Di AGTC, Produser Dessy Sukam Ajak Mahasiswa Hadirkan Jurnalistik Berkualitas

AKURAT.CO Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama diajak untuk menghadirkan jurnalistik yang berkualitas.
Demikian disampaikan produser televisi, Dessy Sukam, dalam kegiatan Akurat Goes to Campus (AGTC) yang digelar Kamis (4/4/2024).
Menurut wartawan senior itu, dinamika jurnalistik yang terjadi saat ini berdampak pada turunnya kualitas kegiatan tersebut.
Baca Juga: News Presenter Akurat.co Ungkap Transformasi Media di Era Ini, Ternyata Begini Perbedaannya
"Saat ini nyari berita hanya yang disuka bukan kepentingan hari ini, apa yang menarik dan menyenangkan untuk diketahui itupun menjadi perubahan. Akhirnya berdampak pada turunnya kualitas jurnalistik," tutur Dessy.
Dia mengatakan, salah satu contoh turunnya kualitas jurnalistik yaitu semua orang bisa menjadi penyebar informasi, memproduksi informasi dan membuat konten.
Tidak ada batas antara konten kreator dengan jurnalis, reporter dan wartawan sehingga sulit dibedakan oleh masyarakat awam.
"Digarisbawahi bahwa jurnalis tidak lagi berada di puncak piramida sebagai penyebar informasi. Nah, ini hal yang sedikit miris tapi bisa dianggap sebagai tantangan," kata Dessy.
Menjamurnya media online dan media sosial sebagai penyebar informasi lantas membuat jurnalisme berkualitas sangat dibutuhkan.
Menurut Dessy, rumus 5W+1H dalam membuat berita di masa sekarang tidaklah cukup.
"Kalau berita-berita yang sekilas muncul di media sosial hanya berbekal konten foto, berita, caption itu sudah langsung membentuk publik. Tapi dari segi akurasi dan kelengkapan data tidak sama," jelasnya.
"Hanya kecepatan yang menjadi faktor terpenting bagi mereka yang bermain di media sosial, sementara jurnalisme berkualitas harusnya lebih dari itu," tambahnya.
Dessy lantas membagikan pendapatnya tentang jurnalisme berkualitas yang terdiri dari nilai dan metode.
Dalam segi nilai, tujuan jurnalisme adalah memberi informasi yang dibutuhkan masyarakat untuk mengambil keputusan terbaik memihak publik tidak menghakimi menjaga privasi.
"Tidak hanya sekadar cepat, tidak hanya sekadar bombastis, tapi jurnalis itu harus mendalam dan masuk lebih dalam lagi tidak hanya sebagai penyampai pesan," katanya.
Baca Juga: Wakil Rektor I Apresiasi Acara AGTC Bersama Pospay di Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama
Tetapi, jurnalisme harus berbeda dengan propaganda, dongeng, iklan, desas desus, sebab butuh verifikasi.
"Jurnalisme butuh verifikasi, itu yang membedakan. Media sosial belum tentu terverifikasi, bahkan berita-beritanya tidak terverifikasi. Berita harus ada sumbernya, harus ada risetnya," pungkas Dessy.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal






