Akurat
Pemprov Sumsel

Ahmad Tohari, Esther Haluk, dan Murdiono Mokoginta Terima Penghargaan Penulis 2024

Arief Rachman | 9 Desember 2024, 21:35 WIB
Ahmad Tohari, Esther Haluk, dan Murdiono Mokoginta Terima Penghargaan Penulis 2024

AKURAT.CO Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA bersama Lembaga Kreator Era AI memberikan penghargaan kepada tiga penulis inspiratif pada tahun 2024.

Pertama adalab Ahmad Tohari yang dianugerahi Lifetime Achievement Award 2024 atas dedikasinya dalam dunia sastra selama lebih dari 40 tahun.

Lalu yang kedua, Esther Haluk, penulis asal Papua, menerima Dermakata Award 2024 Kategori Fiksi berkat karyanya yang menyuarakan keadilan sosial.

Adapun yang ketiga, Murdiono Mokoginta dari Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi, mendapat Dermakata Award 2024 Kategori Nonfiksi atas riset dan dedikasinya mengangkat sejarah lokal.

Penghargaan ini mencakup Piagam Penghargaan dan hadiah berupa dana sebesar Rp50 juta untuk penerima Lifetime Achievement Award dan masing-masing Rp35 juta untuk Dermakata Award.

Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA sekaligus penggagas Lembaga Kreator Era AI, Denny JA, Senin (9/12/2024).

Baca Juga: LIGHT Group Rayakan 20 Tahun Inovasi Pengelolaan Berat Badan di Indonesia

Dalam sambutannya, Denny JA juga mengumumkan bahwa Denny JA Foundation telah menghibahkan dana abadi untuk penghargaan tahunan ini.

Dengan adanya dana abadi, penghargaan bagi penulis Indonesia dapat berlangsung hingga lebih dari 50 tahun ke depan.

“Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi kepada para penulis yang telah memberikan kontribusi besar dalam dunia sastra dan literasi, serta memajukan nilai-nilai kebudayaan dan keadilan," ujar Denny JA.

Para penerima penghargaan dipilih melalui proses seleksi bertahap oleh tim juri yang terdiri dari perwakilan daerah di seluruh Indonesia:

- Anwar Putra Bayu (Sumatera) sebagai Ketua Juri untuk Lifetime Achievement Award

- Okky Madasari (Jawa) sebagai Ketua Juri untuk Dermakata Award

Juri lainnya mencakup Dhenok Kristianti (Jawa), Hamri Manopo (Sulawesi), I Wayan Suyadna (Bali), Muhammad Thobroni (Kalimantan), dan Victor Manengke (Papua).

 

Berikut adalah profil singkat ketiga penerima penghargaan:

1. Lifetime Achievement Award 2024: Ahmad Tohari

Ahmad Tohari merupakan penulis legendaris Indonesia yang telah menghidupkan desa-desa Indonesia dalam karya sastranya. Dengan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dan Di Kaki Bukit Cibalak, ia melukiskan kehidupan desa dengan keindahan dan kompleksitas yang nyata.

Tohari dianggap:

- Penjaga jiwa desa, karena karya-karyanya menempatkan desa sebagai pusat narasi yang penuh warna dan nilai-nilai budaya.
- Saksi keadilan sosial, dengan karya seperti Kubah dan Orang-Orang Proyek yang menggambarkan ketimpangan sosial dan pergulatan politik.
- Penghubung spiritualitas dan kemanusiaan, dengan nilai-nilai universal yang relevan di tengah dunia modern.

Penghargaan ini adalah bentuk pengakuan atas kontribusi besar Ahmad Tohari dalam menjaga warisan budaya dan nilai kemanusiaan melalui sastra.

Baca Juga: Beroperasi Saat Lebaran 2025, Masjid Negara di IKN Diharapkan Jadi Kebanggaan Masyarakat

2. Dermakata Award 2024 (Fiksi): Esther Haluk

Penulis Papua, Esther Haluk, mendapatkan penghargaan atas karyanya Nyanyian Sunyi (2021), sebuah kumpulan puisi yang menggugah kesadaran akan ketidakadilan sosial, kekerasan, dan perjuangan identitas di Papua.

Melalui tulisannya, Esther berhasil:

- Mengangkat isu-isu penting seperti hak perempuan, diskriminasi, dan konflik berkepanjangan di Papua.
- Menggunakan sastra sebagai alat advokasi yang menggema hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Karyanya adalah bukti keberanian seorang penulis perempuan Papua untuk bersuara, meskipun menghadapi tantangan besar.

3. Dermakata Award 2024 (Nonfiksi): Murdiono Mokoginta

Murdiono Mokoginta (Dion) menerima penghargaan ini berkat bukunya, Abad Transisi: Bolaang Mongondow dalam Catatan Kolonial Abad XIX-XX (2024).

Baca Juga: Kapolri Ajak Seluruh Pihak Berantas Korupsi demi Selamatkan Penerimaan Negara

Buku ini mengungkap sejarah lokal Bolmong dengan riset yang mendalam dan gaya penulisan yang ringan namun informatif.

Karya Dion berhasil:

- Menghidupkan kembali sejarah Bolaang Mongondow, menyoroti dinamika sosial, budaya, dan politik masa kolonial.
- Membangun fondasi untuk studi sejarah lokal yang relevan bagi generasi masa kini dan mendatang.

Dion membuktikan bahwa narasi sejarah lokal bisa menjadi jembatan untuk memperkuat identitas budaya di tengah arus globalisasi.

Penghargaan ini adalah pengingat akan pentingnya peran sastra dan literasi sebagai sarana untuk melestarikan warisan budaya, memperjuangkan keadilan sosial, dan membangun empati di tengah masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.