Menangkap Peluang Blue Economy di ASEAN untuk Ekonomi Berkelanjutan

AKURAT.CO Ekonomi biru atau blue economy, menjadi paradigma baru dalam pembangunan berkelanjutan yang memanfaatkan sumber daya laut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pertumbuhan ekonomi, dan menjaga lingkungan.
Pada 2030, kontribusi blue economy terhadap ekonomi dunia diproyeksikan mencapai USD3 triliun, serta membuka 43 juta lapangan pekerjaan baru. Sehingga berperan penting dalam mendorong pertumbuhan inklusif di ASEAN.
"Setelah negara-negara ASEAN kian meminati isu ketahanan pangan, netralitas karbon, dan pemberantasan sampah plastik, serta percepatan digitalisasi dan AI, maka kita harus siap menangkap potensi blue economy," kata Head of Nature, Climate and Energy Unit UNDP Indonesia, Aretha Aprilia, di Jakarta, Rabu (12/2/2025).
Baca Juga: Konsultan Hukum PIK 2: Isu Pagar Laut Dipolitisasi, Fakta Sebenarnya Tak Seperti yang Dinarasikan
Untuk itu, UNDP Indonesia menggelar ASEAN Blue Innovation Expo and Business Matching, yang akan mempertemukan berbagai usaha rintisan, pelaku bisnis, investor, perumus kebijakan, dan mitra pembangunan untuk mengeksplorasi inovasi mutakhir di ASEAN dan Timor-Leste.
Mulai dari akuakultur yang didukung teknologi digital hingga bioteknologi, pengganti bahan plastik, serta konservasi karbon biru, ajang ini akan memaparkan sejumlah inisiatif yang mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus melestarikan ekosistem laut dan air tawar.
"Ketika komunitas bisnis global semakin mengutamakan aspek keberlanjutan, potensi ekonomi maritim yang berkelanjutan (blue economy) ASEAN menawarkan peluang baru bagi pelaku bisnis dan investor yang visioner." imbuhnya.
Project Manager ASEAN Blue Economy Innovation (ABEI) UNDP Indonesia, Jatu Arum Sari, menjelaskan ajang ini juga menjadi momen peluncuran Proyek ASEAN Blue Economy Innovation (ABEI) yang digagas UNDP Indonesia, Sekretariat ASEAN dan Misi Tetap Jepang untuk ASEAN, serta mendapatkan pendanaan dari Pemerintah Jepang.
Sejalan dengan "ASEAN Blue Economy Framework" yang diadopsi pada 2023, proyek ini mendorong pemanfaatan sumber daya laut dan air tawar di darat untuk pertumbuhan inklusif di ASEAN dan Timor-Leste.
Baca Juga: Kemenko Polkam Usul Perumusan RUU Keamanan Laut dan Bentuk Sea Coast Guard ke DPR
Saat masyarakat pesisir di ASEAN dan Timor-Leste berhadapan dengan naiknya permukaan air laut, serta aksi penangkapan ikan berlebihan yang mengancam pasokan pangan dunia, solusi inovatif semakin dibutuhkan. Maka, investor dan komunitas bisnis memiliki peluang unik untuk menjadi bagian dari perjalanan transformatif ini.
Ajang yang akan berlangsung pada 19 Februari 2025 di Menara Mandiri, Jakarta ini, akan menampilkan 60 inovasi dari usaha rintisan, UMKM, organisasi nonpemerintah, dan institusi akademik yang dipilih dari sekitar 1.300 aplikasi.
Inovasi tersebut mengembangkan solusi di empat bidang penting, seperti perikanan dan akuakultur berkelanjutan, polusi plastik, isu iklim, dan pariwisata berkelanjutan.
"Selain 60 sesi presentasi, ajang ini juga mencakup sesi bincang-bincang inspiratif dan diskusi panel yang dipimpin investor terkemuka yang telah menghasilkan dampak positif, serta pemimpin bisnis blue economy di negara-negara ASEAN," kata Jatu.
"Peserta acara pun akan memperoleh perspektif seputar sektor yang sangat potensial ini, serta ikut menentukan masa depan ekonomi kelautan dan air tawar yang berkelanjutan di ASEAN," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









