Menkes Targetkan Indonesia Bebas Malaria pada 2030: Fokus Papua dan Kerja Sama Lintas Negara

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia menargetkan eliminasi total malaria di seluruh wilayah Tanah Air pada 2030.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, menyampaikan, hingga pertengahan 2025, Indonesia telah berhasil mencapai status bebas malaria di 476 dari 514 kabupaten/kota atau sekitar 79 persen wilayah nasional.
“Kami bertekad mencapai 100 persen eliminasi di seluruh wilayah Indonesia pada akhir 2030,” kata Budi dalam forum Asia Pacific Leaders Summit on Malaria Elimination ke-9 di Bali, dikutip pada Sabtu (21/6/2025).
Menurut Budi, strategi utama eliminasi malaria terletak pada dua pilar penting: peningkatan deteksi dini dan pemberian obat antimalaria.
Ia menegaskan, jika mengacu pada estimasi WHO yang menyebut ada 1 juta kasus malaria di Indonesia, maka jumlah tes yang dilakukan harus mencapai minimal 8 juta per tahun.
“Itu artinya, jumlah skrining harus ditingkatkan hingga empat kali lipat,” ujarnya.
Baca Juga: Tinjau Lokasi Likuifaksi Purwakarta, Menko PMK Pastikan Relokasi Warga Dipercepat
Tiga Strategi Nasional
Untuk mendukung percepatan eliminasi, Kementerian Kesehatan mengedepankan tiga pendekatan utama:
-
Pencegahan berbasis lingkungan, seperti pengelolaan sumber air dan kebersihan kawasan rawan nyamuk.
-
Distribusi kelambu berinsektisida, yang dilakukan secara rutin ke daerah endemis dengan dukungan Global Fund. Hingga kini, sebanyak 3,3 juta kelambu telah disalurkan ke masyarakat.
-
Inovasi Mass Drug Administration (MDA) atau pemberian obat pencegahan malaria secara massal. Uji coba di dua kota menunjukkan penurunan kasus hingga 50 persen, namun program ini masih dievaluasi dari sisi efisiensi dan biaya.
Di sektor pengobatan, Menkes memastikan ketersediaan layanan kuratif di seluruh fasilitas kesehatan.
Deteksi cepat dan pemberian obat dalam waktu singkat ditegaskan sebagai bagian krusial dari pengendalian wabah.
Budi juga menekankan pentingnya kerja sama lintas negara, terutama dengan Papua Nugini, mengingat wilayah Papua berbagi daratan langsung dengan negara tetangga tersebut.
“Nyamuk tidak mengenal batas administrasi. Karena itu, kerja sama antarnegara menjadi mutlak,” tegasnya.
Baca Juga: Mantan Wakil Ketua KPK Gugat Pasal Korupsi ke MK: Jualan Pecel Lele Bisa Dianggap Korupsi
Dalam forum tersebut, dua komitmen besar berhasil dicapai:
-
Seluruh gubernur di wilayah Papua menandatangani komitmen bersama mengejar target eliminasi malaria pada 2030.
-
Penandatanganan rencana aksi bersama (joint action plan) antara Indonesia dan pemerintah Papua Nugini.
Enam gubernur dari wilayah Papua turut menandatangani kesepakatan dukungan dengan pemerintah pusat.
Dukungan politik dari kepala daerah dinilai menjadi kunci keberhasilan program eliminasi, terutama di wilayah-wilayah dengan angka kasus tinggi.
“Tantangan utama memang ada di Papua. Tapi dengan strategi yang tepat dan dukungan lintas sektor, saya yakin kita bisa mencapainya,” ujar Menkes Budi optimistis.
Meski angka kematian akibat malaria di Indonesia tergolong rendah, sekitar 130 kasus per tahun, penyakit ini tetap menjadi penyebab kematian tertinggi di antara empat penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, yakni demam berdarah, Japanese encephalitis, dan chikungunya.
Budi menegaskan bahwa target WHO untuk eliminasi global malaria pada 2030 hanya bisa tercapai bila semua negara, termasuk Indonesia, bekerja keras hingga wilayah terakhir yang paling sulit sekalipun.
Baca Juga: Empat Pulau di Anambas Dijual Online, Komisi II DPR Akan Panggil Kepala Daerah
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










