Akurat
Pemprov Sumsel

Membangun Resiliensi Hubungan Lintas Keimanan Melalui Penguatan Literasi Digital

Mukodah | 10 Juli 2025, 12:06 WIB
Membangun Resiliensi Hubungan Lintas Keimanan Melalui Penguatan Literasi Digital

AKURAT.CO Terbukanya akses internet membuat anak-anak dan remaja mudah mendapatkan segala informasi.

Walaupun dirasakan banyak manfaatnya, derasnya arus informasi ibarat pedang bermata dua.

Jika gagal dalam mengelola informasi atau berita yang berkembang, dikhawatirkan generasi muda yang relatif lebih rentan mengonsumsi narasi secara mentah akan terjerumus pada tindakan intoleransi dan radikalisme.

Membahas cara menyikapi dampak negatif dari mudahnya mengakses konten digital, akademisi Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Marturia, Yogyakarta, Pendeta Risang Anggoro Elliarso, menyoroti pentingnya memahami cara kerja algoritma konten digital.

Baca Juga: Kementerian HAM Harus Berlaku Adil Tangani Kasus Intoleransi

Menurutnya, media sosial seperti Facebook, Youtube, Tiktok, Instagram dan lain sebagainya memiliki algoritma yang didesain untuk membantu penggunanya mendapatkan konten yang sesuai dengan preferensinya.

Pada dasarnya, ide ini memang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan si pencari informasi. Namun, belakangan mulai disadari bahwa algoritma ini juga menciptakan apa yang disebut sebagai echo chamber effect.

"Hal ini berarti bahwa orang hanya terpapar konten-konten yang sesuai dengan apa yang mereka sukai dan hal ini memainkan peran besar sehingga keyakinan apapun yang awalnya telah terbentuk menjadi semakin kuat. Akibatnya, mereka merasa bahwa pemikiran, perasaan dan apa yang mereka pahami adalah yang paling valid dan benar. Padahal, di luar sana ada banyak pemikiran dan pandangan lain. Namun, karena echo chamber effect yang didorong oleh algoritma ini sangat kuat, narasi yang berbeda sebagai pembanding sulit untuk ditemui," jelas Pendeta Risang, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (10/7/2025).

Ia berpendapat, sebagai upaya meminimalisasi dampak negatif dari sebaran konten digital, ada tiga hal yang perlu dipahami oleh masyarakat luas.

Baca Juga: Menteri HAM Tampar Pernyataan Staf Khusus: Tolak Penangguhan Penahanan Pelaku Intoleransi Sukabumi

Pertama, adalah digital wisdom atau kearifan digital. Pengguna internet seringkali hanya memahami sampai pada literasi digital yang paling dasar. Publik harus bisa naik level sampai kecerdasan digital, bahkan kearifan digital agar penggunaan dunia digital membawa kemaslahatan bagi bangsa dan kemanusiaan.

Kedua, terkait cyber hate, masyarakat luas perlu mengembangkan critical thinking bagi generasi muda.

Dalam piramida penalaran, intuitive thinking itu paling rendah, hanya mengenali atau menghafal informasi.

Di atasnya ada analytical thinking, yaitu membedah unsur informasi dan validitasnya. Namun, itu belum cukup.

Baca Juga: Hotman Paris Geram: Menteri HAM Jangan Lindungi Pelaku Intoleransi Sukabumi

Publik Indonesia harus naik ke critical thinking, di mana bisa mempertanyakan informasi, mengidentifikasi misinformasi, disinformasi atau malinformasi. Perlu naik level karena saat ini sering kewalahan oleh arus informasi yang sangat deras.

"Ketiga, kita juga butuh metacognition, yaitu kesadaran akan proses berpikir dan perasaan kita saat menerima informasi digital, terutama di media sosial. Misalnya, kita perlu sadar ketika marah, jengkel, atau tertarik pada suatu informasi, lalu bertanya kenapa kita merasakan itu, dan meregulasi respons kita terhadapnya. Ini bagian dari critical thinking dan digital wisdom," kata Pendeta Risang.

Dia juga menyayangkan perihal kerusuhan yang terjadi saat retret sekelompok pelajar Kristiani di Cidahu, Sukabumi.

Pendeta Risang berpendapat bahwa kejadian tersebut menunjukkan pentingnya Indonesia untuk tidak hanya bisa bertoleransi, namun juga melangkah jauh untuk melampaui toleransi itu sendiri.

Baca Juga: KemenHAM Jadi Penjamin Pelaku Intoleransi Sukabumi, DPR: Tidak Sejalan dengan Semangat Presiden Prabowo

Pendeta Risang, yang aktif bertugas di GKJ Condongcatur, menjelaskan, toleransi itu penting tetapi punya batasan.

Menurutnya, saat ini toleransi baru sebatas "saya menolerir keberadaan Anda, sejauh Anda tidak mengganggu dan bukan ancaman bagi saya."

Selama tidak saling bersinggungan, tidak masalah. Namun, dalam kenyataan hidup, sesama manusia pasti bersentuhan dan bersinggungan sehingga konflik kepentingan bisa muncul kapan dan dimana saja.

"Oleh karena itu, kita perlu melangkah lebih jauh, yakni menuju persahabatan. Persahabatan di mana umat dari agama lain kita sambut sebagai sahabat, bukan sekadar ditolerir atau dibiarkan. Keberadaan mereka dan aktivitas ibadah mereka harus didukung karena dari situ kita bisa belajar akan pentingnya kebersamaan dalam keberagaman," ungkap dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Baca Juga: Menjaga Integritas Ulama untuk Melawan Intoleransi dan Radikalisme Atas Nama Agama

Pendeta Risang mengimbau pada umat Kristiani untuk menghindarkan perasaan sebagai korban atau victim mentality, yang justru hanya akan memperkeruh suasana dan memperkeras batas in group dan out group.

Dirinya pun secara aktif ikut memberikan kontranarasi bahwa fenomena serupa juga terjadi di tempat lain, misalnya di Manokwari, Papua, ada penolakan pembangunan masjid. Ini menandakan bahwa Indonesia punya masalah yang serius dalam merespons perbedaan dari berbagai tradisi dan keimanan.

"Kita harus bisa mengantisipasi potensi tindak intoleransi melalui hubungan persahabatan lintas budaya dan keimanan. Misalnya, di Sangen, lereng Gunung Merapi, ketika gereja dibangun, seluruh penduduk kampung yang Islam dan kejawen membantu. Begitu ada pembangunan masjid, semua juga membantu. Saat Natal, satu kampung ikut merayakan, begitu juga saat syukuran. Kita perlu mengarah ke situasi seperti itu," jelasnya.

"Teman-teman pendidik, orang tua dan banyak pihak lainnya harus bekerja keras mengembangkan kemampuan literasi digital para generasi muda Indonesia. Selain itu, penting pula menjalin hubungan erat secara horizontal sehingga Indonesia tidak mudah dipecah belah," demikian Pendeta Risang.

Baca Juga: Hari Santri Nasional Momentum bagi Santri Proaktif Lawan Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK