya, sehingga perubahan sederhana seperti layout rak dan pencahayaan ternyata dapat berdampak langsung terhadap peningkatan penjualan UMKM.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 4Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9PPh Final Royalti 1,5 Persen bagi Penulis Diberlakukan, Perkuat Ekosistem Literasi Nasional
- 10Kasus Penipuan Kripto Jalan di Tempat, Polda Metro Jaya Diminta Segera Beri Kepastian Hukum






