Tolak Rencana Syuriyah PBNU tentang Percepatan Muktamar, Kubu Gus Yahya Tegaskan Muktamar Tetap Digelar pada 2027

AKURAT.CO Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kubu Yahya Cholil Staquf menegaskan menolak percepatan muktamar sebagai jalan keluar konflik dualisme kepengurusan yang tengah berlangsung di tubuh organisasi.
Jajaran tanfidziyah yang mendukung Yahya sepakat bahwa muktamar tetap digelar sesuai jadwal, yakni Januari 2027.
Sekretaris Jenderal PBNU Amin Said Husni menyatakan bahwa percepatan muktamar tidak diperlukan karena masa menuju forum permusyawaratan tertinggi NU itu sudah dekat.
“Satu tahun itu enggak lama,” ujarnya kepada wartawan di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa, 2 Desember 2025.
Ia menambahkan pihaknya tetap mendorong upaya islah sebagai penyelesaian perbedaan internal.
Muktamar merupakan forum lima tahunan tempat pergantian pimpinan tertinggi PBNU. Forum ini terakhir digelar pada Desember 2021. Amin berharap jajaran Syuriyah dapat menerima usulan rekonsiliasi.
Baca Juga: PWNU DKI Pilih Diam di Tengah Rencana Muktamar PBNU Usai Pemecatan Gus Yahya
“Kami ingin kegaduhan ini semua menyatu kembali dan menyiapkan muktamar dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Di sisi lain, Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar sebelumnya menyatakan akan menggelar rapat pleno atau muktamar dalam waktu dekat.
Langkah tersebut, menurutnya, diperlukan untuk menormalisasi roda organisasi pasca pemecatan Yahya dari jabatan Ketua Umum PBNU melalui Surat Edaran Nomor: 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025.
“Kami ingin transisi berjalan tertib, sesuai aturan jam’iyah,” ujar Miftachul dalam keterangan tertulis, Sabtu, 29 November 2025.
Surat edaran itu menetapkan bahwa per 26 November 2025, Yahya tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum. Miftachul mengambil alih kepemimpinan untuk sementara waktu.
Namun Yahya menyatakan menolak keputusan Syuriyah tersebut dan menyebut bahwa pemberhentian dirinya hanya dapat dilakukan melalui forum muktamar.
Baca Juga: Gus Yahya Surati Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Begini Inti Pesan Suratnya
Ia juga menolak wacana percepatan muktamar, sehingga perbedaan posisi antara kubu tanfidziyah dan Syuriyah masih berlanjut hingga kini.
Konflik mengenai waktu pelaksanaan muktamar menjadi fokus utama dalam perselisihan internal PBNU yang terus berlangsung sejak keputusan pemecatan tersebut. Hingga saat ini belum ada kesepakatan final tentang mekanisme penyelesaian dualisme kepemimpinan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









