Sejarah Partai Persatuan Pembangunan, Diprakarsai oleh Sejumlah Ulama Besar

AKURAT.CO Partai Persatuan Pembangunan (PPP) lahir pada 5 Januari 1973 sebagai hasil fusi empat partai berbasis Islam: Nahdlatul Ulama (NU), Parmusi, PSII, dan Perti.
Fusi ini diprakarsai tokoh-tokoh penting seperti KH Idham Chalid, Mohammad Syafaat Mintaredja, Anwar Tjokroaminoto, Rusli Halil, dan Mayskur. Sejak awal berdirinya, PPP memposisikan diri sebagai “Rumah Besar Umat Islam”.
Pada awalnya, PPP berasaskan Islam dengan lambang Ka’bah. Namun, pada 1984, partai ini mengubah asasnya menjadi Pancasila karena tekanan politik rezim Orde Baru.
Meski begitu, setelah reformasi 1998 dan runtuhnya kekuasaan Presiden Soeharto, PPP kembali ke asas Islam dan mengembalikan lambang Ka’bah.
PPP tetap menegaskan komitmennya terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan menyeimbangkan antara nilai-nilai keislaman dan semangat kebangsaan.
Baca Juga: Gus Yasin Dukung Agus Suparmanto sebagai Ketum dalam Muktamar PPP
Kepemimpinan PPP dari Masa ke Masa
Ketua umum pertama PPP adalah Mohammad Syafaat Mintaredja (1973–1978). Setelahnya, kursi kepemimpinan diisi oleh tokoh-tokoh seperti Jailani Naro, Ismail Hasan Metareum, dan Hamzah Haz.
Kemudian, Suryadharma Ali memimpin PPP usai Muktamar VI tahun 2007, disusul Romahurmuziy (Gus Romy) pada Muktamar VIII tahun 2016.
Pada Muktamar IX di Makassar, Suharso Monoarfa terpilih sebagai ketua umum, hingga akhirnya digantikan oleh Muhamad Mardiono lewat Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) pada 5 September 2022.
Platform dan Visi Partai
PPP memiliki visi mewujudkan masyarakat bertakwa, adil, makmur, sejahtera, dan demokratis, berdasarkan nilai-nilai Islam dan Pancasila. Platform partai mencakup bidang agama, politik, ekonomi, hukum, sosial, pendidikan, hingga keterampilan.
Di bidang agama, PPP menekankan peran agama sebagai sumber moral publik dan penguatan toleransi antarumat beragama. Dalam politik, partai ini mengedepankan demokrasi yang bermartabat dan menjunjung hak asasi manusia.
Baca Juga: Solidkan Barisan, DPC Solo Raya Dukung Mardiono Jadi Ketum PPP Lagi
Di bidang ekonomi, PPP menitikberatkan pada ekonomi kerakyatan, serta aktif dalam pemberantasan KKN dan reformasi hukum.
Partai ini meyakini bisa bangkit dan meraih kepercayaan publik lewat pendekatan yang inklusif, religius, dan nasionalis.
Sebelumnya, pada masa Suharso Monoarfa, PPP menggulirkan semangat “Merawat Persatuan dengan Pembangunan”—konsep pembangunan berkeadilan demi terwujudnya masyarakat adil makmur dalam semangat Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








