Kekerasan Seksual oleh Oknum Dokter, Pakar UI: Relasi Kuasa Jadi Pemicu Utama

AKURAT.CO Fenomena kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja, bahkan di ruang yang dianggap paling aman sekalipun—seperti ruang praktik seorang dokter.
Pakar Psikologi Klinis Forensik Universitas Indonesia (UI), Kasandra Putranto, menegaskan, latar belakang pelaku kekerasan seksual sangat beragam, mulai dari profesi, pendidikan, hingga status sosial ekonomi.
Namun, satu pola yang sering muncul adalah adanya ketimpangan relasi kuasa antara pelaku dan korban.
“Hampir di semua kasus kekerasan seksual, ditemukan adanya kesenjangan relasi kuasa. Termasuk dalam kasus yang melibatkan oknum dokter. Saat pelaku memiliki posisi yang lebih dominan atas korban, kekerasan seksual sangat mungkin terjadi,” ujar Kasandra saat dihubungi Akurat.co, Sabtu (19/4/2025).
Baca Juga: Quick Count PSU Pilkada Kabupaten Serang: Ratu Rachmatu-Najib Unggul Telak 76,74 Persen
Kasandra menilai, tindakan bejat yang dilakukan oleh oknum dokter seharusnya bisa dicegah sejak awal, yakni melalui proses seleksi yang ketat dan asesmen psikologis yang komprehensif.
Ia menekankan pentingnya pengawasan berkelanjutan dalam praktik medis—mulai dari peningkatan kualitas seleksi tenaga medis, hingga penguatan sistem supervisi dan evaluasi.
“Seleksi tidak hanya soal nilai akademik. Kualitas pelaksana seleksi harus ditingkatkan, dan prosesnya harus profesional, akuntabel, serta transparan,” tegasnya.
Kasandra juga menyarankan penggunaan teknologi sebagai bagian dari pengawasan, seperti pemasangan kamera CCTV di area praktik dokter.
Ia mencontohkan, di beberapa negara seperti Australia, dokter yang bekerja di lingkungan rentan—seperti anak-anak—diwajibkan memiliki izin khusus yang diperbarui setiap tiga bulan.
“Ini bentuk pencegahan yang konkret. Jika diterapkan di Indonesia, bisa menjadi langkah awal untuk menekan risiko kekerasan seksual di fasilitas layanan kesehatan,” tambahnya.
Namun, untuk mengetahui motif atau faktor psikologis dari pelaku, menurut Kasandra, perlu dilakukan pemeriksaan psikologi forensik.
Hal ini penting untuk mengungkap akar perilaku menyimpang serta memastikan pelaku mendapatkan penanganan yang sesuai—selain proses hukum.
Baca Juga: Ketegangan dan Kekerasan di Balik Pungli, Membedah Kasus Penembakan di Bogor
Kasandra pun mengajak masyarakat untuk lebih waspada dan berani bersuara terhadap potensi kekerasan seksual, terutama di ruang-ruang profesional yang selama ini dianggap aman.
“Mari kita tingkatkan kewaspadaan, pengetahuan, dan sistem perlindungan terhadap potensi risiko kekerasan seksual di sekitar kita. Pencegahan harus jadi upaya kolektif,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









