Akurat
Pemprov Sumsel

Gibran Minta Hapuskan Ego Sektoral: Negara Tak Bisa Tumbuh Jika Tidak Kondusif

Ahada Ramadhana | 14 Juli 2025, 23:57 WIB
Gibran Minta Hapuskan Ego Sektoral: Negara Tak Bisa Tumbuh Jika Tidak Kondusif

AKURAT.CO Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, menyampaikan bahwa pimpinan birokrasi, militer, dan sipil perlu memiliki kesamaan arah dalam menyukseskan agenda strategis nasional, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Dia menekankan pentingnya kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis realitas lapangan dalam menghadapi tantangan geopolitik global, perubahan iklim, serta disrupsi teknologi. 

"Kita harus satu visi, satu tujuan, satu komando mewujudkan visi, misi, program dari Bapak Presiden," ujarnya saat memberikan pembekalan kepada 100 Peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV dan 110 Peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII, di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (14/7/2025).

Baca Juga: Ditugaskan Mengurus Papua, Peluang Wapres Gibran Buktikan Kapasitasnya

Dia mengingatkan bahwa hambatan pelaksanaan kebijakan sering muncul akibat ego sektoral, sehingga kolaborasi antar sektor harus diperkuat.

"Kita harus bekerja sama. Hilangkan ego sektoral atau merasa paling hebat sendiri. Kita harus menjaga situasi tetap kondusif. Tidak ada negara yang bisa tumbuh dalam keadaan tidak stabil atau tidak kondusif," ucapnya.

Dia mencontohkan keberhasilan agenda ketahanan pangan yang melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara RI (Polri). Dia menyebutkan bahwa panen tebu dan jagung beberapa waktu terakhir turut diamankan langsung oleh Panglima TNI dan Kapolri. 

Dia pun mengajak para pemimpin untuk aktif turun langsung ke lapangan. Menurutnya, kunjungan tersebut tidak semata untuk eksposur media, tetapi menjadi bentuk kepedulian dan empati nyata terhadap masyarakat.

"Turun ke lapangan itu bukan pencitraan atau mencari eksposur. Tidak. Dialog langsung dengan warga, dialog langsung dengan pelaku UMKM, dialog langsung dengan petani, itu penting sekali," ujarnya. 

Gibran juga menyoroti pentingnya hilirisasi industri, kemandirian energi dan pangan, serta penguatan sumber daya manusia (SDM), sebagai langkah strategis menuju Indonesia Emas 2045 yang selaras dengan visi besar Prabowo-Gibran.

Pada aspek hilirisasi, dia menilai hal ini memegang peran penting untuk memberikan nilai tambah pada produk Indonesia, baik di dalam negeri maupun di mancanegara. 

Baca Juga: Gibran Urus Papua Jadi Bukti Keseriusan Pemerintah dalam Percepatan Pembangunan

"Hilirisasi, itu penting sekali. Kita tidak boleh lagi mengirim barang mentah, kita harus mengejar nilai tambah dari kegiatan-kegiatan downstreaming ini. Kalau enggak, ya, kita selamanya akan diremehkan negara-negara lain. Ini kebetulan ada teman-teman dari negara lain juga," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wapres menekankan bahwa potensi bonus demografi harus dijawab dengan program konkret, seperti Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih, serta pengembangan kendaraan listrik nasional.

"Anak-anak muda usia produktif. Nah, ini yang harus kita dorong terus. R&D (research and development) penting, tapi R&D yang harus di-follow up dan bisa memberikan multiplier effect yang baik ke masyarakat," jelas Wapres.

Dia juga menekankan bahwa program-program, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), dan revitalisasi pendidikan dasar melalui kurikulum artificial intelligence dan coding sejak dini, merupakan investasi jangka panjang yang mendukung daya saing bangsa, serta langsung menyentuh kebutuhan rakyat.

"Kalau di negara-negara lain, ada krisis populasi, ada fenomena aging population, seperti Jepang, Korsel. Kita harus bersyukur ini, kita sedang mendapatkan bonus demografi. Jadi, kita mengubah future challenge menjadi future opportunity," imbuhnya.

Dia pun mengajak seluruh peserta dan pemimpin birokrasi, untuk menjadi agen perubahan yang mampu menjaga stabilitas dan mendorong akselerasi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas.

"Saya yakin Bapak-Ibu semua adalah pemimpin yang berdedikasi, yang mampu membawa Indonesia menjadi negara maju dan meraih Indonesia Emas. Mari bersama kita bersatu membangun bangsa yang kita cintai ini," pungkasnya.

Baca Juga: Dorong Kain Lurik Mendunia, Gibran Gandeng Anak Muda Ciptakan Desain Kekinian

Sebelumnya, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Tubagus Ace Hasan Syadzily, menyatakan bahwa P3N dan P4N merupakan transformasi dari program pendidikan kepemimpinan nasional yang sudah ada. P3N semula dikenal sebagai Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA), sedangkan P4N merupakan pengembangan dari Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA).

Dia juga melaporkan bahwa Lemhannas telah melakukan penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran, termasuk penyederhanaan durasi pendidikan serta penerapan metode hibrida yang lebih interaktif dan aplikatif.

"Perubahan ini tentu dimaksudkan untuk meningkatkan fleksibilitas tanpa mengurangi kedalaman materi yang menjadi kekuatan utama dalam pendidikan di Lemhannas, dalam mencetak dan mempersiapkan pimpinan nasional di bidang ketahanan nasional, geopolitik, dan geostrategi," ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.